@txtdrhrdoet@yustianata@prassetijo1@shin_taewon@147crew_@toptobs@prabowo Loh memang. Ketika WNA mlihat wajah negara ini dari pemimpinya itu adalah hal yang Sah.
Dia dipilih oleh mayoritas, dan bukan tugas dari rakyat yang merasa tidak sepaham untuk mengontrol persepsi publik luar atas apa yang sudah terjadi
Terlepas dari fakta bahwa kang @toptobs tidak pernah membawa nama Viking secara organisasi ke dalam pernyataan dukungannya terhadap program MBG dan laku politik lainnya, tapi politik tak pernah benar-benar bisa disekat serapi itu dalam persepsi publik. Ruang publik tidak mengenal kompartemen yang bersih, ketika sosok yang sama memimpin korps suporter terbesar di Indonesia dan duduk di kursi partai penguasa, setiap pernyataan, sekalipun diniatkan personal, mau tidak mau akan ikut menyeret bayang2 institusi yang ia pimpin
Bagi saya, di titik inilah ujian sesungguhnya bagi Viking, apakah ia akan menempuh jalan St. Pauli — yang memilih berdiri sebagai nurani kritis meski harus berhadapan dengan kekuasaan — atau perlahan bergeser ke arah Delije dan Grobari, dua kelompok suporter Serbia yang energi kolektifnya ditumpangi elite hingga kehilangan independensi moralnya.
Sebab sejatinya, suporter sepak bola tidak pernah punya hak istimewa untuk apolitis. Tribun adalah ruang publik, dan diam di hadapan persoalan publik — termasuk kebijakan rezim dari partai ketua organisasinya sendiri — sesungguhnya adalah sikap dan pilihan politik itu sendiri
Terlepas dari fakta bahwa kang @toptobs tidak pernah membawa nama Viking secara organisasi ke dalam pernyataan dukungannya terhadap program MBG dan laku politik lainnya, tapi politik tak pernah benar-benar bisa disekat serapi itu dalam persepsi publik. Ruang publik tidak mengenal kompartemen yang bersih, ketika sosok yang sama memimpin korps suporter terbesar di Indonesia dan duduk di kursi partai penguasa, setiap pernyataan, sekalipun diniatkan personal, mau tidak mau akan ikut menyeret bayang2 institusi yang ia pimpin
Bagi saya, di titik inilah ujian sesungguhnya bagi Viking, apakah ia akan menempuh jalan St. Pauli — yang memilih berdiri sebagai nurani kritis meski harus berhadapan dengan kekuasaan — atau perlahan bergeser ke arah Delije dan Grobari, dua kelompok suporter Serbia yang energi kolektifnya ditumpangi elite hingga kehilangan independensi moralnya.
Sebab sejatinya, suporter sepak bola tidak pernah punya hak istimewa untuk apolitis. Tribun adalah ruang publik, dan diam di hadapan persoalan publik — termasuk kebijakan rezim dari partai ketua organisasinya sendiri — sesungguhnya adalah sikap dan pilihan politik itu sendiri
@irhambirv@jawasastra Jangan cuma kulik minus tapi juga di kulik sumbangsihnya.
Wong kalian aja masih belum bisa menerima minusnya kok udah nawarin sumbangsih wkwk
@shin_taewon@147crew_@toptobs@prabowo Tapi kalo dia itu ketum organisasi Suporter, maka secara tidak langsung apa yang dia lakukan menjadi wajah organisasi tersebut. Kenapa? Ya karena kok bisa orang itu diberi kepercayaan menjadi ketua.
@txtanakbola Skandal besar AFC adalah
1. Round 4 kualifikasi wc 26
2. Format baru ACL dari perempat final sampai final di arab
Emang udah sejelas itu mereka