@catstronautx@mukaikhlas lama2 gw kesel sama kata2 begini. "nanti si itu naik, si ini naik", kayak seolah-olah mempertahankan si wowo sbg presiden tuh pilihan paling baik. padahal mending dia dilengserkan dulu aja, soal siapa yang naik nanti kita awasi lagi kinerjanya gimana
@lombasihirlagi lah nyimeng dia. udah jelas cewek lesbi ya berarti suka sesama cewek juga, ngapain mau dijadiin alat poligami? kyknya cewek lesbi beneran juga bakal muntah duluan liat muka lu bang sastro
@rizeuko tapi dilihat dari banyak kasus akhir2 ini, justru populasi perempuan yg smakin terancam dan menurun. semuanya karna siapa? ya, kebanyakan karna laki2. ada yg meningg4l karna dibunuh suami, disakiti pacar, dan sebagainya. jadi di sini siapa yg harusnya khawatir 🤷🏻♀️
@noxvine maaf ya maaf bgt, dari awal aku udah menentang salah satu ajaran nabi Muhammad yg ini (poligami). anggaplah aku gak patuh sma sunnah rasul, tapi bagi aku praktik ini gak tentu akan bener2 membahagiakan pihak istri. dan di zaman sekarang harusnya dilarang aja karna udh gak relevan
@psybaulogy menurut gw ya, poligami di jaman skrg udah gak relevan lagi buat dilakuin. dulu karna kondisinya gak berpihak pd wanita, pria2 berlomba2 menikahi mereka. kalo yg islam, alasannya krn 'sunnah rasul'. skrg mah mending ditiadakan aja biar impas sama poliandri
@earlgrey_teaa@ayanamanya_@mukaikhlas makanya wkwk. ada ya pemimpin negara yg tiap pidato ngitung ngitung cocoklogi gitu. dia mau nyetak sejarah baru apa gimana
@nvrivor@xiclian apa aku termasuk fans gl only ya? dari dulu aku sukanya cuma GL, pokoknya suka aja yg isinya cuma cewek-cewek doang. kalo BL gak terlalu, tapi bukan berarti benci ya. cuma emang gak tertarik aja. but sekarang sih aku belajar nerima semua genre yg sesuai preferensi pribadi aku
@ayanamanya_@mukaikhlas gw gak ngabela si wowo, tpi kita gak tau itu maksud dia beneran numerologi apa bukan. yang bikin gw kesel itu kenapa dia ngitung ngitung gituan di pidato resmi. emang gak ada bahasan penting lain kah selain itung itungan?
@tulisansuriyana@dusrimulya gw agak kurang suka sama desta sejak interview waseda boys di tonight show. pertanyaannya apaan bgt dah, ada b0kep segala. itu temen2 jerome yg dari jepang antara ngerti atau nggak pas ditanya begitu tapi gw yg nontonnya gak nyaman
@tuanputriitay@jeongjeonginuna ada juga jdrama yg mirip bgt sama cerita di atas kak, judulnya Chugakusei Nikki sama Forbidden Love. dua drama itu tntng murid cowok suka sama guru cewek juga. rekomended kalo ada yg suka sama trope ini
@jeongjeonginuna dan kebanyakan yang laki-lakinya lebih muda itu rasa cintanya jauh lebih besar daripada laki-laki lebih tua. berdasarkan yg aku lihat ya begitu, entah kenapa brondong lebih mengistimewakan pasangan daripada pria yg embel-embelnya matang dewasa blablabla
@jeongjeonginuna percaya gak percaya, hubungan yg pihak wanitanya lebih tua dibanding pria, rata2 lebih langgeng ketimbang yg sebaliknya. karna wanita lebih dewasa bisa mengendalikan ego prianya, pikirannya lebih matang. tapi sebenernya balik lagi ke masing2 karakter individunya gimana
@whalienwaltz_@konyonnjoyer iya lagi iya lagi. aku SMK jurusan teknik komputer jaringan, kudu riset dulu tentang SMA karna setiap cerita teenfict ku pakai latar SMA jurusan IPA/IPS biar familier ke pembaca. soalnya kalo pake latar SMK, takutnya terlalu kompleks buat dipahami😔
@demureliy lebih kesalnya tuh karna apa-apa serba dikoreakan. sabun cuci piring korea, mie korea, makanan pake bahan dari korea, ini lagi film asal jeplak yg penting korea. aku yg minat kpop juga udah ogah sama produk indo di ala-ala koreain. dipikir bkl laku gitu
Sejujurnya gue gak tau ini tulisan akan mengarah ke mana, hanya pikiran random jam 2 pagi setelah melihat demo seharian tadi. If you have time silakan baca or feel free to skip.
