Beraktivitas di manapun pada dasarnya manusia butuh sense ‘tenang dan aman’.
Ada kalanya hidup bukan tentang uang banyak melimpah, tapi bisa pulang ke rumah lihat keluarga bahagia, bermanfaat bagi orang sekitar, dan cukup kebutuhan hidupnya.
In the end, ibu itu bilang…
Singapore’s Foreign Minister, Dr Balakrishnan casually explaining how he built his own AI agent (a 2nd brain for diplomacy) using Claude & WhatsApp integration etc. on a Raspberry Pi
“You cannot govern a technology you have only been briefed on.” 🇸🇬
Pak @zanatul_91, setuju soal risiko privasi data anak dan pentingnya regulasi ketat, itu isu serius
Tapi soal "Google jadi penguasa tunggal" agak selektif. Microsoft/Windows sudah puluhan tahun mendominasi lab komputer sekolah, perkantoran pemerintah, dan pendidikan Indonesia (Windows ~75-80% desktop OS). Dulu jarang ada yang teriak soal data mining atau ketergantungan.
Google/Chromebook justru bawa kompetisi dan keseimbangan di pasar: lebih murah, cloud-based, etc. Terlepas dari keterbatasan internet di Indonesia, secara global, Chrome OS kuasai ~60% perangkat pendidikan karena alasan ini
Lebih baik kita dorong regulasi data kuat + diversifikasi vendor, bukan cuma sorot yang baru masuk
https://t.co/sdniOnASkk
2 Dissenting Opinion dalam penjatuhan vonis Ibrahim Arief yang menyatakan seharusnya terdakwa bebas murni SANGAT JARANG terjadi dalam kasus Tindak Pidana Korupsi.
Setelah saya mendengarkan langsung di ruang persidangan terkait dissenting opinion dari hakim yang dapat juga dilihat di https://t.co/HjovtkiVE8, setidak-tidaknya ada 1 pernyataan dari hakim yang menunjukkan ketajaman intuisi dari 2 hakim yang memiliki dissenting opinion, yakni terkait dengan “memidanakan orang yang tidak bersalah”.
Dissenting opinion tersebut bukan hanya berisikan opini pendek menggunakan paradigma ex-post yang berfokus dengan pemenuhan unsur-unsur yang patutnya ditafsirkan secara ketat (bukan secara luas seperti 3 hakim lain), namun juga paradigma ex-ante yang mempertimbangkan konsekuensi dari memidana orang yang tidak bersalah di masa depan.
Apa yang ditekankan oleh Hakim Andi Saputra dan Hakim Eryusman terkait dengan memenjarakan orang yang tidak bersalah ini bahkan kurang mendapatkan perhatian dari ahli-ahli yang dihadirkan di persidangan.
Mereka mengutip pendapat dari William Blackstone hingga John Fortescue terkait dengan lebih baik membebaskan orang jahat daripada memidana orang yang tidak bersalah.
Dalam studi hukum kontemporer, apa yang dikhawatirkan oleh Blackstone dan dikutip oleh hakim Andi Saputra dan Eryusman adalah apa yang dikenal sebagai Type-II errors (memenjarakan orang tidak bersalah).
Ini adalah salah satu fokus dalam artikel yang ditulis oleh Mitchell Polinsky dan Steven Shavell dalam The Economic Analysis of Public Enforcement of Law yang saya dan rekan saya Dr. Giovanni Christy (@gvnchrsty) kutip dalam artikel kami di The Jakarta Post: How Obscure Interpretation of State Losses Fuels Capital Flight.
Yang menjadi persoalan dari memenjarakan orang tidak bersalah sebagaimana dijelaskan oleh Polinsky dan Shavell adalah "turunnya perbedaaan ongkos antara melakukan kejahatan dengan tidak melakukan kejahatan".
Dengan kata lain, apabila hukum pidana memenjarakan orang yang tidak bersalah, maka tidak ada gunanya menjadi warga yang baik dan mematuhi hukum. Hukum pidana akan kehilangan fungsi efek jera atau efek pencegahannya (deterrent effect) karena hukum tidak lagi akan dipercayai oleh masyarakat.
Yang jadi persoalan adalah kesalahan tipe-II ini sudah berulang-ulang kali terjadi, tampaknya akan terus terjadi, dan dalam jangka pendek hanya akan bisa dihentikan dengan memberikan grasi, amnesti, rehabilitasi maupun abolisi dari Presiden Prabowo.
Pendapat Hakim Eryusman maupun Hakim Andi Saputra yang ditulis runut tetap kalah dibandingkan argumen buruk dan busuk 3 hakim lain yang menutup mata dari fakta yang dipertunjukkan dengan terang di ruang persidangan.
