@InteristaLK Akhirnya tiba berpisah ma dumdum.. dari yg awal main pergerakannya kaku sampe sekarag suka tiba² muncul dr blind side dan cetak gol..gud luck champ!
Sumpah serem bgt anjir. Soal kasus Ibam, ada cerita menarik yang ditulis di Tempo:
“Saya diminta membuat pernyataan yang mengarah ke atas, dengan ancaman bahwa jika saya tidak bisa membuat pernyataan seperti itu, perkara ini akan diperluas,” kata Ibam dalam konferensi pers di sebuah restoran di Jakarta Pusat, Selasa, 21 April 2026.
"Tidak ada. Saya tidak bisa membuat apa-apa karena memang tidak ada fakta yang mengarah ke atas," ujar Ibam.
Setelah itu, mereka menjawab, "Oke, akan kami proses"... Tiga minggu kemudian, Ibam menjadi tersangka.
SEREM ANJIR. Kayak gini dilawan pake narasi patriotisme-nya Ibam atau Ibam ga nerima duit juga susah kalo emang awalnya udah niat menjarain.
https://t.co/Yh87JJmgCT
Guys, Atta Halilintar ngobrol panjang sama Dr. Aisah Dahlan praktisi neurosains dan parenting dan ini salah satu podcast yang paling banyak ilmunya soal otak, pernikahan, dan cara mendidik anak.
Bukan omong kosong.
Ada riset di baliknya.
Otak laki-laki dan perempuan itu berbeda secara struktural:
Dr. Aisah menjelaskan satu bagian otak yang namanya hipotalamus bentuknya segitiga kecil di dalam kepala.
Dan di sinilah semua drama rumah tangga sebenarnya bermula.
laki-laki secara biologis memang dirancang untuk sangat sensitif soal harga diri.
Bukan lebay.
Bukan drama.
Itu settingan otaknya.
Kesalahan yang diam-diam merusak pernikahan:
Satu menegur suami di depan orang lain.
Ini yang paling sering terjadi tanpa disadari.
Tegur suami di depan teman-temannya.
Di depan saudaranya.
Bahkan di depan anak-anaknya.
Jangankan depan temannya tegur dia depan anaknya saja sudah berbahaya.
Besok-besok bukan kita yang dimarahin.
Anaknya yang kena.
Kenapa?
Karena hipotalamus yang berfungsi menjaga marwah diri itu langsung terpicu.
Dan laki-laki yang hipotalamusnya sudah kena"tidak selalu meledak.
Banyak yang diam.
Diam. Diam. Lalu pergi.
Dua bilang aku juga bantu cari nafkah.
Kalimat ini terdengar wajar.
Tapi di otak laki-laki kata nafkah langsung memicu hipotalamus.
Dr. Aisah sendiri pernah bilang kalimat itu ke suaminya. Suaminya langsung merah mukanya.
Baru setelah belajar neurosains dia mengerti kenapa.
Jangan bilang nafkah.
Bilangnya jemput rezeki.
Dua kalimat itu berbeda tangkapannya di otak laki-laki.
Rezeki boleh.
Semua orang bisa jemput rezeki.
Tapi nafkah itu tanggung jawab laki-laki secara biologis dan spiritual.
Begitu istri mengklaim itu hipotalamus suami tersinggung.
Tiga mengambil semua gaji suami.
Banyak pasangan yang modelnya gajian langsung ke rekening istri.
Di permukaan kelihatan praktis.
Tapi menurut Dr. Aisah ini berbahaya karena memotong kemampuan suami untuk merasa sebagai pelindung.
Laki-laki juga harus punya uang untuk sedekah,
untuk membantu orang tua,
untuk berinvestasi,
untuk kebutuhannya sendiri.
Kalau semua harus minta ke istri hipotalamus marwah dirinya kena.
Dan itu bisa jadi akar masalah yang tidak langsung kelihatan.
Kenapa laki-laki yang selingkuh
sering pilih yang lebih rendah dari istrinya:
Ini yang paling mengejutkan dari penjelasan Dr. Aisah.
Berdasarkan data konseling yang dia tangani hampir 80% perselingkuhan suami itu melibatkan perempuan yang secara rupa, pendidikan, ekonomi, atau status sosial lebih rendah dari istrinya.
Bukan karena nafsu semata.
Tapi karena di sana hipotalamusnya dihargai.
Di sana dia merasa jadi pahlawan.
Di sana tidak ada yang menyinggung marwah dirinya.
Laki-laki butuh merasa dianggap pahlawan keluarga. Kalau itu tidak dia dapatkan di rumah dia akan cari di tempat lain.
Cara komunikasi yang ternyata salah:
Perempuan saat ada masalah ingin langsung dibicarakan dan diselesaikan hari itu juga.
Laki-laki justru sebaliknya butuh diam dulu untuk menganalisa, mensintesa, dan menemukan solusi sebelum siap bicara.
Kalau istri terus mendesak suami yang sedang diam bukan masalah yang selesai.
Yang terjadi adalah hipotalamus makin tertekan.
Tunggu aja.
Suami akan cerita setelah dia punya alternatif solusi. Mungkin bukan malam itu.
Mungkin besok.
Mungkin minggu depan.
Dan ketika suami hanya balas chat dengan OK
itu bukan tanda dia tidak peduli.
Itu karena jumlah kata yang diproses otak laki-laki memang tidak sebanyak perempuan.
Kalau suami sudah balas jaga kondisi itu sudah effort besar bagi otaknya.
Banyak kerusakan dalam pernikahan bukan karena tidak cinta.
Tapi karena tidak tahu cara kerja otak pasangan.
Laki-laki tidak minta dihormati karena ego.
Otaknya memang dirancang begitu.
Perempuan tidak minta dijelaskan dan ditemani karena manja.
Otaknya memang butuh itu.
Kalau kita tahu settingannya banyak pertengkaran yang sebenarnya tidak perlu terjadi.