@keluhkesahkonoh Kalo di jurusan pendidikan ada namanya ilmu pedagogi yaitu ilmu tentang cara mengajar dan mendidik peserta didik/siswa.
Ada juga yang disebut andragogi, yaitu ilmu tentang dan mendidik dan mengajar orang dewasa, dan ini biasanya di pelajari di jurusan pendidikan nonformal
Ada seorang bapak anak 3. Hidupnya luntang-lantung. Kerja serabutan. Anaknya kelas 1 sma.
Si bapak saya ajak kerja. Hasilnya cukup untuk makan keluarganya dan sekolah anak2.
Hanya tahan 2 hari. Alasannya: cuaca panas.
Si anak terancam putus sekolah.
Saya kehabisan kata-kata.
aku pernah coba biayai orang kuliah agar dia bisa dapat pekerjaan lebih baik dari jadi ojek, dan bisa memberikan kehidupan layak bagi istri masa depannya.
dia mengundurkan diri, dan ngepost di story WA "untuk sukses tidak perlu kuliah"
some people deserve their suffering
Why do the poor make so many poor decision?
Miskin itu bkn cuma kurang harta, tapi juga bisa bikin ga mampu berpikir secara rasional (di pov non-poor)
but, try to put yourself in their shoes:
"if u re not guaranteed surviving today, then future is irrelevant"
itu juga yg menjadikan alasan bberapa negara punya social safety net: unemploy benefit, cash transfer.
makanya gw sih bisa paham istilah "kemiskinan itu dekat dengan kekufuran"
Btw aku punya tips buat yg punya problem yg sama, ini bisa dilatih dan sebenernya yg dilatih bukan public speaking, tapi structured thinking. Gimana kita bisa berpikir yang terstruktur/ runut.
Coba biasain kalau mau jelasin sesuatu selalu pakai kerangka sederhana: konteks → masalah → penyebab → solusi (atau awal → tengah → akhir). Jangan langsung ngomong semua yang ada di kepala. Lama-lama otak jadi terbiasa dan otomatis berpikir terstruktur, dan cara ngomong biasanya ikut lebih runut.
Bisa start latihan dgn coba latihan ngomong tiap hari pilih satu topik:
1. cara bikin Indomie,
2. kenapa hujan turun,
3. plot film yang baru ditonton.
Rekam suara 2–3 menit. Nanti dengerin lagi. Biasanya langsung ketahuan bagian mana yang muter-muter.
Indonesians jarang bagi ilmu and help each other -- that's why we never grow:
Gua baru dinner sama founder di San Francisco yang hit $500K (Rp 9 miliar) dalam 6 bulan.
Yang bikin kaget: dia share semua strategi/playbook dia ke gua, orang yang baru dia kenal.
In my experience, this rarely happens in Indo.
We don't share learnings and always keep insights to ourselves.
Bisa dipaham kenapa -- orang takut lo jadi kompetitor, gengsi, dan competition is tough.
Tapi justru itu yang bikin kita stuck:
Kompetisi keras → orang gak mau share → fewer people succeed →
market tetap kecil → kompetisi makin keras.
Kalo orang mau kolaborasi, more people will succeed and the pie gets larger.
Kalo gak, pie-nya tetap kecil dan kita cuman rebutan terus.
Saat mendapat tanda kalau aku perlu bantuan profesional, aku merasa harus mampu menjelaskan semua luka dengan rapi, berkronologi, dan ada bukti.
Padahal tugas itu tidak bisa dilakukan oleh orang yang sedang terluka. Karena luka membuat kita bingung dan meragukan ingatan sendiri.
Tulisan terbaruku di Substack sudah tayang 🙌🏻 Selengkapnya:
https://t.co/CLjPPEEd01
orang yg sering refleksi dan orang yg ga pernah refleksi itu kelihatan banget bedanya dari cara mereka membawa diri atau pas ngobrol sama orang lain. penyampaian orng yg sering refleksi mostly lebih humble karna mereka paham kalau mereka punya batasan dan kekurangan.
pantes aja ya banyak yg ke penang🥲
ini kakaknya ngebanding
32 juta VS 8 juta
beda 4 kali lipat, gila juga ya negara kita nih wkwk
udahlah gaji gedean di Malaysia, kesehatan malah murah di sana😊
Mencoba ga menggeneralisir, tapi karena saking banyaknya nakes dan dokter yg hate speech di postingan alm ini, jadi bertanya: Apa begini isi hati dan pikiran sebagian besar mereka terhadap pasien yg mengeluh? Dibalik senyum" itu ternyata aslinya topeng saja?
Skrg jdi percaya knp bnyak bully di profesi mereka
Mencoba gak menggeneralisir, tapi karena saking banyaknya nakes dan dokter yang hate speech di postingan alm ini, jadi bertanya: Apa begini isi hati dan pikiran sebagian besar mereka terhadap pasien yang mengeluh? Dibalik senyum-senyum itu ternyata aslinya topeng saja?
Jika kamu nobody, dari keluarga gak punya, bahkan ga punya saudara yg punya nama.. fakultas teknik itu menurutku paling egaliter dan bisa membawamu dan keluarga keluar dari structural poverty.
Tell me you're not a manager, without telling me.
Kalo beneran manager, handle banyak orang, people management... Lo akan sadar manusia itu unik.
Ada tipe "head" & "tail", ada tipe "executor" & ada tipe "conceptor", ada "generalist" & ada "specialist", dst.
Staff gue kerjanya bagus tapi gamau naik jabatan. Alasannya enggan menambah beban pekerjaan & pikiran. Selain itu dia tipikal "tail" (pengikut), kalau dia diberi posisi "head", belum tentu juga kerjanya akan sebagus saat di posisi "tail" ini
Selain itu, dinamika kehidupan & keberuntungan (rezeki) juga berperan. Ada company yang posisi "atas" sudah full, tidak ada lagi kursi kosong. Lo yang staff meskipun pengen banget naik jabatan, mau gak mau lo harus nunggu ada momentum kursi kosong. Sampai kapan? gatau... bisa bertahun-tahun.
Ada juga yang naik jabatan secara cepat di usia muda karena memang rezekinya (momentum lucky). Selain dia kompeten, ada momentum kursi atasannya kosong, dan dia diminta isi kursi tersebut. Nah rezeki tuh
Hidup itu tidak berjalan hitam-putih & dinamika kehidupan tidak berjalan linear sesuai standard ekspektasi sosial seperti "usia sekian harus manager atau hidup lo akan berat" yadda-yadda...
Petuah apaan itu... sempit sekali. Banyak-banyak exp & ketemu orang dah biar gak terjebak bubble