Argumen buruk dan busuk dari 3 hakim yang mana salah satunya adalah Hakim Purwanto Abdullah yang turut memvonis bersalah Tom Lembong dengan alasan pemberat mengedepankan ekonomi kapitalisme.
Sebuah putusan serupa yang miskin dengan argumen, logika dan tidak sesuai dengan fakta persidangan.
Besar harapan saya agar mas Ibam dan keluarga menemukan keadilan dalam waktu dekat sehingga bebas dari jeratan pidana yang dibuat-buat dan hanya merusak tatanan hukum kita yang sudah busuk dan terus membusuk.
Guys, Felix Siauw baru ngomong sesuatu di podcast Helmy Yahya yang menurut gue paling jujur dan paling berani dari seorang ustaz Indonesia dalam waktu lama.
Dan intinya satu kalimat yang langsung dilontarkan:
"Orang Indonesia tidak pernah menjadi Islam."
Bukan karena KTP-nya.
Tapi karena cara berpikirnya.
Masalah pertama
kita salah paham soal tawakal:
Felix kasih contoh yang sangat konkret.
Ada pesantren roboh.
Respons orang Indonesia:
"Qadarullah, ini takdir Allah."
Felix langsung potong:
itu bukan tawakal.
Itu kebodohan yang dibungkus agama.
Karena setiap insinyur teknik sipil yang melihat bangunan tiga lantai dengan pondasi yang salah sudah bisa prediksi itu akan roboh.
Tidak perlu menunggu roboh untuk tahu.
Dan kalau kita sudah tahu sebabnya tapi tidak dikerjakan lalu ketika roboh bilang qadarullah itu bukan pasrah pada Allah.
Itu menyalahkan Allah atas kelalaian kita sendiri.
Rasulullah memakai baju besi
dua lapis di medan perang.
Seorang sahabat tanya kenapa.
Jawabannya sederhana:
karena sebab akibat adalah bentuk tawakal yang sesungguhnya.
Bekerja sekeras mungkin baru serahkan hasilnya.
Masalah kedua
"enggak apa-apa mereka ambil dunia,
yang penting kita akhirat"
Felix bilang dia ingin kritik keras kalimat ini.
Karena logikanya terbalik total.
Cara masuk surga menurut ulama ada empat:
dengan ilmu,
dengan kekuatan,
dengan harta,
atau dengan doa.
Kalau kamu tidak punya ilmu,
tidak punya kekuatan,
tidak punya harta kamu hanya tersisa doa.
Dan kalau kamu bilang "yang penting akhirat" sambil tidak mengerjakan satu pun dari empat jalan itu dengan serius kamu sedang tidak mengejar akhirat.
Kamu sedang memakai akhirat sebagai alasan untuk tidak berusaha.
Rasulullah miskin bukan karena tidak bisa kaya.
Beliau miskin karena memilih memberi semua yang dimiliki kepada yang membutuhkan.
Miskin by choice bukan miskin karena tidak punya pilihan.
"Kalau dunia aja kamu enggak bisa nguasain,
jangan ngomong akhirat.
Akhirat itu lebih susah dari dunia."
Masalah ketiga
tidak ada critical thinking:
Ini yang paling mendasar dan paling merusak menurut Felix.
Ayat pertama yang turun kepada Rasulullah adalah iqra baca, berpikir, analisa.
Di saat itu bahkan tidak ada buku.
Tidak ada perpustakaan.
Artinya perintah iqra bukan sekadar membaca teks tapi perintah untuk berpikir kritis terhadap segala sesuatu.
Tapi apa yang terjadi di Indonesia?
Pertanyaan dibungkam.
Otoritas tidak boleh diganggu gugat.
Santri yang dilecehkan menerima
karena percaya itu "ritual penyucian."
Orang tua yang anaknya diperlakukan tidak wajar diam karena takut melawan ulama.
Felix bilang ini adalah abuse of authority yang masif dan akarnya adalah ketidakmampuan berpikir kritis yang sudah ditanamkan sejak kecil.
Padahal bahkan Rasulullah sendiri melatih sahabat untuk tidak buta taat.
Ada sahabat yang diperintahkan pemimpinnya masuk ke dalam api sebagai hukuman.
Mereka ragu dan datang bertanya ke Rasulullah.
Jawaban Rasulullah:
"Untung kalian tanya aku.
Kalau kalian masuk,
kalian tidak akan keluar selamanya."
Dari situ keluar hadis:
taatlah kepada makhluk selama tidak bermaksiat kepada Allah.
