@able98able98 Ya mending begitu, nyinyir langsung arahin ke bertanggungjawab, biar sama2 kritik sistem karena pasien dan nakes dirugikan sistem. Bukan malah klasis nyuruh pindah ke ruang jenazah, ngatain ini itu lah.
@MrLLL21@laenith Gak membenarkan tindakan nakes yang semena mena ke pasien. Tweetnya perasaan cuman ngegambarin kondisi yang di lapangan, tapi kenapa jadi melebar ke mana mana. Itu tuh kritik buat BPJS untuk benahi sistem.
Iya betul sama2 manusia tapi ada code of conduct dalam menghadapi pasien dan ada caranya menanggapi complain dari pasien.
Pasien tidak kooperatif marah2 sampe mukul ada, banyak malahan tapi bukan berarti jempol bisa enteng menghujat di depan umum.
Menurut saya, sebagian nakes merasa profesinya ikut diserang. Mereka tahu bahwa antrean ruangan tidak selalu berarti pasien ditelantarkan. Ada sistem triase, keterbatasan tempat tidur, dan banyak faktor lain.
Tapi... perasaan tersinggung tidak boleh menghilangkan empati.
Orang yang menulis tweet itu adalah pasien. Saat itu ia sedang sakit. Sekarang beliau sudah meninggal.
Apakah kematiannya ada hubungannya dengan antre 8 jam? Saya tidak tahu karena tidak tahu kejadian nya.
Tetapi satu hal yang pasti, komentar yang menghina pasien tetap tidak bisa dibenarkan.
Sebagai tenaga kesehatan, kita boleh meluruskan informasi yang keliru. Bahkan itu penting.
Namun cara menyampaikannya juga mencerminkan profesi kita.
Ilmu membuat kita mampu menjelaskan. Empati membuat orang mau mendengarkan.
@TabatiereMaddok Peristiwa jadul
Pasien : kira-kira berapa biaya operasinya Dok ?
Dokter : sekitar 3 sampai 5 juta
Beredar di media: Dokter minta 5 juta buat operasi.
Sebenarnya kalau kita mau buka ruang diskursus mendalam soal fenomena "Lama menunggu di gara-gara gak dapat ruangan", gak sesederhana Faskes gak mau terima pasien atau bahkan Nakesnya gak usaha buat carikan, tapi ini adalah persoalan sistemik yang serius
Indonesian salaries are so low -- even Starbucks Baristas in Singapore make more than Software Engineers in Jakarta.
That's why our top people prefer to leave.
The issue is Indo companies can't afford higher salaries, because of low profit margins.
The only solution to stop our brain drain is to make it easier for top Indos to start their own companies
Ease regulation, remove bureaucracy, and champion local founders.
alasannya ga jauh2 dari perempuan sudah berkorban demi keluarga, tapi lakinya cari pelarian (karir) dengan hobi. kita tak pernah sanggup nyali untuk bahas kenapa perempuan mengorbankan hidupnya dalam keluarga (melanjutkan keturunan).
Saldo temanku tersedot terus menerus atas nama “tagihan listrik” sampai jutaan rupiah. Orangnya sudah lapor ke kepolisian dan sampai hari ini belum ada kejelasan. Bahkan sekarang ada semacam peringatan (atau ancaman?) data dirinya akan disebar.
Ada yang tahu ya ini harus lapor ke mana lagi? Ke PLN? Ke pihak Tokopedia? Atau harus gimana?
TERNYATA INI ALASAN BELIAU BIKIN KREASI MAKANAN DAN BUKAN CUMA BUAT KONTEN... 🥹
tadi bu kimpul/bu black sheep sempat live bentar sebelum dibatasin tiktok, dan beliau cerita kenapa sering bikin makanan yang dianggap "aneh"
beliau cerita kalau punya tanah peninggalan ayahnya yang dulu banyak ditanami kimpul, mbote, kentang klesi, jagung, dll. sekarang tanaman-tanaman itu udah mulai jarang ditemui. petani mudanya juga makin sedikit
pas ke pasar pun beliau lihat yang jual tempe benguk, ongol-ongol, dan makanan tradisional lainnya kebanyakan udah orang tua. terus beliau kepikiran, "kalau bukan anak muda yang nerusin, nanti penjual dan makanannya siapa yang melanjutkan?" 😔💔
makanya beliau sengaja bikin makanan tradisional dikemas jadi makanan yang lebih familiar buat anak muda. harapannya bukan cuma viral, tapi bikin orang penasaran dan akhirnya mau nyobain bahan pangan lokal Indonesia
beliau juga bilang, bukan berarti makanan modern itu jelek. cuma menurut beliau, banyak pangan lokal kita yang gizinya juga bagus, bahkan ada yang bisa lebih baik, tapi mulai terlupakan....