Gua pernah kok jd mahasiswa, gua tau gmn pusingnya kuliah. Gua tau rasanya selalu berharap dpt dosen yg baik.. Tp asli, gua gapernah ngechat dosen dgn bahasa like a friend atau bahkan menyepelekan tugas2 yg dosen kasih.
@txtharihariWNI Sebenarnya betul tp kurang tepat kak. Jadi, aku pernah belajar sampai batas anak usia 4 atau 6 gitu ya, auratnya tidak boleh diperlihatkan di dpn orgtua yg lwan jenis. Tp selama msh bayi, hellooo bantuin lah paksu, masa semua2nya istri wkwkwkwk
@atokdalangs4 Mau lahiran sc apa normal, ttp udh merjuangin body. Gausah banding2in. Sc bisa terjadi jg krn satu dan lain hal. Misal, ketuban pecah. Mau maksain normal? Egois yg endingnya bisa merenggut nyawa sendiri. Haduh miris bgt jaman skrg msh ada yg banding2in prosedur lahiran
Tadi malam aku ketiduran di sofa.
Samar-samar aku denger suami lagi cuci piring di dapur sambil ngobrol sama anak sulung kami. Posisi dapur sama ruang TV nyatu, jadi semua kedengeran.
👦🏻: "Yah, ayah bisa nyuci, bisa cuci piring, bisa masak nasi goreng. Berarti ayah bisa bantu ibu ya? Aa juga mau."
Di situ aku udah pengen motong sambil mewek, tapi aku pilih diem dan dengerin aja.
Terus suamiku jawab,
👨🏻: "Iya, nanti Aa belajar ya. Tapi ada yang kita sebagai cowok nggak bisa. Yang bisa cuma ibu sama Hanna, yaitu hamil, melahirkan, dan menyusui. Coba Aa bisa hamil nggak? Kan nggak punya nenennya juga." 😂
"Makanya, selama ada yang kita sebagai cowok bisa bantu, ya harus bantu. Oke?"
👦🏻: "Siap, Kapten! Laksanakan!"
Di momen itu aku langsung lega.
Aku sadar, ternyata aku memang memilih orang yang tepat buat jadi ayah dari anak-anakku. 🥹
2 tahun lalu, kami udah konsultasi ke pengacara buat cerai. Kemarin, suami gue nangis pas gue peluk di ulang tahun pernikahan ke-8. Bukan karena selingkuh. Bukan karena KDRT. Tapi satu hal sepele yang kami biarkan numpuk bertahun-tahun.
Semua berawal dari rasa capek yang gue simpen sendiri. Kerja full time, sama kayak suami. Tapi begitu pulang, gue lanjut "shift kedua." Masak, beresin rumah, urus anak. Suami pulang, rebahan, main HP. Gue capek fisik dan mental. Tapi keliatannya cuma gue yang capek.
Yang bikin gue makin frustrasi bukan bebannya. Tapi suami gue gak ngerasa itu masalah. "Kan lo emang lebih jago masak." "Kan anak-anak lebih nyaman sama lo." Kalimat itu kedengaran kayak pujian. Tapi sebenarnya cara halus buat lepas tanggung jawab.
Gue gak langsung ngamuk atau minta cerai. Gue diem, dan diemnya itu yang paling berbahaya. Gue mulai jarang cerita hal kecil ke dia. Dia gak sadar, karena buat dia semuanya kelihatan baik-baik aja. Padahal gue udah capek duluan sebelum ngerjain apapun tiap hari.
Titik paling bawah itu waktu gue diem-diem konsultasi ke pengacara. Bukan karena udah yakin mau cerai. Tapi karena gue udah gak tau harus ngapain lagi selain pergi. Untungnya, sebelum gue lanjut, gue cerita dulu ke psikolog keluarga.
Psikolog kasih nama buat yang gue alami: mental load. Bukan cuma soal siapa yang nyapu atau masak. Tapi soal siapa yang harus selalu mikirin dan ngatur semuanya. Vaksin anak. Stok sabun habis. PR anak udah dicek belum. Semua numpuk di kepala satu orang, tanpa pernah dianggap "kerja."
