Tulisan opini saya naik cetak di @hariankompas hari ini. Tentang kepastian hukum, mengapa kerusakannya hanya bergerak satu arah dan bergeraknya dari pucuk, serta apa yg terjadi pada bangsa ketika semua orang terpaksa berhitung pendek. Silakan disimak.
https://t.co/W25aKFRYOg
pelan-pelan Pak Anies, @aniesbaswedan. Soalnya banyak yang ketabrak ini 😭
"warga yang main hakim sendiri di jalanan bukan sedang menantang hukum, tapi sedang meniru. Mereka meniru cara republik ini memperlakukan aturannya sendiri.
boleh diubah kalau mengganggu kepentingan segelintir. Ditunda kalau merepotkan pengelola negara. Dilangkahi kalau tujuannya melanggengkan kuasa.
rakyat tidak belajar dari pidato yang menggelegar. Rakyat belajar dari keputusan-keputusan negara yang dipertontonkan setiap hari."
***
kutipan artikel opini beliau di Kompas hari ini. Sumber:
https://t.co/wX6IhvCMHo
Apa perasaan Pak Anies saat Pak Jokowi dinyatakan menang Pilpres 2014, dmn beliau menjadi Timses & Jubir Pak Jokowi dgn "Kampanye Putih" nya kala itu? 👀
lepaslah rahasia sebagai rahasia percakapan sunyi
lelehan debu
tegalan kalbu
rayau waluku
(jam-jam pasir di waktu air
dipukul airwaktu pasir
nyawa kembara
di pohon raya
menala rindu
berkalam batu…)
peganglah rahasia sebagai rahasia percintaan sunyi
sedekah sesaji bumi
dewi sri sepasang musim
bimasakti seruling jisim
semantra setungku mentari
(tuak-tuak waktu di jam sajak
di pukul sajak waktu tuak :
ombak mencapai pantai
gamelan sudah mulai
tanah lot bergelora
pura besakih purnama…)
dari kabut fajar sanur hingga megah senja kuta
bermalam siang tabuh gunung meru merasuki jiwa
di lambung lumbung lambang kedewatan balidwipa
berbanjar peri candi melontar genta yang purba
di luar teratai
di dalam semadi
di luar kepala
di dalam semesta:
langit ilmu manusiawi
masuk ke luar kamus sukmaku
bumi teknologi rohani
raung hutan hantu di lubuk tuhanku
samudera galaksi pribadi
membajak-bajak rawapaya payahku
rahasia seni puisi
bermukamuka fanabakaku
(…beruas-ruas bambu tuak
tuang tuang tualang gelegak
bergaung parang perang tenggak ke puncak
menatah patahkata sajak
di luar kepala
di dalam semesta
di luar teratai
di dalam semadi….)
Toko buku yang serius cari cuan pasti pasang bukunya di rak yang mudah terlihat. Disukai penggemarnya, sering menjadi olok-olok para pembaca buku. Namanya baik sekaligus buruk. Terganrung siapa yang membicarakannya.
Di balik nama Tere Liye yang begitu akrab di rak-rak buku toko besar, tersembunyi seorang pria bernama Darwis.
Ia lahir di pedalaman Lahat, Sumatera Selatan, pada 21 Mei 1979, sebagai anak keenam dari tujuh bersaudara.
Orang tuanya petani biasa. Rumahnya sederhana. Tidak ada tradisi sastra di keluarganya. Tidak ada mentor menulis. Ia belajar menulis sendirian, di sela-sela waktu luang.
Nama “Tere Liye” bukan ciptaan yang dipikirkan lama-lama.
Suatu hari Darwis menonton film India Veer-Zaara. Di film itu ada lagu berjudul “Tere Liye” yang dinyanyikan Lata Mangeshkar dan Roop Kumar Rathod. Lagu itu berarti “untukmu”. Darwis menyukai arti itu. Ia memutuskan: semua buku yang ia tulis nanti akan dipersembahkan “untukmu”, yang maksudnya adalah untuk pembaca. Maka lahirlah nama pena yang terdengar asing dan membuat banyak orang sempat mengira ia penulis luar negeri.
