Nadin Amizah’s third studio album will be titled ‘Laika, Yang Ditinggalkan.’
The record pays homage to Laika, the female space dog who became the first living being to orbit the Earth but tragically perished hours into the mission due to overheating and extreme stress.
Nadin Amizah’s third studio album will be titled ‘Laika, Yang Ditinggalkan.’
The record pays homage to Laika, the female space dog who became the first living being to orbit the Earth but tragically perished hours into the mission due to overheating and extreme stress.
Dokter dan nakes menyuarakan gaji kalian kecil dan beban kerja berat itu pasti 100% didukung masyarakat.
Tapi yang kalian lakukan di kasus kemarin itu bukan menyuarakan, kalian memaki, menyuruh orang sakit menggores nadinya, menyuruh pasien masuk ke kamar jenazah, membodoh"kan pasien dan ketikan jahat lainnya.
Kalian nakes dan dokter punya masalah dengan tempat kerja, tapi kalian lempar masalah kalian ke pasien yang bahkan dari mereka mungkin tidak lulus SD, tidak bisa membaca, ekonomi kurang, ditambah sakit yang dideritanya.
Sebagai pasien dan warga negara harusnya kami ini, termasuk nakes dan dokter dijamin 100% oleh negara, kami harusnya tak perlu membayar iuran tiap bulan BPJS itu. jadi jangan kalian benturkan kami-kami ini dengan masalah yang anda hadapi.
Jika gaji kalian rendah, jam kerja kalian berat kalian punya organiasi yang begitu banyak untuk memperjuangkannya hak-hak kalian. kami sebagai masyakarat pasti mendukung.
tapi tolong jangan benturkan pasien dengan kalian. kalian mengeluh dengan kami pun tak akan ada hasil. kami ini berasal dari piramida dasar dinegara ini.
Sadly, ini ada benernya 🥺
Peringatan keras buat temen2 yg suka mendem emosi/perasaan secara kronis, alias berlama2 mendem, ga diungkapin, dst.
Ada penelitian yg ngehubungin semua itu dg risiko kematian dini yg lebih tinggi dibanding mereka yg mampu nyalurin emosinya dg baik :(
Karena alm. Yurizal, kebuka semua sifat asli kita.
Kebagun trus liat kasus viral. Aslinya Yurizal cuma curhat “8 jam belum dapat ruangan. Gamau spill RS-nya, soalnya gue pake BPJS.”
Bukan minta dicaci atau minta dihina. Cuma emang lagi sakit dan sedang nungguin kamar, lagi takut dan lelah.
Tapi kolom komentarnya langsung jadi ajang bully pasien. Ada yang bilang “kalau mau pindah cepat, noh ruang jenazah selalu kosong.” Ada yang mengejek PP-nya “kayak orang have tapi aslinya haven’t.” Ada yang menyarankan “serangan jantung aja biar cepet masuk ICU.”
Dan yang paling menyakitkan dari semua itu banyak dari komentar-komentar itu datang dari orang yang diduga tenaga kesehatan. Orang yang justru memiliki sumpah dalam profesinya.
Yurizal akhirnya meninggal. 31 Juli 2026. Keluarganya bilang karena sudsh terlambat ditangani, kondisinya sudah gawat banget dan dia bahkan jarang cerita ke keluarga sendiri soal penyakitnya.
Sekarang baru banyak dari kita yang sadar. Baru banyak yang minta maaf. Baru banyak yang bilang “kita harus lebih empati.” termasuk aku salah satunya🥲
Tapi buat Yurizal, semuanya sudah terlambat. Sekarang semua orang kesulitan minta maaf. Mau minta maaf ke siapa?
Menurutku kasus ini bukan cuma soal satu orang. Ini sebenarnya soal sistemik yang banyak terjadi karena sistem BPJS seperti beban birokrasi, antrean panjang, dan masalah klaim atau masalah lainnya yang dihadapi oleh tenaga kesehatan di RS dan itu sangat tidak sebanding dengan penghasilan yang diterima tenaga kesehatan.
Tapi selain itu, ini juga soal bagaimana sebagian nakes kita merespons pasien BPJS yang mengeluh di media sosial, soal betapa tipisnya empati, betapa mudahnya sebagian orang yang seharusnya jadi penolong, malah jadi yang pertama menghukum.
Tapi aku yakin tdak semua nakes seperti itu. Banyak yang masih manusiawi, masih peduli, masih lelah tapi tetap berusaha. Banyak juga yang sering mengeluh di medsos tentang beratnya menjadi nakes menghadapi pasien BPJS, tapi mereka tidak pernah ikut menghakimi siapapun.
Kasus ini cukup untuk membuka mata kita semua, banyak orang yang sifat aslinya memang dingin, sombong, dan sudah kehilangan rasa kemanusiaan. Tidak hanya ditujukan buat tenaga kesehatan, tapi siapapun itu yang berkomentar negatif tanpa empati sedikitpun di media sosial. Mungkin itu aku, mungkin juga kamu.
Kini Yurizal sudah pergi mendahului kita semua. Namun jejaknya tertinggal. Semoga jadi cermin buat kita semua. Semoga kita semua benar-benar introspeksi. Karena suatu hari nanti, kita semua bisa jadi pasien. Kita semua bisa jadi yang nunggu kamar. Kita semua bisa jadi yang butuh empati.
Selamat jalan Yurizal, semoga dilapangkan kuburmu, diampuni semua dosamu, mendapatkan ampunan dan surga Allah SWT.
Maafkan, kami sudah terlalu lambat untuk peduli🥲