Psikolog jelasin kenapa suami gue gak sadar. Kerja fisik kelihatan. Cuci baju, masak, itu semua visible. Tapi kerja mental, mikirin dan ngatur semuanya, itu invisible. Suami gak ngerasa "kerja" karena gak megang sapu. Padahal gue udah capek duluan sebelum mulai ngerjain apapun.
cc : anitarisoraya
Dalam sebuah podcast, Deny Sumargo pernah bertanya kepada Chika, ibu dari Kenneth, bayi yang viral karena kemampuan belajarnya sejak usia sangat dini.
"Kalian pernah cek ke dokter nggak sih, kok Ken bisa secerdas itu?"
Jawaban Chika justru membuat banyak orang berpikir.
"Kalau kata dokter, sebenarnya semua bayi punya potensi. Yang membedakan adalah apa yang diberikan orang tuanya selama 1.000 hari pertama kehidupan."
Menurutnya, stimulasi tidak dimulai saat anak lahir, tetapi bahkan sejak masih di dalam kandungan.
Saat usia kehamilan sekitar 28 minggu, ketika pendengaran janin mulai berkembang, mereka rutin mengajak bayi berbicara. Bahkan sang ayah sering membacakan buku, bukan agar bayi langsung memahami isinya, tetapi supaya terbiasa mendengar suara orang tuanya.
Setelah lahir, Kenneth dikenalkan dengan buku hitam putih (contrast book) saat tummy time untuk membantu stimulasi penglihatan sekaligus melatih otot leher dan motoriknya.
Saat memasuki usia sekitar tiga bulan, ia mulai dikenalkan pada buku dengan berbagai tekstur untuk merangsang indra peraba dan membiasakannya mengeksplorasi berbagai sensasi.
Ketika mulai bisa menunjuk benda, orang tuanya juga tidak langsung mengambilkan apa yang diinginkan.
Mereka mengajak Kenneth berkomunikasi.
Misalnya, "Adik mau yang ini? Ini namanya tisu."
Cara sederhana seperti itu membantu memperkaya kosakata sekaligus melatih kemampuan berpikirnya.
Yang paling menarik, orang tuanya mengatakan bahwa mereka tidak mengejar anak yang sekadar pintar secara akademis.
Mereka lebih mengutamakan adab, kemandirian, kemampuan bernalar, dan nilai-nilai kehidupan.
Bagi mereka, kepintaran hanyalah bonus.
Terlepas dari kisah Kenneth, penting diingat bahwa setiap anak berkembang dengan kecepatan dan cara yang berbeda. Tidak semua anak akan mencapai kemampuan yang sama pada usia yang sama, dan itu bukan berarti ada yang gagal. Faktor seperti kesehatan, lingkungan, stimulasi, serta perbedaan individu juga berperan besar dalam tumbuh kembang anak.
Menurut kalian, seberapa besar pengaruh pola asuh dan stimulasi di rumah terhadap perkembangan anak dibandingkan dengan faktor bawaan atau genetik?
@gueiava Sbnrnya bikin acara kan artinya mampu ya, sebaiknya memang tdk mengharapkan kembalian dr angpau. Secara ga lgsg ngadain hajatan adalah bentuk syukur dan mau membagikan rasa bahagia dan rezeki kita kepada yg kita undang. Yakin aja setelah hajatan itu, segalanya dipermudah
@sampahfhui@changaaa13 Yang bikin miris, mereka ini calon orang hukum, harusnya paling paham soal etika, martabat, dan konsekuensi hukum. Tapi malah normalize pelecehan tiap hari. Lama-lama jadi budaya, dan itu bahaya banget.
tolong dong @fakultashukumui@alsalcui@ilmsfhui @ppksui @HMIFHUI @/shareui ditindak orang-orang ini. gila banget kalau sampai ga ada sanksi atau tindakan dari kampus/organisasi.