@Narasi_winda Di Dunia ini ada Hukum Alam yang Berlaku :
Sopo Nyilih Mbalekake
Siapa yg Pinjam Wajib Memulangkan
Sopo Ngutang Nyaur
Siapa yg berhutang harus membayar
Sopo Nandur Undhuh
Siapa yg Menanam Menuai
Ngunduh Wohing Pakarti
Memetik Hasil Perbuatan
Jgn Merasa Paling Benar !
Jangan gunakan pendidikan kamu sebagai alat untuk merasa di atas orang lain. Cinta Laura
Kick andy goes to campus Minggu 14/04/24 Pkl.21.05 wib di @metrotv
Tentara Israel mengejek & menghancurkan sebuah masjid di Gaza, mengabaikan perasaan keagamaan.
Desakan mereka ntk menghina perasaan keagamaan ibarat menanam benih bagi generasi mendatang tanpa ada belas kasihan terhadap mereka.
Kegilaan dan kebrutalan Israel harus diakhiri.
Pada 21 Agustus 1969, Masjid Al
Aqsha dibakar. Api dengan segera melahap sajadah, mushaf Al Quran, atap masjid dan beberapa bagian-bagian masjid yg terbuat dari kayu. Salah satu yg turut terbakar adalah mimbar yg dibuat pada tahun 1187 dan diletakkan di Al Aqsha oleh pemimpin dan pahlawan umat Islam Shalahuddin Al Ayyubi, sang pembebas dan pembuka Al Quds pada tahun yg sama setelah mengalahkam tentara salib yg dipimpin oleh Richard I (The Lionheart) dari Inggris setelah berkuasa hampir 1 abad di sana.
Pelaku pembakarannya adalah seseorang yg berasal dari Australia bernama Dennis Michael Rohan yg didukung penuh oleh pemukim pendatang Zionis Israel lainnya di sana. Umat Islam setempat berusaha memadamkan api tersebut. Namun, upaya tersebut dihalangi oleh tentara Zionis Israel.
Dennis Michael Rohan ditangkap dua hari kemudian pada tanggal 23 Agustus 1969. Namun dibebaskan atas alasan gangguan jiwa.
Hal yg lebih βmenarikβ adalah pernyataan Perdana Menteri Israel Golda Meir (PM perempuan satu-satunya) pada saat terjadinya kebakaran di Masjid Al Aqsha tersebut. Ia mengaku tidak bisa tidur karena takut negara-negara Arab sekitar dan dunia Islam menyerang Israel sebagai bentuk perlawanan atas terbakarnya Masjid Al Aqsha dan juga kekalahan perang Enam Hari pada tahun 1967, dua tahun sebelumnya. Namun, besoknya ternyata tidak terjadi apa-apa.
Muncullah pernyataan Golda Meir yg diabadikan dalam catatan sejarah yg seharusnya menjadi tamparan keras negara-negara Arab dan dunia Islam:
βAku tak bisa tidur di hari ketika Al Aqsha terbakar. Dan aku mengira hari itu Israel akan musnah. Namun ketika aku menjumpai pagi, ternyata malah Arab dan Islam-lah yg sedang tertidurβ.
Hari ini, 54 tahun setelah terbakarnya Masjid Al Aqsha dan pernyataan Golda Meir, apakah Arab dan dunia Islam masih tertidur? Semoga saja tidak.