@injurytime83 Ekspektasi yang dia taruh tiap laga tinggi, tapi gak liat sikon. Dulu ada Lewy yang bisa drop & jadi pemantul, Yamal tinggal cut inside atau finishing. Sekarang maksain banget buat nyetak gol sendiri 🙄
boleh gak sih le klo cowo nangis? jujur gw lagi buntu banget. keluar siang smpe malem gini masih di jalanan gabisa pulang karna belum dapet duit cukup.
sedangkan di rumah ada ibu yg stroke nunggu di suapin makan dan di beliin pempes. sedangkan ngamen di jalanan cuma dapet 500 atau 200 perak.
jujur gw iri sama orang² seumuran gw yg jam segini bisa santai dan jalan² nikmatin hidup, yg masih di sokong ortunya.
sedangkan gw cuma serangga jalanan yg berjuang di panas debu kendaraan.
sumpah pngen nangis gw le.
cc:fbFrank Argtra
> udah capek2 pulang kerja, gaboleh cerita karena "laki-laki tidak bercerita"
> pengen keintiman gaboleh karena cowo gaboleh mikir seks dan selangkangan mulu.
> tapi duit tetep diminta atas nama "nafkah" dan "provider mindset"
> terus gak boleh minta apa-apa ke istri dengan alasan "ikhlas", "menerima apa adanya" dan "gaboleh transaksional"
yaudah, ngapain nikah, dah paling bener kumpul kebo aja, karena isinya rugi semua.
Hari ini gue putus sama pacar gue.
alasannya jujur bikin gue capek sendiri.
Jadi gue lagi drive-thru di McD.
Gue tanya baik-baik:
“Kamu mau es krim juga nggak?”
Dia jawab:
“Enggak usah.”
Oke.
Karena dia bilang enggak mau, ya gue beli satu.
Logis kan?
Di perjalanan gue makan tuh es krim.
Nah tiba-tiba dia berubah diem. Mukanya mulai asem kayak habis nyedot jeruk nipis satu kilo.
Gue bingung.
Pas gue tanya kenapa, dia malah ngambek karena gue nggak nawarin es krim gue ke dia.
Lah?
Bukannya tadi udah ditanya?
Bukannya tadi jawabannya “enggak mau”?
Gue tuh paling capek sama model beginian.
Ngomong A, maunya B.
Pas kita nurutin omongannya, kita malah disalahin karena nggak bisa baca pikiran.
Kalau pengen ya bilang pengen.
Kalau mau nyobain ya ngomong.
Ini bukan ujian indra keenam.
Yang bikin gue makin males, dia malah bikin gue seolah-olah cowok nggak peka.
Padahal dari awal gue udah nanya.
cc:threads
Baru sekarang paham perasaan pemain-pemain yang selama ini mengatakan selalu senang di Barcelona.
Terlebih untuk washed players yang susah kalau mau dijual.
Karena hari ini, Hansi Flick, menyatakan bahwa bersama FC Barcelona adalah bagian terbaik dalam karir kepelatihannya.
Tentu ia tidak lupa menyebut saat bersama timnas Jerman atau juga Bayern yang ia persembahkan musim yang sempurna.
Namun di Barça ia menjelaskan, bagaimana lingkungan, orang-orang sekitar, baik dari staf klub atau warga kota Barcelona, staf kepelatihannya dan keluarganya yang benar-benar merasa dihargai, nyaman dan bahagia disini.
Seorang pria tua dengan watak keras khas Jerman yang sebelumnya dikelilingi pemain-pemain hebat di timnas dan kemewahan dari klub seperti Bayern, tak disangka jatuh hati kepada klub asal Katalan ini.
Dan berani datang yang padahal saat itu klub ini sedang mengalami pesakitan.
Cintanya bukan hanya omong kosong belaka. Karena itu tercermin dari belasan ia telah memberikan kesempatan debut bocah La Masia, juga cukup sering menonton langsung pertandingan Barça B, dan juga menonton Barça Femeni.
Jujur sampai detik ini masih kayak mimpi nggak percaya kok ada orang luar hebat yang sebelumnya tanpa ada hubungan atau ikatan apapun dengan Barça tapi bisa sebegininya 🥹💙❤️
bukan soal “jin” atau energi gaib gitu, tapi pure psikologi + neurokimia.
(setau gw)
kalau di psikologi namanya: premature sense of accomplishment atau social reality substitution.
orang punya rencana yang masih vague (gak jelas, gak ada deadline, gak ada step konkrit), terus dia cerita ke orang-orang → langsung dapet reaksi positif:
“wah keren bro!”
