Its like "semua orang bebas beropini" dan opininya adalah tentang semua orang harus menindas dan membunuh minoritas. Be fr ah lo semua, dasae gapunya empati
@NurCahhyono Well it is something that people cant change, and when they can't change it, people starting to threatened, abuse and kill them, so yes it is bentuk penindasan dan ajakan pembunuhan.
People are quick to say suicide is selfish, but they’ve never stood on the edge, holding a list of reasons to stay, and realized none of them are for themselves.
Si Taufik Hidayat ini sangat sadis dan biadab kelakuannya.
Tapi karena dia heteroseksual, tidak ada hujatan yang dihubungkan ke orientasi seksualnya.
Coba pelakunya LGBT, waduh pasti yang dibahas langsung orientasi seksualnya, sampai berjilid-jilid.
Homofobik memang munafik 🙄
Bahlil soal Pertamax yang naik 32%:
"Pakai mobil Mercy, nongkrong di mal, minta BBM-nya disubsidi. Malu dikitlah."
Surya, ojol Semarang, juga pakai Pertamax.
Bukan karena gaya-gayaan. Motor injeksinya berkerak kalau diisi Pertalite, dia sudah coba 2 bulan. Sekarang kerja 7 jam sehari buat nutup selisih harga.
Agung, ojol Medan, mau pindah ke Pertalite tapi was-was sama mesin.
Nasi di warung langganannya naik dari Rp10.000 ke Rp12.000. Dia juga nambah jam.
Dua-duanya bukan pemilik Mercy, Pak Menteri.
Kalimat "malu dikitlah" itu terdengar gagah dari podium INDEF. Terasa berbeda dari balik stir motor ojol jam 7 pagi.
Mercedesnya di mana?
@kenzzfreaks Kalo mau begitu mainnya, kaum hetero juga banyak yg melakukan pelecehan seksual tuh. Pelecehan mah emg salah mas. Konteks disini tuh tentang human rights, bukan mendukung perlakuan kriminal.
A Scottish fan chanted, "Free Palestine."
"I was a nurse in Gaza. I volunteered in Gaza. I’ve seen what happens. There is a genocide. Free Palestine."
She's a hero.
no shade it’s actually scary how many people think misogyny has to present itself as extreme hatred of women and violent rhetoric for them to consider it as such. casual misogyny is dangerous precisely because it often presents itself as normal, harmless, or “just a joke”
Pdhal logikanya sederhana, kelompok marginal itu cuma pengen punya hak buat hidup tenang dan aman tanpa ditindas. Sementara org yg mendiskriminasi itu pengen punya "hak" buat mengusik hidup org lain.
Dua hal ini beda jauh, ga bisa disamain sbg sesama "kebebasan".
Some people spent so much of their lives trying to survive that they never got the chance to learn how to swim, speak a foreign language, play an instrument, travel, or simply explore life beyond work and responsibilities. That’s a side of poverty we rarely talk about.
apakah ini terlihat normal???
ga ada orang normal yang obsessed terhadap kelompok marginal sampe ngancem bunuh. u're sick, ga sehat, ga normal. being "normal" ga harus "membenci"
normal people = dgaf about queer, minding their own business.