Gue tumbuh besar di lingkungan yang sekitarnya penuh dengan kemiskinan. Gue sendiri berasal dari keluar yang biasa-biasa saja, mungkin hanya sedikit lebih beruntung dari yang lain.
Orang-orang hidup dengan serba kekurangan. Boro-boro punya tabungan atau rencana masa depan, besok pun belum tau gimana caranya dapetin makan. Segala macam cara dilakukan untuk bisa dapat uang tambahan.
Dulu kalo pagi suka ada tetangga nenek-nenek, namanya Romlah, sering datang ke rumah bawa jualan kayak jajanan kue atau gorengan, kalo siang ke sore dia lanjut pergi ke sawah. Beliau rajin banget, tapi anak-anaknya pun tetap harus putus sekolah.
Ada juga ibu-ibu tetangga yang buka jasa cuci baju, namanya Bu Sop. Orang di kampung gak punya mesin cuci jadi nyucinya masih dikucek sendiri manual. Beliau meninggal dunia karena penyakit kronis dan tidak punya biaya untuk rutin berobat.
Pengangguran ada banyak, yang putus sekolah banyak, yang sampai ke perguruan tinggi cuma sedikit sekali. Semuanya terhambat masalah ekonomi. Semuanya terjebak dalam kemiskinan struktural.
Yang hidupnya nyaman dan berkecukupan bisa dihitung jari. Gue termasuk yang berkecukupan, tapi tetap ga bisa seenak jidat minta macem-macem ke orang tua. Kalo pengen sesuatu biasanya harus nabung uang jajan sekolah dan beli sendiri.
Gue udah gak tinggal di lingkungan tersebut, tapi sampe sekarang gue selalu ingat betapa susahnya kehidupan orang-orang di sekitar gue dulu.
Sekeras apapun mereka berusaha dan bekerja mereka gak akan bisa keluar dari kemiskinan tersebut. Entah karena keterbatasan ilmu, kemampuan, atau akses ke informasi dan kesempatan.
Mereka gak punya kemampuan untuk mengubah nasib atau memperbaiki kehidupan. Mereka gak tau musti ngapain. Mereka cuma bisa pasrah. Mereka gak peduli siapa yang jadi pemimpin karena buat mereka, siapapun pemimpinnya toh hidup mereka ya begitu-begitu aja.
Di setiap masa pemilu, siapa yang bisa ngasih imbalan itulah yang akan dipilih. Mereka gak punya pilihan lain selain menerima.
Mereka adalah golongan yang rentan dimanipulasi dan dimanfaatkan.
Memang zaman sekarang orang sudah punya smartphone bahkan di daerah. Tapi teknologi tersebut tidak seimbang dengan kemampuan memilah informasi dan berpikir kritis. Belum lagi banyaknya media yang dikontrol, disensor, dan buzzer di mana-mana.
Kita, yang punya akses ke pendidikan yang lebih baik, yang mampu berpikir kritis, yang mengerti apa yang sedang terjadi di atas sana, yang bisa melihat kebohongan dan tipu muslihat, adalah wakil mereka.
Suara kita adalah suara mereka.
Perjalanan mungkin masih panjang, kita mungkin masih butuh banyak belajar, tapi gapapa pelan-pelan aja. Gue tau sangat mudah untuk merasa frustrasi dan putus asa di situasi seperti ini, tapi kita gak bisa buang harapan.
Bareng-bareng yok.
----------
Even if I have to die, I will use the only voice I have to make some noise.