anjir jd ovt, ini akun sampah, tlg kalo gak nyaman bub aja yah, aku gaenak sering ngetik kotor dan seperti tidak beragama 🙏 ini akun rant aja sih keknya gak jelas akun gado2 pelis
kok org2 punya energi segini banyak? pengangguran apa gimana? kalo iya tlg energinya dipindah ke cari kerja, kerja apapun itu, biar ngerasain pergi jam 8 pagi bslik jam 11 malem, mau me time juga gaada waktu besoknya udh kerja lagi, hari libur buat nyuci baju
Wanita Hamil ditendang preman di terowongan tembung, diduga pengendara takut melintas karna ada tawuran eh si preman disitu nyuruh jalan pengendara tapi si pengendara gamau karna khawatir sama istrinya dan terjadilah penganiayaan.
infonya premannya ketangkep dan positif pompa
Kalau rupiah benar-benar tembus Rp20.000 per dolar, ada satu kelompok yang bisa sangat tertekan.
Bukan orang miskin.
Bukan juga orang kaya.
Tapi kelas menengah.
Kelompok yang "terlalu kaya" untuk dibantu tapi "belum cukup kaya" untuk terlindungi.
Mereka terlihat baik-baik saja dari luar.
Padahal sedang menopang semua bebannya sendiri.
Cicilan rumah, sekolah anak, orangtua yang mulai menua, dan standar hidup yang harus terus dipertahankan.
Masalahnya, selama bertahun-tahun banyak yang mengira mereka sedang membangun kekayaan.
Padahal yang dibangun baru kehidupan yang lebih mahal.
Penghasilan naik, tapi cicilan ikut naik.
Penghasilan naik, tapi kebutuhan ikut naik.
Penghasilan naik tapi rasa aman tidak ikut naik
Itulah mengapa banyak keluarga merasa:
“Gaji saya jauh lebih besar dibanding beberapa tahun lalu, tapi kenapa hidup terasa lebih berat?”
Kalau dolar benar-benar menuju Rp. 20.000, yang perlu dikhawatirkan bukan cuma kursnya, tapi kenyataan bahwa banyak keluarga akan baru sadar:
selama ini mereka hidup nyaman bukan karena keuangannya yg kuat, melainkan karena kondisi ekonomi masih cukup baik untuk menopangnya.
dan ketika kondisi itu berubah…
yang bertahan bukan siapa yang bergaji besar tapi siapa yang punya bantalan finansial.