Artinya Islam dari awal mengajarkan untuk mempertanyakan bahkan otoritas.
Masalah keempat faktor struktural yang sering dilupakan:
Felix tidak hanya menyalahkan internal.
Ada faktor eksternal yang sangat besar yang tidak boleh diabaikan.
Di zaman kolonial Belanda,
ada sistem pembagian kelas berdasarkan akta kelahiran STBL.
Kelas pertama orang Eropa.
Kelas kedua orang Arab, India, Cina.
Kelas ketiga pribumi dan pribumi Muslim ada di posisi paling bawah.
Akta kelahiran itu menentukan siapa yang boleh sekolah di mana, siapa yang boleh masuk restoran mana, siapa yang boleh masuk pemerintahan.
Bukan soal kemampuan tapi soal sistem yang dirancang untuk memastikan satu kelompok tidak bisa mengakses kekayaan dan pengetahuan.
Itulah mengapa sampai hari ini di daftar orang terkaya Indonesia dan dunia dominasi Muslim sangat kecil dibandingkan populasinya.
Ini bukan semata karena etos kerja.
Ini juga karena sistem yang dibangun ratusan tahun untuk menutup akses.
Korelasi yang menarik antara keyakinan dan peradaban:
Felix membawa temuan arkeologi di Gobeklitepe, Turki bangunan berusia 11.000 tahun yang mendahului rumah dan ladang pertanian.
Para arkeolog menyimpulkan bahwa manusia tidak membangun keyakinan setelah perutnya kenyang.
Justru sebaliknya keyakinan dibangun dulu,
baru peradaban lain mengikuti.
Ini membalik teori lama bahwa agama
adalah produk kemakmuran.
Ternyata keyakinan adalah fondasinya.
Tapi ada yang salah kaprah.
Felix memisahkan dengan jelas:
bukan agamanya yang menentukan maju atau mundur suatu bangsa tapi kepedulian.
Romawi maju bukan karena agama tertentu tapi karena mereka peduli pada kotanya,
pada infrastrukturnya, pada warganya.
Ketika kepedulian itu hilang Romawi hancur.
Bukan karena Tuhannya berubah.
Felix menyimpulkan dengan satu pertanyaan keras yang ditujukan kepada dirinya sendiri dan seluruh ulama Indonesia:
"Rasulullah bilang ilmu dicabut dengan wafatnya para ulama. Ketika ulama pergi tanpa meninggalkan warisan berpikir yang benar yang terpilih adalah pemimpin-pemimpin bodoh.
Dan pemimpin bodoh membuat kebijakan bodoh yang menghancurkan umatnya."
Artinya yang paling bertanggung jawab atas kondisi umat bukan politisinya. Bukan penjajahnya. Tapi mereka yang seharusnya mendidik cara berpikir dan memilih untuk tidak melakukannya.
⚠️ Disclaimer: Berdasarkan podcast Helmy Yahya bersama Felix Siauw. Semua pandangan adalah pendapat pribadi narasumber dalam konteks diskusi keagamaan dan peradaban. Pembaca dianjurkan untuk memverifikasi referensi sejarah dan hadis dari sumber primer.
Eksplorasi Chromebook dilakukan dalam DUA konteks berbeda, di tempus yang beda. Satu, eksplorasi AKM. Kedua, eksplorasi pengadaan.
Ibam memang bilang “prefer Chromebook”, tapi itu untuk konteks AKM, bukan pengadaan. Bisa dicek sendiri tanggalnya.
Tidak ada yg aneh dan janggal dari Final Cerdas Cermat Empat Pilar 2026 tersebut. That’s our country’s work.
Allah sedang memperlihatkan kepada kita dengan pola yg lebih sederhana saja.
Besok, apapun keputusan dari Majelis Hakim, akan menentukan masa depan keluarga kami. Masa depan saya sebagai seorang istri bersama kedua anak kami.
Sebelum keputusan besok, perkenankan saya membagikan setidaknya dua fakta yang sudah terungkap di persidangan.
Satu fakta dari sidang bulan lalu, kesaksian di bawah sumpah bahwa aplikasi superapp tidak pernah dirancang atau diarahkan untuk hanya bisa jalan di Chromebook.
Saksi juga menyatakan, tujuan dari superapp ini adalah melayani sebanyak mungkin guru dan murid, jadi bisa jalan di Windows juga.
Sorry, Bud. Ini keliru. Sebagai orang yang ngikutin proses kasus Chromebook dari awal, setidak-tidaknya ada 3 hal yang bisa gw bantu jelaskan untuk membuat terang.
