true. bersiap-siaplah sebelum lo butuh.
kalo lagi di comfort zone, perbanyak option. nambah skill, tabungan, dan koneksi selagi lo belum kepepet.
when you’re desperate, tawaran jelek pun bakal kelihatan "lumayan". terms yang nggak masuk akal lo iyain. mungkin prinsip sendiri pelan2 lo tawar juga.
Ngerasa akhir-akhir ini quality time sama pasangan cuma muter di makan, nonton, terus pulang?
Biar sisa tahun ini makin berkesan dan gak lewat gitu aja, nih 30 daftar kegiatan seru dan bikin makin lengket yang wajib kamu eksekusi bareng pasangan:
1⃣ Kencan No-HP: Jalan bareng tanpa sibuk scrolling biar bisa bener-bener full hadir buat pasangan.
2⃣ Liburan Weekend ke Tempat Baru: Rencanain jalan-jalan singkat ke tempat yang belum pernah kalian datangi berdua.
3⃣ Bikin Bucket List 5 Tahun Ke Depan: Duduk bareng dan tulis semua mimpi yang mau dicapai dalam lima tahun ke depan.
4⃣ Ikut Kelas Masak (atau Masak di Rumah): Coba resep baru bareng atau bikin sesi dinner bertema di rumah.
5⃣ Berburu Sunrise: Sempatkan minimal sekali dalam setahun buat nonton matahari terbit berdua.
6⃣ Bikin Tradisi Khusus Berdua: Buat satu kebiasaan unik atau tradisi kecil yang cuma milik kalian berdua.
7⃣ Unfollow atau mute akun-akun yang bikin drain energi dan pikiran.
8⃣ Follow Akun Positif: Follow akun-akun media sosial yang ngasih inspirasi dan bikin hubungan kalian makin berkembang.
9⃣ Ngobrolin Life Goals Sambil Ngopi: Ngobrol mendalam soal tujuan hidup di kafe favorit atau sekadar ngopi santai di rumah.
🔟Road Trip Tanpa Rencana: Jalan-jalan dadakan seharian tanpa tujuan pasti, ikuti aja kemana jalan mengarah.
1⃣1⃣ Reka Ulang First Date: Datangi lagi tempat kencan pertama kalian dan ulang momen-momen manisnya.
1⃣2⃣ Belajar Hal Baru Bareng: Coba ikutan kelas dansa, belajar bahasa asing, atau bikin kerajinan tanah liat (pottery).
1⃣3⃣ Tulis Surat Buat Dibuka Tahun Depan: Saling tulis surat rahasia yang baru boleh dibuka dan dibaca satu tahun dari sekarang.
1⃣4⃣ Kencan Zero-Rupiah: Cari ide kencan seru tanpa keluar uang sama sekali, manfaatin kreativitas kalian.
1⃣5⃣ Detoks Digital Pas Weekend: Matiin gadget seharian di akhir pekan dan fokus interaksi berdua.
1⃣6⃣ Jadi Relawan Bareng: Ikut kegiatan sosial atau bakti sosial untuk isu yang kalian berdua pedulikan.
1⃣7⃣ Road Trip Pakai Playlist Bersama: Jalan-jalan naik mobil/motor sambil dengerin lagu-lagu pilihan kalian berdua.
1⃣8⃣ Coba Hal di Luar Zona Nyaman: Penting buat coba hal yang agak menantang bareng-bareng.
1⃣9⃣ Home Spa Night: Bikin sesi relaksasi di rumah pakai masker wajah atau pijat bergantian.
2⃣0⃣ Stargazing: Cari tempat minim polusi cahaya buat tiduran sambil natap langit malam.
2⃣1⃣ Rencanain Liburan Impian: Walau belum tentu berangkat dalam waktu dekat, bikin aja rencana detailnya dulu.
2⃣2⃣ Bikin Vision Board Masa Depan: Tempel gambar dan wujudkan visualisasi masa depan kalian di satu papan.
2⃣3⃣ Bikin Jurnal atau Buku Kenangan Bersama: Tulis cerita perjalanan cinta kalian atau tempel foto-foto kenangan di satu buku khusus.
2⃣4⃣ Double Date Bareng Pasangan Lain yang kalian kagumi dan bisa bikin belajar banyak hal.
2⃣5⃣ Nonton Konser atau Acara Seru Berdua: Datang ke konser musik, pameran seni, atau acara seru favorit kalian.
2⃣6⃣ Game Night Berdua: Main board game, kartu, atau video game cuma kalian berdua di rumah.
