Approval Rating Prabowo Amblas, Alarm Kekecewaan Rakyat!
“Angka tidak pernah berbohong. Yang perlu kita lakukan adalah mendengarkannya.”
Dalam sembilan bulan terakhir, hasil survei nasional SMRC menunjukkan perubahan yang sangat besar.
Tingkat kepuasan terhadap kinerja Presiden turun dari 81,2 persen menjadi 51,1 persen.
Di saat yang sama, tingkat ketidakpuasan naik hampir tiga kali lipat, dari 16 persen menjadi 46,9 persen.
Bukan hanya itu.
Dalam survei yang sama, semakin banyak responden menilai kondisi ekonomi nasional memburuk dibanding beberapa bulan sebelumnya.
Artinya apa?
Ini bukan sekadar soal popularitas.
Ini adalah sinyal bahwa sebagian besar masyarakat sedang menyampaikan kekhawatiran mereka.
Dalam demokrasi, survei bukan vonis.
Survei adalah alarm.
Alarm bukan untuk dimatikan.
Alarm adalah pengingat bahwa ada persoalan yang perlu dijawab.
Setiap pemerintahan tentu menghadapi tantangan.
Tetapi ketika kepercayaan publik terus menurun, respons yang dibutuhkan bukan sekadar narasi.
Yang dibutuhkan adalah kebijakan yang dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.
Karena pada akhirnya, legitimasi yang paling kuat bukan berasal dari slogan.
Melainkan dari kepercayaan rakyat.
Tahun 1957 Sumitro Djojohadikusumo adalah salah satu ekonom paling berpengaruh di Indonesia. Ia pernah menjabat Menteri Perindustrian dan Perdagangan, lalu Menteri Keuangan, dan menjadi salah satu pentolan Partai Sosialis Indonesia. Ayahnya, Margono, mendirikan Bank Negara Indonesia.
Pada 26 Maret 1957 Sumitro memenuhi panggilan Corps Polisi Militer(CPM) di Bandung untuk diperiksa soal dugaan penyalahgunaan keuangan. Dua bulan kemudian dia menghilang dari Jakarta.
Di luar Jawa, daerah sedang bergolak. Pada 2 Maret 1957 Letkol Ventje Sumual memproklamasikan Permesta di Manado, menuntut otonomi dan memprotes ketimpangan antara Jawa dan luar Jawa.
Teks proklamasinya menegaskan mereka tidak melepaskan diri dari Republik. Sumitro bergabung dengan para perwira pembangkang di Sumatra, lalu berkeliling Singapura dan Eropa mencari dukungan.
Januari 1958, di Singapura, Sumual dan Sumitro bertemu orang CIA untuk pertama kalinya. Amerika membuka operasi rahasia bersandi HAIK, bernilai sedikitnya sepuluh juta dolar. CIA Singapura mengurus Sumatra, CIA Manila mengurus Sulawesi.
PRRI diproklamasikan 15 Februari 1958 di Bukittinggi. Dua hari kemudian Permesta memutus hubungan dengan Jakarta. Perang pecah. Pada 18 Mei 1958 pesawat pilot CIA Allen Pope ditembak jatuh, dan keterlibatan Amerika terbuka ke publik.
Pemberontakan itu kalah. Sumitro sempat berkeras bertahan di hutan sampai Sumual membujuknya berkali-kali agar pergi. Ia diterbangkan dengan pesawat Catalina dari tepi Danau Tondano.
Sukarno menawarkan pengampunan asal para pemberontak minta maaf dan mengakuinya sebagai Pemimpin Besar. Sumitro menolak. Ia membawa istri dan anak-anaknya berpindah negara selama hampir sepuluh tahun. Tuduhan korupsi terhadapnya tidak pernah dibuktikan.
Setelah Sukarno jatuh, Sumitro pulang tanpa pernah diperiksa lagi. Tahun 1968 ia menjadi Menteri Perdagangan.
Anak lelakinya baru berumur lima tahun ketika pelarian itu dimulai. Masa kecilnya habis berpindah sekolah di Kuala Lumpur, Zurich, dan London. Namanya Prabowo Subianto.
Pertanyaan refleksinya, Bagaimana perasaan Anda kalau seumur hidup bekerja untuk negeri ini, lalu disebut pengkhianat tanpa satu pun bukti? Sedangkan yang menuduhkan itu punya bukti sejarah yang terang bahwa keluarganya adalah pelaku.
Bagaimana perasaan Anda kalau hidup dan bekerja untuk negeri ini, lalu disebut pengkhianat tanpa satu pun bukti? Sedangkan yang menuduhkan itu punya bukti sejarah yang terang bahwa keluarganya adalah pelaku.
Indonesia butuh hard reset. Bangun ulang semua tatanan dari nol, seakan seperti saat baru merdeka. Kerusakan, ketamakan, korupsi, dll yang terjadi sudah sangat akut. Multidimensional. Struktural. Terjadi di semua sektor, di seluruh lapisan strata sosial.
@dennyindrayana Tidak cukup memberhentikan Gibran. Presiden Prabowo adalah penikmat manipulasi konstitusi putusan MK yang memungkinkan Gibran maju pilpres. Maka keduanya semestinya tidak layak memimpin bangsa ini.
@kompascom Presiden benar2 gak paham atau pura2 gak paham soal substansi kritik masyarakat terhadap MBG?
Kritik publik bukan soal 'perut lapar gak penting', tapi soal kenapa banyak keracunan, korupsi di BGN, dapur dimonopoli, dan anggaran gede tapi mutunya diragukan.
@Beritasatu Presiden benar2 gak paham atau pura2 gak paham soal substansi kritik masyarakat terhadap MBG? Kritik publik bukan soal 'perut lapar gak penting', tapi soal kenapa banyak keracunan, korupsi di BGN, dapur dimonopoli, dan anggaran gede tapi mutunya diragukan.
Presiden benar2 gak paham atau pura2 gak paham soal substansi kritik masyarakat terhadap MBG?
Kritik publik bukan soal 'perut lapar gak penting', tapi soal kenapa banyak keracunan, korupsi di BGN, dapur dimonopoli, dan anggaran gede tapi mutunya diragukan.
Udahlah, kita lengserin aja ini orang!
Nama kapolri dan kabareskrim yang baru dengar2 sudah diputuskan. Tinggal diumumkan dalam waktu dekat.
Akankah ada manuver menggagalkan nama yang sudah diputuskan tersebut?
Ngeri!!! Dari koper jampidsus ini aja ada 9 gepok duit.
Pertarungan elite semakin terbuka. Jaksa, TNI, Polri.
Menunjukkan betapa lemahnya presiden Prabowo.