Semalem gue abis ribut sama laki-laki yg bikin diskursus “PATRIARKI BOLEH DILAKUKAN KE WANITA MISKIN” and this is what they said, “ya soalnya gue udah nolong lu keluar dari kemiskinan, tugas lu dengerin gue”.
Banyak dari mereka (laki-laki) masih liat kita as a slave to own btw.
Salah satu penulis kami berefleksi tentang pengalamannya sebagai ibu baru. Perasaan bersalah kerap menghantui ketika kebutuhan anak tidak terlengkapi maksimal, sesuatu yang selama ini diwariskan pada perempuan saja.
Padahal seperti pepatah asal Afrika, “Perlu orang sekampung, untuk membesarkan anak”, rasa bersalah itu harusnya tidak ditanggung perempuan—terutama ibu—sendiri.
Jadi keinget kemarin aku nemu quotes ngena banget dari lapak sebelah, yg bunyinya:
"If becoming religious has made you more judgmental, maybe you should check if you're worshipping god or your ego"
Dan menurutku, selain dari nilai-nilai yang diajarkan agama, memperlakukan orang dengan baik juga bisa berangkat dari sesederhana memahami basic humanity, yaitu memperlakukan orang sebagaimana kita ingin diperlakukan. Dan gaada kan orang yg mau di-treatment buruk?
aku setuju! dealing with people with low emotional intelligence is exhausting huff! 🥲
ini sedikit tips dari aku supaya kamu ngga drained,
1. turunin ekspektasi terhadap responnya
jangan berharap dia bakal ngerti perasaan kamu atau minta maaf dengan cara yang "pas". biar kamu nggak makin capek karena berharap sesuatu yang kemungkinan besar nggak bakal kejadian.
2. set boundary yang jelas
kalau dia gampang emosi/reaktif, komunikasi lebih efektif kalau to the point dan nggak banyak basa-basi yang bisa disalah artikan. fokus ke fakta aja.
3. jangan ikut kebawa emosi ya!
orang dengan regulasi emosi rendah biasanya "nular" bikin orang di sekitarnya ikut tegang. coba tetep tenang, jangan react ke tone mereka, respond ke isinya aja.
4. kasih jarak kalau situasinya makin panas
kalau ngerasa udah nggak produktif diomongin saat itu, boleh banget bilang "kita lanjutin nanti ya" nggak semua percakapan harus selesai saat itu juga.
5. jangan biarin dia ambil semua energi kamu
habis berurusan sama orang yang draining, jangan sampai mood kamu ikut rusak seharian. cari waktu buat reset, lakuin hal yang bikin kamu balik tenang.
ada yang punya tips lainnya?
Ternyata semakin kamu memberi makan otak dengan rasa bahagia, optimisme, dan tujuan, semakin kuat dan sehat kamu dari dalam.
Setiap pikiran yang berulang mempengaruhi kimia otak: dopamin, serotonin, kortisol, adrenalin.
Pikiran yang penuh ancaman membuat tubuh siap berperang. Pikiran yang lebih tenang dan bermakna membuat tubuh lebih stabil.
Makanya orang yang terus mengisi kepala dengan kekhawatiran seringkali lebih mudah sakit, lebih mudah lelah, dan lebih sulit pulih.
Sementara yang melatih rasa syukur, tujuan, dan makna perlahan membangun ketahanan dari dalam.
Bukan berarti harus selalu bahagia.
Tapi semakin sering kamu mengarahkan perhatian
ke apa yang masih ada,
ke apa yang bisa dikontrol, dan
ke arah yang ingin dituju…
Otak dan tubuh mulai mengikuti.
Yang kamu pikirkan berulang kali akan menjadi lingkungan internalmu.
Pilih dengan lebih hati-hati apa yang kamu izinkan tinggal di dalam kepala.
Ternyata semakin kamu memberi makan otak dengan rasa bahagia, optimisme, dan tujuan, semakin kuat dan sehat kamu dari dalam.
Setiap pikiran yang berulang mempengaruhi kimia otak: dopamin, serotonin, kortisol, adrenalin.
Pikiran yang penuh ancaman membuat tubuh siap berperang. Pikiran yang lebih tenang dan bermakna membuat tubuh lebih stabil.
Makanya orang yang terus mengisi kepala dengan kekhawatiran seringkali lebih mudah sakit, lebih mudah lelah, dan lebih sulit pulih.
Sementara yang melatih rasa syukur, tujuan, dan makna perlahan membangun ketahanan dari dalam.
Bukan berarti harus selalu bahagia.
Tapi semakin sering kamu mengarahkan perhatian
ke apa yang masih ada,
ke apa yang bisa dikontrol, dan
ke arah yang ingin dituju…
Otak dan tubuh mulai mengikuti.
Yang kamu pikirkan berulang kali akan menjadi lingkungan internalmu.
Pilih dengan lebih hati-hati apa yang kamu izinkan tinggal di dalam kepala.