Bukan. Anda diserang bukan karena itu. Anda dikritik karena:
1. Tata kelolanya ngawur, rawan korupsi.
2. SPPG dimiliki oleh para pihak yg rawan konflik kepentingan seperti aparat, parpol dll.
3. Anda ga fokus ke yg benar2 membutuhkan. Minimal lakukan kajian akademis dulu sebelum eksekusi.
4. Anda memilih kepala BGN yg tdk kompeten, bahkan tidak punya latar belakang ahli gizi. Udah gitu korup pulak.
5. Makanannya ga berkualitas, bahkan banyak yg keracunan.
6. Masih banyak alasan lain, tapi yang jelas bukan karena anda mau ngasih makan anak indonesia. Jadi gausah dipelintir.
emang sulit sih. tapi beneran deh, hidup kalau udah bisa, “yaudah lah ya, that happens, that’s just how it is, that’s life” rasanya lebih ringan aja.
meskipun diri ini masih suka ngeluh juga sih wkwk. tapi mau gimana lagi, dinikmatin aja lah hidup genre comedy slice of life ini.
Presiden kita ini benar benar tidak punya rem untuk tidak mengambur hamburkan uang negara. Coba istana jelaskan ke rakyat secara gamblang tentang hasil nyata dari tiap kunjungan yang dilakukan hampir tiap minggu melawat ke luar negeri? Berapa anggaran negara yg dihabiskan hanya untuk berpergian? Pantaskah itu dilakukan saat rupiah terpuruk terhadap dollar, harga saham merosot dan remuk di mata investor, serta banyak rakyat sedang kesulitan ekonomi karena harga harga kebutuhan yang makin mahal? Apa tidak ada orang di sekeliling presiden yg bisa menasehati agar pak Prabowo lebih punya empati, hingga mendahulukan bekerja berdasarkan prioritas dan akuntabilitas?
Guys, DPR baru saja mengusulkan sesuatu yang menurut gue paling sempurna menggambarkan betapa jauhnya jarak antara para wakil rakyat dengan kenyataan rakyat yang mereka wakili.
Di tengah rupiah Rp17.700.
Di tengah badai PHK yang mengintai.
Di tengah guru honorer yang digaji Rp1,5 juta per bulan.
Di tengah anggaran pendidikan
yang dipotong 44% untuk MBG.
Anggota DPR dari Fraksi Gerindra mengusulkan:
Alokasi APBN 2027 untuk membangun 1.000 layar bioskop di desa.
Gue perlu berhenti sejenak dan baca ulang itu:
Seribu Layar Bioskop Di desa.
Dari APBN.
Dari uang pajak rakyat.
Di 2027.
Dan ini yang paling menggelikan:
Alasannya mulia.
Untuk mendukung rumah produksi kecil di daerah.
Untuk menampilkan potensi dan budaya lokal.
Untuk memberi akses sinema kepada rakyat desa.
Tapi ada satu pertanyaan yang tidak pernah dijawab dalam rapat itu:
Rakyat desa yang gajinya di bawah UMR dengan harga bahan pokok yang terus naik mau beli tiket bioskop pakai uang apa?
Dan ini datanya yang harus dihadapkan langsung:
88% kepala rumah tangga Indonesia tidak punya pendidikan S1.
IQ rata-rata Indonesia 78,9 hampir juru kunci dunia.
Skor PISA Indonesia peringkat 69 dari 81 negara.
50% pegawai Indonesia pernah mengalami stunting waktu kecil yang artinya perkembangan otak mereka terganggu sejak masa paling kritis.
Guru honorer yang seharusnya menjadi satu-satunya harapan untuk memutus rantai kebodohan struktural ini — digaji Rp1,5-2,8 juta per bulan.
Di bawah UMP. Di bawah standar hidup layak.
Dan anggaran pendidikan yang seharusnya mengurus semua ini dipotong 44% untuk program makan siang.
