@OfWcndrscapt Melonggarkan pelukan, sejenak terdiam oleh percikan rasa gemas.
Detik selanjutnya, gadis itu kembali membawamu dalam dekap.
❝ Lucuuuu sekali~!! ❞ Seru Carol riang. ❝ Izinkan Carol membawamu pulang! ❞
Mengerjap.
Sekali,
dua kali.
❝ Eeh, minta dibukakan? Oke, sebentar ya! ❞
Menerima sebungkus chip yang diserahkan untuk dibuka kemasannya.
❝ Ini! ❞ Memberikan padamu lagi seraya mengulas senyum lebar. https://t.co/r3w7cCJnJv
Kedua alis Carol sedikit berkerut, menaungi pasang manik zamrud yang kini mengamati si pemuda lekat. Ranum merah mudanya mengerucut.
❝ Carol bukan bocah! ❞ Protes gadis pirang itu. https://t.co/Kyd8Q0iUw6
@MaschioAffilato Dengan ranum yang mengerucut juga pandang yang teralih, gadis itu mulanya berniat acuh tak acuh pada jawabanmu.
Namun setelah pertanyaan yang terakhir muncul, mau tak mau Carol berusaha mengingat-ingat. Pasalnya, ia hanya menangkap kata 'bocah' dan 'bodoh' di —
@TwoSidesofRed — sulit, ya, jika itu bukan hobi sepertimu. Padahal sekali-kali Carol ingin menakuti Kakak. ❞
Bila hobimu menakuti orang, hobi terselubung Carol mungkin adalah berceloteh.
Lantas gadis itu memekik kejut, dengan cepat menoleh ke belakang dan segera menemukanmu. Tanpa sadar sudah mengambil beberapa langkah mundur, mencipta sedikit jarak.
❝ A-apa yang kau lakukan? ❞ https://t.co/BPMzQrqP5M
@TwoSidesofRed ❝ Eeh, kenapa begitu? Bukankah menyenangkan ketika melaksanakan hobimu? ❞ Lagi, Carol melontar pertanyaan.
❝ Kalau Carol, berapa kali pun Carol mencoba menakuti Jon, dia tidak pernah merasa takut! Dia malah memeluk Carol! ❞ Keluhnya. Ia menghela napas.
❝ Memang —
@0fMisfortune — minuman.
Beruntung, mesin kotak itu segera ditemukan. Berada di bawah lampu jalan membuat keberadaannya menjadi mencolok.
❝ Ah, ketemu! ❞ Seru Carol.
❝ Nagito ingin beli minum? ❞
Kedua alis tebalnya terangkat sementara kepalanya sedikit dimiringkan. Raut tampak jelas melukis tanya.
❝ Kau siapa? Mau kemana? ❞
Kecurigaan berada jauh dari benak; kini hanya merasa ingin tahu. https://t.co/duKA2fo2T2
@0fMisfortune Sementara, sang puan hanya melontar senyum. Tidak sadar akan dampak kecil yang dibawanya kepadamu.
Kini tungkai melangkah seirama dengan si surai perak. Netranya terpancang ke depan; sedang menentukan toko dua puluh empat jam terdekat, juga mencari mesin penjual
@0fMisfortune — kedua tangan.
❝ Kalau begitu kita perlu pergi ke toko dua puluh empat jam! Ayo, kesana! ❞ Ajak Carol. Tanpa canggung menarik tanganmu, mengajak si pemuda untuk segera melangkah.
@0fMisfortune Kekeh tawa terdengar dari bilah bibir mungil sang puan usai mendengar pernyataanmu.
❝ Senang bertemu denganmu juga, Nagito! ❞
Merasa senang, begitu pula disini; senyum lebar turut menghias paras Eropanya.
❝ Roti? Oh, ide yang bagus sekali! ❞ Mengatupkan —