We called it. You played it. Spain made it a reality.
Five predictions in a row, and @SEFutbol lifted the trophy 11M+ times across #FC26 and #FCMobile.
Congratulations on your second star ⭐️⭐️
#TheWorldsGame
Ada kisah masa kecil Shakira saat usia 8 tahun, ayahnya bangkrut. Ia merasa langit runtuh.
Biasa ke mana-mana dengan mobil, tiba-tiba semua harus dijual. Bahkan perabotan rumah hingga TV harus dijual.
Sadar gadis kecilnya kaget dengan perubahan hidup yang tiba-tiba, ayahnya mengajak Shakira keluar. Main ke dekat taman kota, melihat anak-anak yang tak lagi punya ayah dan ibu.
Anak-anak itu melarikan kesedihan hidupnya dengan menghirup lem, mabuk dengan cara paling murah.
Dalam hati dia berucap, "Kelak kalau aku jadi artis terkenal dan sukses, aku mau bantu anak-anak ini."
Berselang tahun, umur 14 ia sudah merilis album pertamanya, "Magia." Meski tidak meledak, tapi hasil dari sana, pertama ia belikan mobil untuk ayahnya.
Setelah benar-benar sukses di usia 19, album "Pies Descalzos" meledak. Dari sana ia bikin yayasan amal untuk menepati janji masa kecilnya untuk anak-anak tidak beruntung.
Album itu juga jadi nama sekolah untuk anak-anak miskin yang dia bantu.
"Lahir di Kolombia memberiku satu kesadaran, hanya pendidikan yang bisa memutuskan rantai kemiskinan. Pendidikan membuka jalan untuk potensi anak-anak, dan meyakinkan mereka bahwa apa pun bisa mereka raih kelak."
Ini terekam dalam wawancara panjang Shakira dengan wartawan The Sunday Times, tayang 1 Maret 2009.
Kali lain, ia pernah juga memprotes pemerintah Kolombia karena keputusan mengurangi anggaran pendidikan dari 13 persen jadi 7 persen.
"Ini tidak bisa diterima. Alih-alih maju ke depan, ini malah mundur ke belakang. Kita harus berinvestasi lebih besar untuk pendidikan. Kita harus bisa membangun sekolah lebih banyak lagi, lebih-lebih di tempat yang tak ada sekolah."
Shakira kini sudah 49 tahun. Tak lagi muda, tapi semangatnya untuk dunia pendidikan masih terawat, seperti tatapan matanya yang tetap bercahaya. Ia punya mimpi cahaya itu juga mengalir ke semua mata anak-anak miskin di dunia.
I have witnessed this club go from doubters to believers, and from believers to champions. It took hard work and I always did everything I could to help the club get there. Nothing makes me prouder than that.
Us crumbling to yet another defeat this season was very painful and not what our fans deserve. I want to see Liverpool go back to being the heavy metal attacking team that opponents fear and back to being a team that wins trophies. That is the football I know how to play and that is the identity that needs to be recovered and kept for good. It cannot be negotiable and everyone that joins this club should adapt to it.
Winning some games here and there is not what Liverpool should be about. All teams win games.
Liverpool will always be a club that means a great deal to me and to my family. I want to see it succeed for long after I have moved on.
As I’ve always said, qualifying to next season’s Champions League is the bare minimum and I will do everything I can to make that happen.
jika ada 1000 orang yang mencintai newjeans, aku lah satu di antaranya.
jika hanya ada satu orang yang mencintai newjeans, aku lah orangnya.
jika tidak ada lagi orang yang mencintai newjeans, maka ketahuilah,
aku telah mati.