2⃣7⃣ Masakin Makanan Masa Kecil Pasangan: Saling masakin makanan favorit masing-masing waktu masih kecil dulu.
2⃣8⃣ Punya gratitude ritual: Rutinin sesi saling mengutarakan hal-hal yang disyukuri dari pasangan (bisa mingguan atau bulanan).
2⃣9⃣ Ikut Workshop Pengembangan Diri: Datang ke seminar atau workshop soal mindset dan personal growth.
3⃣0⃣ Kencan Refleksi Akhir Tahun: Tutup tahun dengan kilas balik perjalanan kalian dan rayakan seberapa jauh kalian udah bertahan dan tumbuh bareng.
reminds me of the promo materials for anggi noen's a lady caddy who never saw a hole in one (2013)
dialognya penuh objectivikasi terhadap si lady caddy:
- "Seragammu apik, topimu lucu.”
- “Sopo wae sing mbok kancani?” ("kancani" di sini adalah sindiran bahwa si lady caddy merangkap menjadi sex worker)
dan gongnya:
- “Susumu tambah gede."
kalau ga ada caption di akhir film ttg perebutan lahan di di desa sariharjo thn 1997 maka film ini can be read as just abt some horny dude who wants to play golf an ambition above his station in life since he doesnt even have a golf stick (symbolism of impotence?) but insists on playing imaginary golf with an imaginary nine iron and then got totally turned on when some military men arrive in the distance in a land rover (tiba2 dia menggenggam clurit di tangannya, suddenly so virile seeing men in uniform!)
Baca di sini: https://t.co/X3uNSG2J3m
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menyatakan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jakarta bisa saja tidak menerbitkan obligasi daerah seperti yang disarankan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa. Syaratnya, pemerintah pusat mengembalikan Dana Bagi Hasil (DBH) yang sebelumnya dipangkas oleh pemerintah pusat.
~KR #ObligasiDaerah #PramonoAnung
WAHAI LELAKI MUSLIM‼️
baik yg udah nikah maupun baru mau menikah, ikut ini nih~ gratiss! KHUSUS LAKI LAKI.
ibu ibu atau ciwi ciwi bisa share ini ke pasangan juga😆
ikhtiar biar jadi suami Qowwam. mari kita putus generasi fatherless itu✊
sex education dalam islam dimulai sejak dini. dari mulai cara membersihkan najis, memisahkan kamar anak dan kamar orang tua, kamar laki laki dan perempuan sejak umur 7 tahun, mengatur sentuhan lawan jenis antara mahrom dan non mahrom, sampai cara berjima’ yg halal
islam mengatur dari hal terkecil, tapi banyak org menolak dan cuma mau seks edukasi kalo udah terjadi seksnya saja 🙂
Risiko pinjam bunga rendah jepang adalah vendor dikunci dan pembangunan lelet
Risiko pinjam bunga tinggi china adalah bunga meledak2 dan cash flow hancur lalu vendor lokalnya mati kasbon
Buat Gen-Z yang atasannya micro-manage aku punya tips ofis politik yang etis:
> Balas atasanmu dengan micro update. Semua task kecil update ke atasanmu itu, selalu minta review, feedback evaluasi detail dalam bentuk pertanyaan tertulis, email.
> Kalau perlu sebelum mulai selalu alignment. Kasih ide kamu + tanya atasanmu mau gimana. Tanya yang detail sekecil mungkin. Setelahnya, setiap detail kecil yang udah dikerjain, mintain evaluasi dan feedback.
> Kuat-kuatan mental aja siapa yang paling mampu micro. Most of the time itu atasanmu yang nyerah duluan + atasan micromanage biasanya gak begitu bisa kerja.
> Kalau atasan ga nyerah juga? Saat performance review sampaikan aja atasan micromanage tapi tiap kali kamu minta feedback, dia ga jawab. Jangan lupa lampirkan bukti email. Next stepnya minta untuk tidak micromanage lagi.
> 100% works ya. Tapi tips ini tidak berlaku untuk perusahaan keluarga, BUMC, BUMN, BUMD, dan usaha tidak terstruktur.
Silakan dicoba. :)
Best Compliments to Give a Girl:
• “I like how your mind works.”
• “You have a calm, confident energy.”
• “You make conversations easy.”
• “You’re different in a good way.”
• “I feel relaxed around you.”
• “You’re surprisingly thoughtful.”
• “You have great taste.”
• “You make simple moments fun.”
• “Your presence stands out.”
• “You’re naturally attractive.”
Guys, ada pertanyaan yang menurut gue sudah terlalu lama dijawab dengan cara yang salah.
