@suratikarus --bercicit, menandakan bahwa ia sudah siap membawa pergi sisa energi dari entitas itu.
Sebelah sayap burung itu terbuka, seolah-olah merangkul kepala Ikarus. Sebelum ia terusir oleh Ikarus yang panik dengan hinggapannya.
'Sudah, pergilah sekarang' ucap Caana lirih
@suratikarus -- Caana dalam hati. Suasananya pas, malam ini banyak bintang.
Caana (Adhara) membisikkan suatu rapalan doa, nyaris tak bersuara. Ia membangun ruang imajiner dalam imajinasinya, menempatkan entitas yang mengikuti Ikarus di dalam ruang itu.
'Pergilah yang jauh!--
@suratikarus -- Jangan ganggu dia. Kau tak sepantasnya di sini' ceplos Caana menggerakkan satu jarinya membentuk untaian rantai bintang imajiner. Rantai bintang itu melilit dan menghancurkan entitas itu seperti petasan.
Di waktu bersamaan, elang yang 'nempel' di Ikarus ikut--
@suratikarus -- gagal fokus. Cukup sekali ini aja, setelah itu kembali lah ke alam-mu'
Seekor burung elang berwarna hitam dengan corak putih di sudut-sudut tubuhnya muncul dan dengan "seenak jidat" hinggap di bahu Ikarus.
'Yak posisinya pas di situ' Caana tersenyum kecil
@suratikarus -- gunam Caana yang saat ini dalam mode 'Adhara'. Memanggil burung asli lebih gampang daripada memanggil entitas tak kasat mata.
Tak lama, ia bersiul kencang. Memanggil satu spesies elang yang sudah masuk daftar merah binatang yang punah.
'Tolong ya, bung. Buat Ikarus--
@suratikarus -- sembari meyakinkan Ikarus kalau 'tebakannya' sekadar sebuah wangsit yang ia dapatkan
"Oh ya, aku boleh pijat bahumu tidak? Mungkin bisa meringankan bebanmu dan bikin kamu bisa tidur nyenyak," tawar Caana nyengir pede abis ke Ikarus
@suratikarus Caana menyunggingkan cengiran, ia meletakkan satu telunjuknya di depan bibirnya. Tanda 'rahasia'.
"Aku asal tebak aja, kok. Lagipula kamu sering mondar-mandir ke kamarnya Harsa, jadi aku mikir kamu sering terbangun tengah malam. Hehehe...," kekeh Caana ke Ikarus--
@suratikarus Caana memasang pose berpikir ala-ala detektif, memegang dagunya dengan dua jarinya.
"Tidurmu suka keputus kayak tiba-tiba terbangun atau ketindihan kah?"
'Caana, aku backup kesadaranmu dulu ya. Case-nya berat ini' ceplos Adhara dari dalam diri Caana
@suratikarus -- tanya Caana masih fokus menatap belakang tubuh Ikarus dan melemaskan jari jemarinya seperti orang yang ingin mengirimkan bogeman ke orang brengsek.
'Hadeh, nyusahin juga ini entitas. Kasihan Ikarus' ceplos Adhara--yang kala itu juga sedang "bangun"--
@suratikarus Caana menatap lekat Ikarus, tepatnya menatap arah balik pundak lawan bicaranya.
'Di situ rupanya. Aku belum ijin Daja, tapi aku mau bantu tetangga baruku ini,' batin Caana merasakan energi berat nan lengket dari Ikarus.
"Apa bahumu pegal-pegal tiap bangun tidur?"--
@suratikarus -- di langit. Lalu Caana teringat sesuatu dan bertanya ke Ikarus
"Sori aku tanya sesuatu yang kesannya privat, Ikarus. Apa kamu akhir-akhir ini sulit tidur? Soalnya beberapa kali, aku lihat kamu mampir ke kamarnya Harsa malam-malam, waktu aku mau masuk kamar"
@suratikarus Caana menyunggingkan cengiran. "Karena aku sejak kecil sudah sering baca buku tentang alam semesta, aku juga udah sering mengamati sekitarku. Yah intinya ala bisa karena biasa sih, Ikarus," ceritanya dengan nada seperti anak kecil yang berkisah tentang apa yang dilihatnya---