Sekarang cari data ihsg di google gak langsung muncul kaya biasanya.
Misalnya ke google finance pun, ada data tapi gak ada persentase penurunannya.
Yang jelek kebijakan, yang ditutupin datanya 😂😂😂
"Apa sih fat burner terbaik?"
Habis ngaca, lihat lemak yang penumpuk nyata. Ambil HP mau order fat burner.
Entar dulu! 🛑
Sebagai anak sport science, saya ngerasa perlu ngasih tahu soal fat burner ini biar siapapun nggak tersesat.
🔥A Thread🔥
Gue paham kalo laki2 lebih sering berkorban atas kebahagiaannya, kalo ada masalah diem, dan sering menomor-duakan keinginan pribadinya.
Tapi jujur aja gue pengen gue dan suami sama2 bahagia, bukan hanya karna istri bahagia. Nggak jarang juga kita ngobrol hal-hal yang bikin kita happy atau berkesan belakangan ini. Kadang juga ngobrolin apa yang pengen kita coba, entah mau bareng atau sendiri2. His happiness is also my priority. Gue seneng aja liat suami cekikikan atau bertingkah kayak bocah kalo lagi happy.
I dont want us to stop living after marriage.
Kadang bukan soal malas, tapi tidak memperjelas apa yang kita inginkan.
"CLARITY"
Perjelas kita itu maunya apa, mengapa melakukannya dan gimana langkah-langkahnya.
Cuy, Shopify CEO baru aja "bocorin" memo internal doi ke seluruh company.
Gue coba rangkum ye #intinyadeh tapi tech + design
1. AI = Skill Wajib, Bukan Lagi Opsional
Penggunaan AI secara refleks (reflexive) sekarang jadi baseline expectation. Sebagai desainer, kamu diharapkan sudah pakai AI untuk bantu kerja sehari-hari—d ari eksplorasi ide sampai bikin prototype.
2. AI = Creative Multiplier
AI bukan sekadar alat bantu, tapi alat pengali ide dan output. Desainer yang menguasai AI bisa 10x lebih produktif dan berani tackle problem yang sebelumnya terasa mustahil.
3. Prototyping = AI Playground
Di fase prototyping, AI harus jadi bagian utama eksplorasi. Gunakan AI buat mockup awal, eksplorasi user flow, validasi ide lebih cepat.
4. Skill Baru: Prompting & Context Loading
Belajar prompt engineering itu penting. AI bukan magic box—desainer harus ngerti cara ngobrol efektif dengan AI biar hasilnya sesuai harapan.
5. Belajar pake AI = Tanggung Jawab Personal + Kolaboratif
Kamu belajar sendiri, tapi harus aktif berbagi—baik prompt yang keren, AI tools yang kamu coba, maupun hasil eksperimenmu.
6. AI Jadi Bagian dari Performance Review
Akan ada evaluasi seputar seberapa efektif kamu memakai AI dalam pekerjaan. Artinya, kemampuan AI-mu akan memengaruhi penilaian performa.
6. "Stuck" ≠ Alasan
Sebelum minta tambahan resource (misal: lebih banyak UX researcher, waktu, atau tim visual), harus bisa buktiin kalau AI gak bisa menyelesaikan bottleneck itu.
7. Kamu Tidak Sendirian—Semua Level Pakai AI
Dari IC sampai eksekutif, semua diharapkan mengadopsi AI. Jadi, tidak ada alasan "ini buat engineer doang" atau "bos gue aja belum pakai".
8. Lingkungan untuk Belajar & Tumbuh Bareng
Budaya Shopify dibentuk untuk belajar bareng, ngulik AI bareng, dan jadi lebih hebat bareng. Ini bukan kompetisi, tapi akselerasi kolektif.
9. AI Akan Ubah Desain dan Cara Kita Membangun Produk Selamanya
Masa depan desain bukan sekadar tentang pixel, tapi tentang how fast and smart you move. AI akan bantu desainer jadi lebih strategis, bukan hanya lebih cepat.
https://t.co/SwR4y2Uwdn
Klo diliat2 Just in Time learning itu konsepnya mirip kayak aktifitas software development.
dan berhubung kita hidup di dunia yg makin banyak noise & abstraksi, belajar yang bener harusnya mirip kayak debugging.
Lo gak mungkin cuma baca dokumentasi terus berharap bug-nya hilang sendiri. Yang lo lakuin biasanya:
- Cari tau titik error-nya di mana
- Coba beberapa hipotesis, satu-satu
- Implement targeted fixes
- Verify understanding through working solutions
Di antara "tahu" sama "ngerti" itu ada gap gede. Dan banyak proses belajar ambruk di situ. dan real learning itu bukan tentang ngumpulin info sebanyak-banyaknya, tapi tentang benerin mental model lo sampai bisa dipakai di dunia nyata.
Nah debugging itu bikin lo masuk ke feedback loop. you can't gaslight your way through it. Compiler gak peduli lo ngerasa pinter atau nggak. Either it works or it doesn't. Brutal, tapi jujur. Makanya efektif.
coba bayangin kalo kita treat proses belajar kayak software development:
- Anggep otak lo kayak dev environment
- Ship early, break often
- Log your failures, trace the error paths.
- Build mental test cases. Refactor belief2 yang udah outdated
spiritnya adalah, "gue gak harus selalu bener. yang penting gue tau cara benerin yang salah."
Detail & contoh lebih konkretnya bisa lo baca disini => https://t.co/NnFvIWLcMz
Lalu, setelah itu..
1. Cari tahu "why" kamu. Bukan cuma "apa" yang mau dipelajari, tapi "kenapa". "Why" yang kuat bakal jadi bahan bakar pas lagi down.
2. Jangan cuma belajar teori. Portofolio itu "bukti", bukan cuma "janji".
Intinya, cari kejelasan dan jangan takut gagal ✨
Terlalu banyak malah bingung.
Iyalah.
Jadi, fokus dulu pada "CLARITY".
1. Kamu maunya belajar apa?
2. Kenapa harus belajar bidang tsb?
3. Sampai kapan belajarnya?
4. Apa output yang diinginkan?
Every time you procrastinate, you reinforce that behavior. You’re training your brain to avoid hard things. Over time, this creates a self-sabotaging identity.
Funfact:
Setahun terakhir ini pengusaha dealer mobil dan developer rumah kesulitan jual produknya.
Behaviour Gen-Z ternyata shifting jauh dari generasi milenial.
Bisa jadi generasi milennial adalah generasi terakhir yg pengen punya rumah tapak pinggir kota dan naik mobil
Pake narasi "semoga dosamu gak diampuni" WKWK manusia agamis berlagak Tuhan kayak gini yang bikin orang lain muak.
Masalah diampuni kan urusan Tuhan, ngapain manusia pendosa satu ini malah nyumpahin 🤣
Kayak gak punya dosa aja.