"Kita tahu semua itu, tapi pasien kan enggak"
"Kejelasan adalah kasih sayang"
Dari sekian bnyk dokter yg berusaha 'menenangkan' pernyataan dok Gia adalah yg bisa di terima tanpa prejudice. Karna sejak awal brandingan personal dokter ya harusnya seperti ini. Dua belah pihak, pasien maupun nakes, yuk mawas diri.
Tapi...
Sekali lagi pake tapi... kami pasien ini orang awam. Beri tahu saja jika salah, jelaskan biar kami paham. Jangan disumpahi masuk kamar mayat atau potong Nadi.
@amourphelia Setuju banget. Kejelasan emang bentuk kasih sayang paling nyata buat orang yang lagi takut. Dok Gia ngasih contoh komunikasi yang seharusnya jadi standar, bukan pengecualian.
Prettt lah…burnout tapi masih punya energi buat ngata-ngatain pasien.
Hampir semua profesi sekarang mengalami burnout-nya masing-masing btw.
IDI jangan ada kesan ngebelain oknum anggotanya.
Tekanan-stress kerja memang sudah konsekuensi atas pilihan karir.
Tapi itu ngga boleh jadi justifikasi untuk jari-mulut-sikap nirempati kepada pasien & keluarganya.
Secapek-capeknya menjadi Nakes, masih lebih ‘menderita’ menjadi pasien.
Percayalah, sakit itu ngga enak…
Unggahan pasien Yurizal Tri Chaerawan yang mengaku menunggu hingga delapan jam tanpa mendapat ruang perawatan di rumah sakit viral di media sosial. Setelah menuai kritik, sejumlah oknum tenaga kesehatan (nakes) yang sebelumnya meninggalkan komentar bernada tidak berempati akhirnya menyampaikan permintaan maaf.
Salah satunya dr. Elda Putri yang mengakui komentarnya tidak pantas dan tidak mencerminkan empati sebagai tenaga kesehatan. “Saya mengakui sepenuhnya bahwa komentar yang saya tuliskan… sangatlah tidak pantas, tidak etis, dan menunjukkan ketiadaan empati,” tulisnya. Ia juga menyampaikan belasungkawa atas wafatnya Yurizal.
Permintaan maaf juga disampaikan Widhiyarini Pangestika, yang mengaku menyesal karena unggahannya menambah beban emosional keluarga pasien. Sementara Benny Christian Sihombing turut meminta maaf, menyatakan siap bertanggung jawab atas unggahannya, termasuk jika harus menghadapi proses hukum maupun sanksi dari instansi terkait.
Baca Selengkapnya Disini: https://t.co/JC4cmVA0LI
#VIVANews #VIVANewsToday #TenagaKesehatan #Perawat #Yurizal
Klarifikasi dan permohonan maaf lagi nih dari nakes yang hate comment di threads.
Minta maaf ama yang masih hidup aja repot apalagi ini yang sudah meninggal dunia. Good luck for the rest of your life. - kiswinar.
sc: nouzzha_kim
@hanifproduktif Karena yang di depan pasien tiap hari ngerasain dampaknya langsung: antrian panjang, klaim ribet, tarif INA-CBGs yang sering di bawah biaya riil, dan pasien yang kadang nuntut seolah-olah semuanya gratis.
Management RS memang butuh volume BPJS biar survive,
@finalcensus Klarifikasi dan permohonan maaf datang bergiliran.
Tapi yang jadi pertanyaan: apakah ini kesadaran, atau karena sudah ketahuan dan dipanggil atasan?
Yang sudah terjadi nggak bisa dihapus cuma dengan video.
@bismillahyuk_ Minta maaf aja harus buka ChatGPT, matanya keliatan banget lagi baca teks.
Padahal pas ngehina pasien kemarin, ketikannya lancar jaya tanpa bantuan AI.
Sekarang baru kelihatan susahnya nyusun kata yang beradab.
@VIVAcoid Minta maafnya datang setelah viral dan pasiennya sudah tiada.
Kalau dari awal ada empati, komentar kasar itu nggak akan keluar.
Sekarang baru sadar “tidak pantas dan tidak etis”.
Semoga ini bukan sekadar formalitas biar cepat reda.
@pelti_nih Setuju banget.
Burnout itu nyata, tapi bukan tiket buat ngegas atau ngehina pasien.
Hampir semua profesi juga burnout.
Kalau masih punya energi buat ngetik komentar kasar di medsos, berarti bukan burnout semata yang jadi masalah.
Secapek-capeknya nakes
@anggarasamvdr Tanggapan Dokter Gia ini yang seharusnya jadi standar.
Jas putih itu bukan cuma seragam, tapi pengingat buat netralin emosi.
Pasien lagi di posisi paling rentan, yang mereka butuh bukan cuma pengobatan, tapi juga kejelasan dan rasa dihargai.
@rebukanrain Betul.
Jangan bawa-bawa “kami korban sistem” terus.
Kalau sistemnya memang jelek, protes ke yang bikin sistem.
Jangan pasien yang lagi butuh pertolongan malah jadi sasaran emosi.
Nanti habis viral baru minta maaf berjemaah, udah basi.
Empati itu seharusnya ada sebelum kejadian,
@jogja_base Betul banget.
Ada Dokter Gia, Dokter Tirta, dan banyak nakes lain yang sudah kerja keras banget buat edukasi, buat jaga citra, buat bikin masyarakat lebih paham.
Tapi cukup satu-dua orang yang gampang emosi, gampang ngejek pasien, semua usaha itu langsung kelihatan sia-sia
@NenkMonica Ilmu boleh tinggi, gelar boleh bergengsi, tapi kalau adab dan empatinya kosong, ya sia-sia.
Pasien BPJS yang lagi mengeluh soal pelayanan lambat malah dihina “tidak punya otak”. Sekarang orangnya sudah tiada.
Dokter itu bukan cuma soal diagnosis dan resep, tapi
@soraipena Ga lucu. Sama sekali ga lucu.
Orang lagi nunggu ruangan rumah sakit selama berjam-jam, mungkin lagi berjuang, lagi takut, lagi nunggu kabar, tapi malah dibikin bahan candaan kayak nunggu tempat karaoke.
Humor yang nyenggol penderitaan orang lain itu bukan lucu