Tapi DPR punya solusi:
Bukan 1.000 sekolah baru di daerah terpencil yang belum punya akses pendidikan layak.
Bukan rekrut 100.000 guru berkualitas dengan gaji Rp40 juta per bulan yang total biayanya hanya Rp50 triliun atau 7% dari anggaran pendidikan yang ada.
Bukan perpustakaan desa.
Bukan laboratorium sains.
Bukan akses internet untuk sekolah-sekolah yang masih mengajar dengan papan tulis kapur.
Tapi bioskop.
Dan ini logika yang paling sederhana:
Dr. Tirta sudah bilang:
rakyat yang pintar adalah ancaman bagi penguasa yang tidak kompeten.
Karena rakyat yang pintar akan mempertanyakan kebijakan yang tidak ada gunanya.
Ahok sudah bilang:
kebodohan struktural bukan kebetulan. Ini by design. Tidak ada pemerintah otoriter yang ingin punya warga yang benar-benar cerdas.
Mahfud MD sudah bilang:
demokrasi tidak akan berhasil sebelum pendapatan per kapita mencapai 5.500 dolar.
Rakyat yang masih miskin dan tidak berpendidikan pasti menjual suaranya.
Dan sekarang alih-alih memperbaiki pendidikan yang bisa mengubah semua itu DPR mengusulkan membangun bioskop.
Rakyat yang tidak pintar tapi punya bioskop jauh lebih mudah dihibur.
Jauh lebih mudah dialihkan perhatiannya.
Jauh lebih mudah diberi sesuatu yang kelihatan seperti pemberian tanpa benar-benar mengubah kondisinya.
Dan ini yang paling menohok:
Orang desa yang gajinya Rp2-3 juta per bulan yang harga kedelai dan telurnya sudah naik karena rupiah melemah yang anaknya sekolah dengan guru yang mau resign karena gajinya tidak cukup untuk makan
Tidak butuh bioskop.
Mereka butuh guru yang digaji layak supaya anaknya tidak tumbuh dengan IQ 78.
Mereka butuh sekolah yang layak supaya anaknya bisa bersaing.
Mereka butuh sistem pendidikan yang mengajarkan berpikir kritis bukan menghafal untuk ujian.
Karena bioskop tidak mengubah nasib.
Bioskop hanya menghibur orang yang nasibnya tidak berubah.
Dan angkanya bicara sendiri:
1.000 layar bioskop dengan asumsi biaya pembangunan, peralatan, dan operasional bisa menghabiskan ratusan miliar bahkan triliunan rupiah dari APBN.
Uang yang sama bisa dipakai untuk:
menggaji 25.000 guru berkualitas selama satu tahun penuh. Atau membangun ratusan perpustakaan desa dengan koleksi buku yang memadai.
Atau memberikan beasiswa bagi ribuan anak desa yang putus sekolah karena tidak mampu.
Tapi yang diusulkan adalah bioskop.
DPR bukan Dewan Perwakilan Rakyat.
DPR adalah Dewan Penghibur Rakyat.
Rakyat tidak dirancang untuk pintar karena rakyat yang pintar tidak bisa dihibur dengan bioskop.
Rakyat yang pintar akan tanya:
kenapa anggaran pendidikan dipotong tapi ada uang untuk bioskop desa?
Kenapa guru digaji Rp1,5 juta tapi ada dana untuk layar sinema?
Kenapa stunting masih 21% tapi kita bahas distribusi film nasional?
Dan pertanyaan-pertanyaan itu jauh lebih berbahaya bagi mereka yang duduk di kursi DPR daripada rakyat yang diam di depan layar bioskop desa sambil lupa bahwa hidupnya tidak berubah.
Dewasa gini, ternyata lebih seru ngobrol sama stranger, pedagang keliling, tukang parkir, atau orang orang tua yang kebetulan lagi di tempat yang sama.
energi mereka terasa lebih tulus untuk menyadarkan bahwa banyak hal di dunia ini yang perlu kita syukuri.
