BARANGKALI, Remi Gabriel sekarang sedang kebingungan tatkala menyadari bahwa pasangan kencannya—yaitu aku, tidak kunjung kembali setelah dua puluh menit yang lalu meminta izin untuk menggunakan kamar mandi.
Acara kemudian ditutup sesi foto bersama untuk mengabadikan momen kebersamaan, disusul dengan pembagian suvenir eksklusif dari Tuloux sebagai bentuk apresiasi bagi setiap peserta yang telah hadir.
⠀⠀
☷ Congress Center Messe Frankfurt
19:37, Friday ╱ Germany.
Das Wetter in Deutschland fühlt sich immer wie zu Hause an. I am in Frankfurt until Monday for a Medical Convention of Wonders of Medicine. Fit was chosen by wife and best one yet was to see Joachim again.
⠀⠀
@TULOUX "Aku...menyerah. Media batik ini sepertinya tidak bisa dipelajari sekali langsung bisa ya...atau aku sedikit payah ya...."
Dalam hatinya sibuk menghitung agak tidak merasa kecewa dan emosi melihat hasilnya cantingan buatannya.
@noireyukiyamada Ia menyadari kalau ada orang lain yang mendengarkan pegulatan pikirannya sejak tadi. Vincent tersenyum canggung.
"I-iya kak! Doakan aku bisa ya Kakak cantik! Soalnya setelah lihat demonstrasi cara pakai canting tadi, sepertinya akan cukup sulit kalau belum terbiasa ya...."
⠀⠀
"Gem, Vin, hati-hati ya. Pake dulu apronnya, nanti bajunya kena cat dan bisa susah hilang warnanya. Let me get you some mineral water. Mau nggak?" Emmaline segera berdiri sebelum melangkah mengambilkan minuman untuk kedua anak kembarnya. | @scentednoir@Mawitira
⠀⠀
"Jadi, ketukan wajib dilakukan agar sisa cairan malam yang terlalu banyak menetes, jatuh kembali ke wajan. Tanpa mengotori area kain yang bersih."
Abhinaya menempelkan ujung canting dengan di atas garis pola. Desis halus terdengar saat cairan malam menyentuh permukaan kain.
"Jadi, ketukan wajib dilakukan agar sisa cairan malam yang terlalu banyak menetes, jatuh kembali ke wajan. Tanpa mengotori area kain yang bersih."
Abhinaya menempelkan ujung canting dengan di atas garis pola. Desis halus terdengar saat cairan malam menyentuh permukaan kain.
Abhinaya kemudian menunjuk ke arah kompor portabel kecil di dekatnya, di atasnya terdapat sebuah wajan logam mini berisi cairan kecokelatan.
"Di dalam wajan itu ada malam atau lilin khusus batik yang sudah dipanaskan sampai mencair sempurna. Suhunya harus pas supaya mudah ...
Ia meletakkan kain itu kembali, lalu beralih mengambil sebuah alat kecil dengan gagang bambu dan corong logam di ujungnya.
"Berikutnya, senjata utama kita hari ini yaitu canting," kata Abhinaya sambil menunjukkan bagian perut canting ke arah peserta.
Abhinaya sambil mulai mengangkat contoh alatnya untuk memandu penjelasan.
Pertama-tama, ia mengambil selembar kain putih berukuran sedang dari meja instruktor. "Daro yang pertama dulu, di depan kalian ada kain mori putih ini. Di sana sudah ada pola menyertai."
Ia mengedarkan pandangan sekali lagi, lalu melipat salah satu tangan di depan dada.
"Tenang! Baik yang sudah pernah maupun yang baru pertama kali pegang canting, hari ini kita bakal belajar semuanya bareng dari nol. Jadi, kalian tinggal nikmati prosesnya aja. Sounds good?"
Abhinaya kemudian berjalan ke balik meja instruksi, lumayan menikmati keheningan yang mulai tercipta di dalam studio.
"Sebelum kita mulai lebih jauh, saya mau tanya dulu nih ke kalian. Di sini, siapa yang udah pernah nyoba bikin batik sebelumnya? Ada yang sudah berpengalaman?"
Setibanya di depan, Abhinaya sempat merapikan ujung kemejanya sejenak, lalu menyapu pandangan ke sekeliling ruangan untuk merangkul perhatian semuanya.
"Selamat sore semuanya! Selamat datang di workshop Tuloux yang kedua! Senangnya sore ini bisa kumpul bareng di sini," sapanya.
Abhinaya melangkah dengan tenang ke bagian depan studio dengan senyum hangatnya, berniat untuk langsung menyapa pandangan setiap peserta yang duduk menghadap meja kerja mereka. Di atasnya, telah tersusun rapi berbagai perlengkapan membatik untuk sore ini.