Pertama, narasi pengabdian tidak pernah muncul duluan dari Ibam. Secara kronologis, framing Ibam menerima gaji Rp163juta/bulan dari Yayasan PSPKI seakan-akan ini untuk memuluskan project pengadaan Chromebook muncul duluan.
Padahal kenyataannya Ibam turun gaji saat ingin berkontribusi lewat PSPKI, dan terbukti pula di pengadilan kalau Yayasan PSPKI menggaji Ibam dari donor yang tidak ada sangkut pautnya dengan pengadaan Chromebook.
Ini lah yang membuat narasi white savior tampaknya seakan-akan muncul duluan dari Ibam. Padahal ini adalah fakta persidangan yang terungkap begitu saja.
Kedua, karena gagal membuktikan gaji Ibam itu bukan uang haram yang didapatkan dari pengadaan Chromebook, sangat patut diduga kalau JPU menggeser fokus dengan memaksakan ESOP Ibam di BukaLapak yang sempat naik ke angka Rp16,9 Miliar.
Padahal harga saham setinggi itu bukan realized gain, karena saham tersebut tidak bisa dijual karena masih dalam locked-up period saat IPO (Penawaran Saham Perdana).
Mas Ibam dalam podcast di Ngomongin Uang sebenarnya sempat sebut kalau dia salah satu nyangkuter juga. Realized gain-nya sangat jauh dari angka Rp16,9 Miliar.
Ketiga, persoalan gaji maupun ESOP Ibam bukan lagi fokus pada fakta hukum di persidangan, karena baik gaji maupun ESOP Ibam tersebut adalah penghasilan yang sah atau halal (lawful enrichment), bukan memperkaya diri sendiri secara melawan hukum (illicit enrichment).
Terungkap di persidangan kalau aliran dana korupsi pengadaan malah mengalir pada saksi yang seharusnya itu jadi tersangka. Semua orang yang mempelajari hukum pidana seharusnya tahu kalau pengembalian uang hasil kejahatan tidak menghapus pidana, terkecuali Fajar Trio.
Ironinya, malah yang dipermainkan itu adalah amarah masyarakat akan kegagalan sistem ekonomi kita yang menciptakan problem ketimpangan. Saya yakin kita semua bisa setuju kalau sistem ekonomi kita saat ini masih belum bisa menyejahterakan banyak orang.
Tapi melempar kemarahan ini ke mas Ibam keliru, karena dia bukan pejabat eselon kementerian, menteri, ataupun Presiden yang mempunyai kekuatan/wewenang untuk mengambil keputusan.
Mas Ibam hanya seorang konsultan.
Kita harus adil sejak dalam pikiran kalau mas Ibam juga merupakan korban dari kegagalan sistem yang ada.
Setidak-tidaknya tidak berlebihan untuk bilang mas Ibam adalah korban dari kegagalan sistem hukum yang sudah busuk dan masih terus membusuk.
Di pabrik tempatku kerja dulu tuh ada aturan, kalo pulang kerja id card gaboleh dilepas sebelum sampe rumah. Biar kalo ada kejadian kaya gini gampang hubunginnya. Kecelakaan berangkat-pulang kerja masuk ke dalam kecelakaan kerja. Kecuali mereka melipir ke mall/tempat lain.
Singapore’s AI obsession just hit Everest peak.
The Foreign Minister is self-hosting Claude on a Raspberry Pi and building a diplomatic knowledge graph using Karpathy’s LLM Wiki pattern. Wahlao!
SG devs, the minister is coming for your job. And he’s not even using Cursor — he’s on NanoClaw running locally. Can someone git pull his code and give it a test.
Only bad thing? He dropped this on Facebook instead of X. Minister, we need to talk.
https://t.co/JzU3ZeBdPz
Ini Ibam, bicara sendiri agar Ririe terlindungi.
Betul, ketika belum jadi tersangka, saya dapat ancaman: buat pernyataan "mengarah ke atas" kalau tidak kasusnya "akan diperluas".
Saya tolak, ngga mau bohong & zalim.
Tiga minggu kemudian, saya jadi tersangka.
Saya tolak bukan untuk lindungi Nadiem, tapi karena memang ngga pernah ada arahan dari Nadiem ke saya agar pengadaannya jadi Chromebook semua.
Seperti yang terungkap dari 22x sidang, tidak ada sama sekali arahan dari atas seperti itu. Saya hanya diminta memberi masukan netral dan objektif sebagai konsultan.
Artinya, ketika menerima ancaman tersebut saya dihadapkan ke dua pilihan:
Berbohong mengarang cerita menuduh orang lain untuk menyelamatkan diri sendiri.