Bayangin kamu ceritanya lagi naik tangga buat “jadi pinter”. Nah, ada yang namanya Taksonomi Bloom nih, Taksonomi Bloom itu kayak peta tangganya dari yang paling dasar sampai yang paling “pro level” dalam cara kita berpikir.
Penjelasannya gini:
Awalnya, kamu cuma ngumpulin info dulu. Ini level paling bawah, namanya mengingat. Kayak hafalin rumus, inget tanggal sejarah, atau sekadar tahu misal “oh ini namanya fotosintesis” gitu.
Naik dikit, kamu mulai ngerti. Bukan cuma hafal, tapi udah bisa jelasin pake kata-kata sendiri. Hal ini udah masuk ke dalam tahapan Memahami. Misalnya, kamu bisa cerita ulang kenapa tumbuhan butuh cahaya matahari tanpa ngelihat buku.
Terus, kamu masuk ke tahap pakai ilmunya. Ini level Menerapkan. Jadi bukan cuma ngerti teori, tapi bisa dipraktikkan. Contohnya, kamu pakai rumus matematika buat nyelesain soal atau pakai grammar yang bener pas ngomong bahasa Inggris.
Naik lagi, kamu mulai nih masuk tahap selanjutnya yaitu Menganalisis. Di sini kamu udah kayak detektif, bisa ngebedah sesuatu, nyari pola, atau ngerti kenapa sesuatu bisa terjadi. Misalnya, kamu bisa bandingin dua teori atau ngerti penyebab suatu peristiwa.
Abis itu, kamu masuk ke level Menilai. Di level ini kamu udah mulai “beropini tapi beralasan”. Kamu bisa bilang sesuatu itu bagus atau nggak, setuju atau nggak, tapi pake alasan yang kuat. Kayak nge-review film tapi bukan cuma “jelek”, tapi jelasin kenapa jelek.
Paling atas, level tertingginya ada Mencipta. Di sini kamu nggak cuma pakai atau nilai sesuatu, tapi bikin hal baru. Bisa berupa ide, karya, solusi, atau konsep yang belum ada sebelumnya. Misalnya bikin aplikasi, nulis cerita, atau nemuin cara baru buat nyelesain masalah.
Jadi intinya, Taksonomi Bloom itu kayak perjalanan:
dari “cuma tahu” lanjut ke “beneran ngerti” lanjut lagi “bisa pakai” maju ke “bisa bedah” berubah menjadi “bisa nilai” akhirnya sampai “bisa bikin sesuatu yang baru.”
Semakin naik, otak kamu makin “kerja keras” tapi juga makin keren.
Jadi dalam belajar tuh kita bener-bener harus tau tahapannya ya, supaya kita bisa berurutan ga asal loncat aja hehehehehe
jadi pinter itu bisa dipelajarin, literally semua orang bisa kejar knowledge, intelligence, bahkan experience.
tapi “jadi manusia yang bener” itu beda level. gak semua orang punya awareness buat respect orang lain dan bersikap proper.
makanya adab itu always di atas ilmu. karena akhirnya yang dilihat bukan cuma kamu tau apa, tapi kamu treat orang lain kayak apa.
Doa apa yang sering kamu ulangi?
Doanya:
Ya Allah Ya Latif lembutkan lah hatiku yang sering lelah menahan rasa sakit
Ya Fattah bukakan jalan saat aku merasa buntu, saat ikhtiar terasa berat dan harapan mulai goyah
Ya Razzaq cukupkan rezekiku bukan hanya harta, tapi juga sabar, sehat dan hati yang ikhlas
Ya Jabbar sembuhkan luka yang tak terlihat, kuatkan aku agar tetap tersenyum
Ya Nur terangi hatiku yang sering gelap oleh kecewa, jadikan aku wanita bercahaya meski diuji berkali-kali.