biasanya kan anak kecil tuh yg suka penasaran ya ngeliatin orang gede.
tapi tadi kejadian kebalikannya, aku yg sambil jalan penasaran ngeliatin anak kecil, terus anak kecil itu malah nyapa aku duluan, "hai kakakkk 😁"
jadinya aku dadah²in balik 🤏🏻🥹
sore hari, dtang sepasang suami istri sepuh, mungkin hampir usia 70 tahun.
pas aku sapa, si bapak ngeluarin selembar kertas dari sakunya, sambil bilang kalau istrinya ngrasa badan pegel2, linu, pengen cek lab dan minta disuntik.
pas aku persilakan duduk, aku buka kertasnya. ternyata isinya tulisan nama obat yang pernah diminum istrinya, tapi nggak cocok. aku tanya, “ini siapa yang nulis, pak? dulu taunya nggak cocok gimana?”
beliau bilang dulu minta tolong dituliskan sama petugas slah satu klinik, krn istrinya sempat minum obat tersebut dan jadi nyeri perut.
sejak itu, si bapak selalu nyimpen kertasnya dan dibawa setiap kali istrinya mau periksa ke manaa-mana.
such a warm gesture..
hal kecil, tapi somehow keliatan bget gimana mereka saling jagain. apalagi ngeliat keduanya yang masih saling perhatian di usia segitu. 🥹
gak semua konflik itu masalahnya di komunikasi. kadang masalahnya di kapasitas intelektual dan emosional. mau sebanyak dan sejelas apa kita menjelaskan, kalo kemampuan berpikir dan kematangan emosinya gak setara, dia tidak akan mengerti dan memahami substansi masalahnya apa
makin dewasa, makin suka didoain.
walaupun mungkin cuma doa sederhana, atau sekadar basa-basi?
enggak masalah, asal kalimat atau doa tsb baik.
aku suka sekali didoain heheh, kayak doa tuh suatu kalimat sederhana yang jujur dan bermakna.
I am all for perempuan yang memilih menjadi IRT.
Gw pun memilih jadi IRT. Mengurus anak-anak with my own hands, dari makanan, jam tidur, sampai pendidikan.
Sambil ibunya terus berkarya dari rumah, sesekali meeting ke luar kota/negeri.
Tapi ketika menjadi IRT adalah hasil paksaan, punya anak hasil paksaan ... yo ndak bener.
Perempuan berhak memutuskan jalan hidupnya sendiri. Mau menikah atau tidak. Punya anak atau tidak. Mau bekerja di rumah atau di luar rumah.
Kalimat “wanita adalah tiang negara” juga wajib dikritisi. Kedengarannya memuliakan, tapi bisa berarti seluruh beban ketahanan keluarga dan generasi diletakkan di pundak perempuan.
Kalau ada kegagalan, perempuan lagi yang dianggap bertanggung jawab 😅
Padahal pada banyak kasus, tiangnya sih awalnya kuat, tapi lama-lama rapuh karena digerogoti rayap 😅
Ndak ya.
Kita semua, laki-laki dan perempuan, adalah tiang negara.
Bahu-membahu mendidik anak, merawat, mengasuh, mencari nafkah, dan membangun keluarga.
Dan jangan lupa, para “tiang negara” ini juga harus didukung oleh negara supaya punya pilihan dan kesempatan untuk terus berkarya, dari mana saja.
Unpopular opinion, tp orang2 "mental baja" itu bkn orang2 yang gapernah nangis atau breakdown, dll. Justru manusia2 gini yang berkali2 breakdown, bolak balik poli jiwa, jatuh bangun. Mental baja is earned, mental baja is knowing which one you can control and ones you can't.