"Perfection is not attainable, but if we chase perfection, we can catch excellence” – Vince Lombardi, legendary NFL coach.
There are some sports where perfection can be attained, a new world record, or the maximum score in target sports, or when the judges award “perfect” scores in sports like gymnastics. But in any interactive sport, such as badminton, perfection is simply not possible to either define or attain as the athletes are not in complete control of their own performances, they must react and deal with what their opponents do.
In their prime The Daddies were probably as near to perfection as humanly possible. A new level of “excellence” aesthetically, ethically, tactically and technically.
Although clinical in their determination to win, The Daddies always displayed exemplary sportsmanship. They were wonderful to watch and good in all departments of the game appearing to have no weaknesses. They worked tirelessly for each other, complimenting each other’s strengths.
Both had a wonderful defence yet were also superb in attack. Ahsan’s speed and playmaking from the rear court, his clever placement and thunderous smashes delivered with body and soul set up countless opportunities for Setiawan to anticipate, intercept and play his vast array of winners from the front court.
Complimentary styles working in complete harmony. The Daddies were simply excellence personified.
🇹 Together
🇭 Harmonised
🇪 Excellence
🇩 Doubles
🇦 Ability
🇩 Delightfully
🇩 Demonstrated
🇮 Incorporating
🇪 Exemplary
🇸 Sportsmanship
Each had their roles and qualities, Mohammad Ahsan was the playmaker
🇲 Many
🇴 Opportunities
🇭 Hatched
🇦 Amid
🇲 Magnificent
🇲 Manoeuvres
🇦 Appropriately
🇩 Deployed
🇦 Accurate
🇭 Hard
🇸 Smashes
🇦 Absolutely
🇳 Notorious
While Hendra Setiawan
🇭 Habitually
🇪 Exhibited
🇳 Net
🇩 Domination.
🇷 Reflexes
🇦 Amazing.
🇸 Stylish
🇪 Exquisite
🇹 Touch.
🇮 Instinctive
🇦 Anticipation.
🇼 Winners
🇦 Always
🇳 Notable
As they prepare for their final tournament, we can only reflect on what a privilege it’s been to watch “excellence” at work over the years.
Oh, how we’ll miss The Daddies!
📷@badmintonphoto
#Badminton
Madiun ini tata kotanya bagus juga ya. Ramah buat pejalan kaki, trotoar bagus, sepanjang jalan pahlawan n ruas jalan sekitarnya banyak kursi2 yg cukup terawat.
Enak buat jalan kaki malam, hampir jam 11 malam lampu2 kotanya masih terang. Beda bgt sama my hometown, bli karuan 😂
Windy Cantika Aisah menggebrak dunia saat meraih perunggu Olimpiade Tokyo 2020 di usia 19 tahun.
Windy yg punya bakat luar biasa, meraih emas SEA Games Manila saat baru berumur 17 tahun. Dia juga mendominasi kelas 49kg Kejuaraan Dunia Junior dgn total 6 emas.
Dengan kekuatan, bakat, dan mental juaranya, Windy adalah lifter harapan besar Indonesia di panggung dunia. Sayang, semuanya tidak berjalan mulus.
Dalam 2 tahun terakhir, Windy terus berada dalam pusaran lumpur gelap cedera. Tak bisa lepas. Windy dihantam cedera tulang kering, tulang belakang bawah (lumbar), cedera lutut, cedera pinggul...
Hingga akhirnya Windy tidak sanggup lagi menghadapi tubuhnya. Dia memutuskan pensiun pada usia sangat muda, 22 tahun.
Windy, waktumu singkat, kariermu pendek. Tapi kamu mampu meninggalkan jejak kenangan yang luar biasa bagi olahraga Indonesia.
Windy, terima kasih..🙏
VEDDRIQ LEONARDO, 27 TAHUN, DARI PONTIANAK, MEMPERSEMBAHKAN EMAS PERTAMA BAGI INDONESIA DI PARIS 2024!!!!!
BEBERAPA KEPELESET DI FASE2 PENTING, LOLOS KE PARIS PADA GELOMBANG TERAKHIR, VEDDRIQ HARI INI MEMBUKTIKAN KEKUATAN MENTAL, KUALITAS FISIK, DAN KUALITAS TEKNIKNYA!!!!
TERIMA KASIH, TERIMA KASIH, TERIMA KASIH VEDDRIQ!!!!
Perjalanan Rifda begitu panjang, terjal, sulit, menyakitkan.