Atau, berpegang kepada integritas, kejujuran, dan kebenaran yang saya yakini, dan menolak untuk berbohong.
Dengan shalat istikharah dan kesadaran penuh akan risikonya, saya memilih jalan yang kedua: kejujuran.
Insya Allah selalu berpegang pada kejujuran akan berujung pada kebaikan untuk saya, Ririe, dan keluarga kecil kami. Kalau tidak di dunia, maka di akhirat kelak.
Lalu jawabannya apa ketika saya menolak untuk berbohong? "Oke, kami perluas.”
Saya tidak berdaya. Ya Allah, apa lagi yang bisa kami lakukan ketika dihadapkan pada pilihan seperti itu? Pegangan kami hanya prinsip integritas dan kejujuran.
Ketika konsekuensinya beberapa minggu kemudian saya dinyatakan tersangka, kami hanya bisa memperbanyak istighfar dan ikhtiar.
Kami jalani dan hormati proses hukum yang ada dengan tabah, kami berniat jelaskan di persidangan fakta-fakta yang membuat terang, kami masih percaya dengan hukum Indonesia.
Mungkin ngga banyak yang tahu, tapi Ririe istri saya adalah seorang sarjana dan magister hukum. Di Belanda dulu kami banting tulang nabung dan berhemat banyak, supaya bisa bayar uang kuliah S2 Ririe.
Dari Ririe, saya belajar banyak tentang hukum Indonesia, apa saja yang mungkin terjadi, dan bagaimana hukum kita tetap memungkinkan pembelaan yang efektif.
Baik, mari berjuang di persidangan, luruskan seluruh tuduhan. Satu persatu fakta di persidangan muncul dengan terang benderang, satu persatu tuduhan bisa kami bantah.
Sampai akhir rangkaian sidang, 57 orang saksi dihadirkan, tidak ada bukti saya menerima keuntungan dari perkara ini, tidak ada bukti masukan saya karena konflik kepentingan, tidak ada bukti saya mengarahkan.
Yang terungkap malah saya sebagai konsultan sudah menyarankan Chromebook diuji dulu, pejabat menolak pengujian dan memutus Chromebook, nama saya dicatut di SK, masukan saya dipelintir.
Kami merasa pembelaan hukum kami sudah maksimal, kebenaran sudah terungkap, tinggal menumpu harapan pada keadilan dan kebijaksanaan dari majelis hakim yang mulia, yang kami merasa sudah sangat objektif dan penuh kearifan sepanjang persidangan.
Namun, ketika JPU menyebutkan tuntutan 15 tahun penjara, denda Rp1 miliar, uang pengganti Rp16,9 miliar subsider 7,5 tahun penjara tambahan...
Ini titik kezaliman yang sangat terang benderang, tekanan kepentingan yang sangat kentara, saya memutuskan pembelaan saya tidak lagi bisa hanya di persidangan.
Besok saya akan sidang pembelaan (pleidoi) dan kami bersurat kepada Presiden @prabowo Subianto serta @KomisiIII DPR, untuk memohon perlindungan hukum dari kriminalisasi, ketidakadilan, intimidasi, serta pengkambinghitaman yang sudah sekentara ini.
Kami takut untuk bicara? Takut ada intimidasi lain? Itu risiko yang jelas, tapi kami tidak gentar. Tuntutan 22,5 tahun dan belasan miliar yang tidak mampu kami bayar mungkin dianggap akan membuat kami terdiam, tapi kami malah semakin berani untuk melawan kriminalisasi ini.
Mohon bantuan, dukungan, dan perlindungannya dari masyarakat Indonesia, dari pekerja kreatif dan pekerja pengetahuan, serta dari semua yang ingin bantu negara atau takut dizalimi negara.
Kami berjuang bukan untuk kami sendiri, tapi agar tidak ada lagi kriminalisasi dan ketakutan bagi mereka yang tulus mau bantu Indonesia. Kami masih percaya Indonesia bisa menjaga dan menghadirkan keadilan dalam kasus kami.
80 Tahun Indonesia merdeka, selama itu punya menteri kesehatan selalu dokter tapi baru punya gebrakan besar setelah menkesnya lulusan Teknik.
Harusnya jadi evaluasi dan muhasabah dokter-dokter sih wkwkwk.
Btw ini cerdas banget komunikasinya pake analogi nilai A-D.
Gw bukan Ibam dan ga tau isi kepala dia, tapi gw mau coba share beberapa sudut pandang untuk kepercayaan gw ini:
Ibam bener2 punya intensi mulia untuk dunia pendidikan Indonesia.
-> lanjut