Kenapa orang pintar sering gagal?
Dan Feri Irwandi orang yang masuk STAN karena iseng, kerja 10 tahun di Kementerian Keuangan, sekarang S2 di Monash Melbourne punya jawaban yang sangat tidak klise.
Kecerdasan tanpa kemampuan berpikir mandiri adalah racun:
Feri punya pengalaman langsung dengan ini waktu di STAN.
Teman-teman sekelasnya?
Orang-orang yang sebelumnya keterima FTTM ITB, Kedokteran UI, Kriminologi UI. Otak-otak terbaik Indonesia yang memilih masuk STAN.
Dan mereka semua belajar dari kisi-kisi.
Menghapal jawaban persis dengan yang diminta dosen.
Feri tidak mau melakukan itu.
Bukan sombong tapi karena dia punya satu pertanyaan mendasar:
Kalau lo belajar dari kisi-kisi sebelum ujian apa yang sebenarnya diuji?
Bukan kemampuanmu.
Kisi-kisinya.
Hasilnya:
ketika soal ujian sama persis dengan kisi-kisi — nilai Feri di bawah rata-rata.
Mereka yang hapal jawaban punya nilai sempurna.
Tapi ketika soal berbeda dari kisi-kisi Feri langsung top.
Mereka yang hapal jawaban bingung karena tidak ada template untuk dijawab.
Inilah paradoks orang pintar yang sering gagal. Mereka sangat terampil mengoptimalkan sistem yang sudah ada tapi ketika sistemnya berubah atau tidak ada panduan, mereka tidak tahu harus berbuat apa.
Karena selama ini yang dilatih bukan kemampuan berpikir tapi kemampuan mengikuti instruksi dengan sangat presisi.
Sekolah mengajarkan kita untuk mendapat nilai bagus.
Bukan untuk berpikir.
Dan orang yang paling mahir di sistem itu justru paling rentan ketika sistemnya tidak ada.
Perfeksionisme adalah bentuk lain dari ketakutan:
Orang pintar cenderung perfeksionis.
Dan perfeksionisme terdengar seperti sesuatu yang bagus standar tinggi, detail-oriented, tidak mau sembarangan.
Tapi Feri dan Jerome sepakat:
perfeksionisme dalam konteks action adalah musuh kemajuan.
Perfeksionis menunggu kondisi sempurna sebelum bertindak.
Menunggu ide yang benar-benar matang.
Menunggu momen yang tepat.
Menunggu skill yang cukup.
Dan selama menunggu orang lain yang mau mulai duluan meskipun hasilnya tidak sempurna sudah jauh di depan.
Kalau lu nunggu bagus baru mulai lu bakal kalah sama orang yang mulai dulu meskipun enggak bagus.
Dan ini bukan hanya soal kecepatan.
Yang mau memulai duluan belajar dari kesalahan nyata bukan dari simulasi sempurna di kepala.
Mereka mengembangkan kemampuan beradaptasi. Sementara perfeksionis terus menyempurnakan rencana yang belum pernah dieksekusi.
Feri menyebutnya dengan konsep matematika sederhana: frekuensi harapan. Semakin banyak percobaan, semakin besar probabilitas menemukan sesuatu yang bekerja.
Orang pintar yang perfeksionis membuat sedikit percobaan tapi masing-masing sangat terencana.
Orang yang mau terus mencoba membuat banyak percobaan dengan kualitas yang bervariasi dan dari volume itu, sesuatu yang besar hampir pasti akan muncul.
Orang pintar terlalu peduli dengan persepsi orang lain:
Ini yang paling menohok dan paling sering terjadi tapi paling jarang diakui.
Feri menyebutnya dengan sangat langsung: "Udah banyak banget gua ngelihat orang stres kehilangan dirinya.
Karena standar moral dan ukuran normal mereka dipengaruhi oleh orang yang bahkan enggak peduli sama mereka sama sekali."
Orang pintar yang tumbuh dengan selalu mendapat validasi juara kelas, pujian guru, pengakuan lingkungan menjadi sangat tergantung pada validasi eksternal.
Ketika validasi itu berhenti atau lebih buruk, berubah menjadi kritik mereka tidak tahu harus bertumpu pada apa.
Mereka mulai mengubah diri bukan karena keyakinan internal tapi karena ingin membuat yang tidak suka menjadi suka.
Mereka membeli barang yang tidak dibutuhkan dengan uang yang tidak dimiliki untuk mengimpresi orang yang dari awal tidak pernah peduli.
Dan ini adalah spiral yang sangat melelahkan karena tidak ada ujungnya.