2017: cedera siku
2018: cedera lutut
2019: cedera paha dalam
2020: patah tulang kering
2022: cedera di kedua lutut, di kaki kiri, di bahu kanan
2023: berlomba dengan cedera lutut kanan di Kejuaraan Dunia 2023. Tetapi di sanalah Rifda mencatat sejarah sebagai pesenam Indonesia pertama yang lolos ke Olimpiade.
2024: Sudah operasi meniskus, tetapi memilih untuk tidak operasi ACL agar bisa tampil di #Paris2024 .
2024: Tiga pekan sebelum berangkat ke Paris lututnya bengkak. Padahal sebelumnya dia sudah bisa memainkan semua alat. Rifda menjadi sangat stres.
2024: Tiga hari sebelum berangkat ke Paris, kondisinya sudah baik dan bisa main 4 alat. Tetapi sesampainya di Paris, saat latihan kedua, dia cedera lagi.
Hari ini, Rifda harusnya tampil pada nomor all around (empat alat). Tetapi dia hanya bisa memainkan satu saja yakni palang bertingkat.
Rifda tampil dengan menahan rasa sakit akibat cedera meniskus dan ACL. Untuk tampil di Olimpiade, Rifda bahkan harus dibantu oleh Eva Novalina, pelatihnya, untuk naik dan mendarat di palang bertingkat.
"Saya ingin sekali tampil di Olimpiade karena ini cita-cita saya. Saya mau buat bangga semua yang sudah mendukung saya," katanya via NOC Indonesia.
"Sekarang rasanya lebih tenang, saya sudah bisa membuktikan bisa tampil di Olimpiade. Saya senang bisa menahan rasa sakit sampai kompetisi selesai."
Hormatku padamu Rifda Irfanaluthfi.
Terima kasih!
Tim Dragon Boat Indonesia di Asian Games 2022
6 Nomor
1 Emas
4 Perak
1 Perunggu
Tidak ada satupun atlet yang gagal membawa pulang medali ke Indonesia.
Keren!
APRESIASI KEPADA:
1. Zubakri
2. Dedi Saputra
3. Andri Agus Mulyana
4. Harjuna
5. Tri Wahyu Buwono
6. Yuda Firmansyah
7. Indra Tri Setiawan
8. Joko Andriyanto
9. Maizir Riyondra
10. Mugi Harjito
11. Muhammad Burhan
12. Sutrisno
13. Sofiyanto
14. Angga Suwandi Putra
Terima kasih telah mengibarkan Merah Putih dan mengumandangkan Indonesia Raya di Wenzhou Dragon Boat Center hari ini.
Mengalahkan China, dalam olahraga tradisi mereka, di kandang mereka.
Kami bangga!
SELESAI
QF Hangzhou 2022
Gregoria Mariska Tunjung 🇮🇩vs Aya Ohori 🇯🇵, 10-21, 19-21.
Untuk kali pertama dalam sejarah, tim bulu tangkis Indonesia gagal menyumbangkan satupun medali di Asian Games.
Sebuah sejarah kelam yg sangat menyedihkan.
📸: PBSI
Malam yang luar biasa indah bagi dunia olahraga Indonesia. Indonesia Raya diperdengarkan di waktu yang hampir bersamaan di panggung bergengsi Asian Games Hangzhou 2023.
Bagi Rahmat Erwin Abdullah, ini adalah pemanasan sempurna menuju Olimpiade Paris 2024. Jika tetap konsisten atau bahkan meningkat dlm beberapa bulan ke depan, dia adalah calon kuat peraih emas Olimpiade.
Bagi Desak Made Rita Kusuma Dewi, emas ini adalah pemanasan yang sempurna untuk menghadapi para speed climber Polandia di Paris tahun depan. Rita, seperti biasa, begitu tenang dan sama sekali tidak kehilangan fokus. Pandangannya tajam. Tidak tergoyahkan. Inilah yang mengantarnya menjadi juara dunia 2023 dan semoga emas di Paris 2024!
Terima Kasih, Para Pahlawan Muda!
Kehilangan Besar
Atlet para tenis meja terbaik Indonesia David Jacobs meninggal dunia hr ini.
David, peraih 2 perunggu paralympic, 3 emas Asian Para Games, 8 emas ASEAN PG, berpulang pd usia 45 thn.
Terima kasih atas inspirasi hebatnya, Bung David. Selamat jalan..
📸:NPC🇮🇩
Seabad hari kelahirannya telah berlalu. Hari ini, satu tahun kemudian setelah 100 tahun, tepat pada 14 Oktober 2022, kami mengenang pernah hidup seorang Hoegeng.
Lahul Fatihah.