Haqq. (Currently) Doctoral Student @CASAUCL. (Mostly) Urban planner | (Arbitrarily) Spatial data scientist @UGMYogyakarta. Usual disclaimer and all that jazz.
you should be concerned
this is a specific personality archetype in itb which you can usually detect at the first year’s TPB physics exam LOL
- there is a hint of “i can do better than sri mulyani” from the tone and mannerism as if this is a class competition but no substance on how exactly he will do that
- limited appreciation for complex adaptive system like econ or financial market. not everything can be solved as engineering problem set homework. will he have enough toolkit / intuition to process the consequence of his policies across our system? doubt
- zero media / PR sensitivity. says whatever he wants in first day but chickened out in the second day, he is shocked at media reaction but has audacity to gaslight the media who quoted him VERBATIM lol. but this is penyakit fresh grad aja which over their career, itb grads will gradually learn. him not having this at his age is a red flag, a slow learner
highly likely he will overpromise (which prabowo will take at face value) and underdeliver because of reasons above, probably will be reshuffled in <12-18 months. unlike sacking SMI, IHSG will go up at this time LOL
1) Itu skripsi Bu, bukan jurnal top.
Skripsi dibandingin sama paper di Nature?
Seriusan?
Beda tujuan, beda pembaca, beda isi, beda level penulis, dan beda juga apa yang ditulis.
Biaya riset paper di Nature juga gak mungkin dari pribadi mahasiswa.
2) Kan Ibu Wakil Menteri Dikti?
Ketok-ketok lah itu ruangan Pak Menteri di sebelah.
Atau invite di kalender, pinjem ruang rapat sebelah.
"Pak, skripsi-skripsi di kampus ini terlalu prosedural dan panjang."
"Kita rumuskan peraturan menteri yang mengatur skripsi isinya apa aja dan berapa halaman."
Kan Ibu punya segala kuasa dan sumber daya buat mengubah itu?
Teman mahasiswa Indonesia di UK, ayo ikut bersolidaritas dengan aksi #IndonesiaGelap dengan tandatangani pernyataan sikap ini: https://t.co/3Gb5hyWjad
Ada pengumpulan donasi juga di dalamnya bagi yang berkenan. Yuk!
Gue… selalu berusaha utk gak mempermalukan Indo but today I didn’t have the choice😭
Kami presentasi ttg transport appraisal utk proyek KCIC. Hasilnya, tentu, unsustainable.
Teman: If it has that much of a risk, then why did your government build it?
Gue, mau nangis: EXACTLY
@bincangurban Hi, aku personally juga sering merasa gini bahkan di jenjang doktoral sekarang. Tapi Alhamdulillah selalu diingatkan tentang kepercayaan rakyat Indonesia via beasiswa untuk make the case for them in global discourse. It’s a long and winding road, tapi tenang aja ga sendirian kok
100 hari Kemdiktisaintek:
1) Batalin Peraturan Menteri sebelumnya tentang Tunjangan Kinerja Dosen yang harus dibayarkan.
2) Gak mau nego ke Kemenkeu kalau memang belum ada anggarannya padahal amanat Undang-Undang tentang Tukin.
3) Lihat di bawah.
Yah sebagai pendidik sih jelas tamparan karena homebase di bidang STEM. Karena lagi disuruh ngayal 4 tahun, kepikirannya: “kapan kita bisa produksi ilmu pengetahuan STEM dengan konteks Global South?”
Jadi inget bareng temen-temen berlatarbelakang Sospol ngetawain fenomena ‘STEM Indonesia’, yang mana adalah anak didikan STEM tapi nggak paham konteks, mau proses penciptaan ilmunya, mau penggunaan ilmu untuk memahami fenomena dunia nyata, apalagi keterbatasan ilmu itu.
Orang2 yang belajar STEM udah mulai ngeliatin dampak Tyranny of Merit: ngerasa ilmunya lebih superior dari ilmu lain, merembet sampe ke profesi2nya.
Padahal metodologi STEM gak menangkap semua realita dalam kepala manusia; gak seluruh aspek peradaban bisa diselesaikan pake STEM.
Di masa suram karena anggaran pendidikan tinggi yang dibegitukan (untuk penelitian terutama), justru penelitian tugas akhir mahasiswa kayak gini yang masih bisa digenjot
Gatel sih. Tapi justru dari judul aja udah lintas disiplin: critical methodology, digital anthropology, gender studies, human geography, to say the least.
@dhupee_haj Dari judulnya aja terlalu spesifik, tapi spesifik yg besar kemungkinan ga bisa lintas disipliner ilmu, jatuhnya inward-looking, klo pun ada riset lain bawa" mpreg paling jg itu" aja karena subkultural fiction (bikinan fandom)