Darwis adalah lulusan Akuntansi Universitas Indonesia, bahkan termasuk lulusan terbaik di angkatannya. Setelah kuliah, ia bekerja sebagai akuntan di sebuah perusahaan.
Menulis hanyalah hobi di malam hari. Ia pernah bilang, dirinya lebih nyaman disebut akuntan daripada penulis. Tapi hobi itu pelan-pelan mengambil alih hidupnya.
Ia sangat menjaga jarak dengan ketenaran. Tidak pernah menyertakan biodata lengkap di buku-bukunya. Jarang foto. Hampir tidak pernah selfie. Pernah ada yang bilang: “Biar orang mengenal karya Tere Liye, bukan siapa sosok Tere Liye.” Ia memang menolak keras dipublikasikan sebagai pribadi.
Hidupnya sederhana. Ciri khasnya di acara-acara: kaos oblong, kupluk, dan sandal jepit.
Ada satu episode yang jarang dibahas. Tahun 2017 ia sempat memutuskan berhenti menerbitkan buku fisik selama berbulan-bulan. Alasannya bukan kehabisan ide, melainkan marah dengan sistem pajak royalti penulis yang menurutnya sangat merugikan. Ia merasa penulis diperlakukan tidak adil dibanding profesi lain. Keputusan itu membuat banyak penerbit kaget.
Tapi beberapa bulan kemudian ia kembali, tetap dengan gaya yang sama: menulis tanpa banyak basa-basi tentang dirinya sendiri.
Begitulah Tere Liye. Seorang akuntan dari desa petani yang nama penanya diambil dari lagu India, yang lebih suka karyanya dikenal daripada wajahnya sendiri.
Gimana, Tere Liye apakah sudah mencuri hatimu?
masing2 satu box ya tisunya. the last scene will break your heart. film ini disutradarai Shalahuddin Siregar, yang juga menyutradarai film dokumenter tentang kehidupan petani di lereng Gunung Merbabu, Negeri Di Bawah Kabut. you'll need a pack of tissues for this one as well... (btw 7M views and counting, testament to the power of documentary filmmaking) https://t.co/R9MED7fxR0
Sebuah langkah balik yg tepat, juga contoh nyata sikap tidak membiarkan setiap usaha penyimpangan demokrasi berlalu begitu saja tanpa ditangkal. Semoga bisa jadi kesadaran bagi semua. Hormat utk bu dosen!
biasanya cing abdel selalu uplaod kontennya setiap hari di jam 6 sore. tapi 3 hari kebelakang channel cing abdel ga upload setelah kepergian bang temon.
tapi sekarang alhamdulillah cing abdel udah upload lagi.
sebenernya ini konten khusus membership yang diupload 2tahun lalu. tapi mungkin cing abdel sengaja upload untuk umum buat mengenang bang temon🥲
di konten ini juga mereka ngomongin tentang kematian😭😭
Salah satu perdebatan paling penting dalam sejarah kebudayaan Indonesia bukanlah tentang gaya melukis atau bentuk puisi, melainkan tentang fungsi seni itu sendiri.
Dalam Heirs to World Culture, pertentangan antara LEKRA dan para penandatangan Manifes Kebudayaan memperlihatkan dua filsafat kebudayaan yang berbeda. LEKRA memandang seni sebagai instrumen perjuangan sosial dan revolusi, sedangkan Manifes Kebudayaan mempertahankan otonomi seni dari subordinasi terhadap ideologi politik.
Dari perspektif sejarah intelektual, perdebatan ini bukanlah persoalan sederhana antara "politik" dan "kebebasan". Ia merupakan bagian dari perdebatan yang lebih luas yang juga muncul di banyak negara pada abad ke-20: apakah nilai sebuah karya seni ditentukan oleh komitmen politiknya, atau oleh kebebasan kreatifnya?
Pertanyaan itu belum pernah benar-benar selesai. Ia terus muncul setiap kali masyarakat bertanya apa peran kebudayaan dalam kehidupan publik.
#LEKRA #Manikebu #SejarahIndonesia #BudayaIndonesia #CatatanNusantara