“mantap tuh rencananya”
“semangat ya!”
otak langsung ngerasa “udah dong, udah diakuin”.
dopamine naik, tapi itu dopamine murahan dari pujian, bukan dari progress beneran.
akhirnya motivasi asli (yang seharusnya datang dari ngerjain) malah drop, jadi males gerak, rencananya mandek.
“dia udah puas duluan karena pujian → semangatnya berkurang.”
malah ada penelitian klasik dari Peter Gollwitzer (nyeritain “when intentions go public”) yang nunjukin:
orang yang share goal ke orang lain cenderung kurang achieve goal-nya dibanding yang diem-diem.
karena otaknya udah ngerasa “goalnya udah sebagian tercapai” gara-gara diomongin.
tapi ada caveat:
kalau goal lu super jelas, spesifik, dan lu share ke orang yang bener-bener bisa kasih accountability (misal mentor, partner, atau circle kecil yang strict), justru bisa nambah motivasi.
tapi banyak kasus orang Indonesia?
mereka share ke temen-temen yang cuma bisa bilang “mantap bro” doang dan efeknya malah negatif.
jadi intinya bukan rencananya yang gagal karena diceritain, tapi cara orang nyeritainnya + kualitas rencananya yang bikin gagal.
gw sendiri kalau ada target gede, lebih sering diem dulu sampe ada progress nyata baru cerita.
lebih aman buat dopamine-nya, kalau kalian biasanya gimana? kalau ada rencana penting, kalian share atau diem?
Ini jokes tapi nyelekit banget karena terlalu nyata.
2021 semua orang bilang WFH adalah masa depan. Produktivitas naik. Work life balance membaik. Tidak perlu buang 3 jam sehari di jalan cuma buat duduk di depan laptop yang sama.
2024 komprominya hybrid. Dua tiga hari di kantor. Sisanya dari rumah. Semua orang bisa hidup dengan itu.
2026 tiba tiba balik lagi. Empat hari seminggu di kantor. Dan alasannya satu kata yang tidak bisa dibantah tapi juga tidak bisa dibuktikan.
Kultur.
Kita butuh kultur yang kuat. Kita butuh kolaborasi. Kita butuh energy yang cuma bisa ada kalau semua orang ada di satu ruangan.
Dan realitanya di ruangan itu?
Semua orang pakai noise cancelling headphones. Kepala menunduk ke layar masing masing. Tidak ada yang ngobrol. Tidak ada yang brainstorming spontan. Tidak ada magic kultur yang dijanjikan.
Yang ada cuma orang orang yang sama, ngerjain pekerjaan yang sama, yang bisa mereka kerjain dari rumah, tapi sekarang harus buang waktu dan uang buat transport dulu sebelum bisa mulai.
Dan ini relate banget di Indonesia.
Macet Jakarta rata rata 3 jam pulang pergi. Itu 60 jam sebulan. 720 jam setahun. Tiga puluh hari penuh dalam setahun habis di jalan.
Bukan buat meeting penting. Bukan buat kolaborasi yang tidak bisa dilakukan secara digital.
Tapi buat duduk di kantor sambil pakai headphones supaya tidak terganggu rekan kerja.
Yang paling ironis keputusan balik ke kantor ini hampir selalu datang dari orang yang kantornya punya parkir khusus, ruangan sendiri, dan tidak merasakan macet yang sama dengan karyawannya.
Kultur yang mereka maksud itu nyata.
Tapi kulturnya adalah bos bisa lihat lo duduk di kursi. Dan kalau bos bisa lihat lo duduk berarti lo kerja.
Bukan soal produktivitas. Bukan soal kolaborasi.
Soal kontrol.
Bukan buat belain peminum atau "tradisi closingan" sih ya.
Tapi kalau "paham agama Islam" harusnya tau sih yang "gak diterima" 40 hari itu ibadah shalat. Bukan seluruh amal dan ibadah.
Karena jelas-jelas matan (redaksi) haditsnya nyebut :
لَمْ تُقْبَلْ لَهُ صَلاةٌ أَرْبَعِينَ صَبَاحًا
Itu pertama.
Kedua, yang gak diterima itu dalam artian jadi gugur pahalanya. Tapi kewajibannya tetap ada.
Maksudnya? Walaupun lu minum, lu ttp wajib shalat.
"Sia-sia dong? Mending gak usah."
Nggak sia-sia.
Karena :
1. Kalau lu jadi gak shalat karena udah minum khamr, jadinya udahlah lu dapat dosa minum dapat pulak dosa gak shalat. Miksir skids.
2. Yang gugur itu pahalanya, berkah shalat ttp dapat. Dalam artian, bisa jadi lu dapat ampunan karena udah minumnya, atau dapat hidayah untuk berenti minum di kemudian hari.
Jadi, seberapapun memanteknya kalian, jangan lupa dan tinggalkan kewajiban shalat dan puasa guys.