Karena: "No way. Mereka enggak akan melihat lu berbeda.
Tidak peduli seberapa banyak lo berubah untuk memuaskan mereka orang yang tidak suka akan selalu menemukan alasan baru untuk tidak suka.
Jerome menambahkan pengalamannya sendiri: ketika dia dukung timnas dan digoreng habis-habisan, instingnya adalah klarifikasi membuktikan bahwa dia memang suka sepak bola dari dulu, bukan ikut-ikutan.
Karena dia tidak mau terlihat salah di mata orang lain.
Tapi Feri dan Choki Pardede sama-sama bilang: "Udah, besok bilang aja minta maaf karena dukung timnas." Dan ketika Jerome melakukan itu dengan self-deprecating humor, mengakui dengan enteng — masalahnya langsung selesai.
Karena tidak ada yang lebih mematikan serangan daripada tidak memberikan reaksi yang diinginkan penyerang.
Paradoks terbesar: yang membenci justru yang membuat lo bertahan:
Ini yang paling counterintuitive dan paling didukung oleh riset yang Feri lakukan untuk disertasinya.
Untuk bertahan lama dan relevan yang perlu dibina bukan hanya yang suka.
Tapi justru yang tidak suka.
Logikanya: orang yang tidak suka sama lo memperhatikan lo dengan intensitas yang jauh lebih tinggi dari orang yang suka.
Mereka yang menggerakkan percakapan tentang lo. Mereka yang membuat nama lo terus disebut.
Dan ketika mereka menunjukkan ketidaksukaannya dengan cara yang impulsif dan emosional justru orang yang suka menjadi semakin yakin untuk mendukung lo.
Feri bahkan dengan sengaja mengetes ini: di periode paling banyak diserang, justru ketika serangan mulai mereda dia memancing lagi supaya tetap ramai. Dan hasilnya? Di saat yang bersamaan konversi penjualannya naik lebih dari dua kali lipat.
"Justru bukan memuaskan yang sudah suka. Justru membuat orang yang enggak suka itu apinya enggak padam. Karena dialah yang membuat lu terus terbakar."
Orang pintar yang gagal biasanya melakukan sebaliknya: mereka panik ketika ada yang tidak suka, berusaha menyenangkan semua pihak, dan akhirnya tidak punya positioning yang kuat di mana pun.
Semua orang suka mereka tapi tidak ada yang benar-benar peduli. Konversinya rendah. Massanya tidak militan. Dan ketika mereka ingin menggerakkan sesuatu tidak ada yang bergerak.
Tentang kebencian dan ini wisdom terpenting Feri:
"Membenci adalah hal yang lumrah. Kita pun akan membenci sesuatu. Tapi kalau manusia tidak bisa mengendalikan kebenciannya dia akan dimakan oleh kebencian itu sendiri."
Kebencian butuh energi yang sangat besar. Dan energi itu dikeluarkan untuk seseorang yang bahkan tidak tahu lo ada.
Tapi yang lebih berbahaya dari membenci orang lain adalah membiarkan kebencian orang lain mengontrol hidup lo.
Ketika lo membuat keputusan hidup berdasarkan siapa yang tidak menyukai lo dan bagaimana cara membuat mereka berubah pikiran lo sudah menyerahkan kendali hidup lo ke orang yang paling tidak layak memegangnya.
"Kendalikanlah kebencianmu lebih besar daripada kecintaanmu. Karena kalau lu dikendalikan sama cinta efeknya akan berbeda. Tapi ketika lu dikendalikan sama benci ya enggak bakal jadi apa-apa. Beneran."
Orang pintar sering gagal bukan karena kurang kecerdasan. Tapi karena kecerdasan itu justru menciptakan jebakan-jebakan yang spesifik:
terlalu mengandalkan sistem dan template, terlalu perfeksionis untuk mulai, terlalu bergantung pada validasi eksternal, dan terlalu takut pada ketidaksukaan orang lain.
Yang benar-benar membuat seseorang bertahan dan berkembang bukan seberapa pintar mereka tapi seberapa baik mereka bisa berpikir mandiri ketika tidak ada panduan,
seberapa cepat mereka mau memulai meskipun belum sempurna, seberapa kuat mereka bisa bertumpu pada standar internal mereka sendiri, dan seberapa tenang mereka bisa menghadapi ketidaksukaan tanpa kehilangan diri.
Dan ironisnya semua itu justru tidak diajarkan di sekolah. Yang diajarkan sekolah adalah cara mendapat nilai bagus di sistem yang sudah ada. Bukan cara bertahan ketika sistemnya tidak ada.