Jika nama @RayDalio yang kita kenal selama ini adalah seorang Investor besar dan analis ekonomi makro, tapi melalui pidato wisuda terbarunya di Long Island University tahun 2026, pendiri Bridgewater Associates ini membahas tentang cara menjalani hidup.
Apa saja yang belaiu bahas? mari kita simak 👇
Jika NATO melemah, maka yang runtuh bukan hanya aliansi militer, tetapi juga fondasi pengaruh AS di Eropa selama puluhan tahun
Selama ini kekuatan AS di kawasan tersebut tidak hanya berasal dari ekonomi atau diplomasi, melainkan dari perannya sebagai “penjamin keamanan” melalui NATO
Ketika peran itu berkurang, negara-negara Eropa akan mulai bergerak lebih mandiri, membangun kekuatan militernya sendiri, bahkan membuka kemungkinan hubungan yang lebih fleksibel dengan kekuatan lain seperti Rusia atau China
Di titik itulah Amerika kehilangan leverage utamanya, AS tidak lagi menjadi kebutuhan utama
Secara perlahan, kehadiran militer bisa menyusut, pengaruh politik melemah, dan simbol kepemimpinan global AS ikut terkikis, menggeser dunia dari sistem yang dulu terpusat pada Amerika menuju tatanan yang lebih multipolar, di mana kekuatan tidak lagi dikendalikan oleh satu pusat, tetapi tersebar ke banyak aktor.
Amiiiinnnn
Dunia finansial yang kita kenal sampai hari ini seperti mesin besar yang berjalan halus.. uang berputar, saham naik turun, Bitcoin jadi bintang, dan semua terlihat “NORMAL”… sampai tiba-tiba satu komponen paling dasar terganggu: ENERGI.
Tahun 2026 bukan sekadar market yang sedang koreksi, tapi momen ketika sistem itu sendiri terguncang oleh ENERGY SHOCK, Ketika jalur vital seperti Selat Hormuz terganggu, suplai minyak menyusut, dan dalam sekejap prioritas global berubah.
Saat itu terjadi, uang tidak lagi mengejar growth, tapi survival.
Itulah kenapa OIL LANGSUNG MELONJAK +43% karena dia bukan sekadar aset, tapi bahan bakar dari seluruh aktivitas ekonomi.
GOLD IKUT NAIK +20% karena ketakutan meningkat, tapi bahkan emas pun SEMPAT GOYAH ketika EKSPEKTASI suku bunga naik, fenomena ini menunjukkan bahwa bahkan safe haven masih tunduk pada kebijakan moneter.
Di sisi lain, BITCOIN MALAH JUNAM -21%, bukan karena gagal, tapi karena dalam kondisi krisis energi, pasar belum melihat Bitcoin sebagai kebutuhan utama.. alhasil likuiditas ditarik, risiko dihindari, dan BTC masih dianggap “opsional”.
S&P500 IKUT JUNAM karena perusahaan langsung terpukul biaya energi yang melonjak, margin tertekan, valuasi runtuh.
Dan yang paling menarik, US Dollar tidak melonjak seperti biasanya, malah stagnan. Ini sinyal penting bahwa bahkan fondasi sistem keuangan global mulai kehilangan stabilitasnya.
Jadi ini bukan sekadar rotasi dari satu aset ke aset lain… ini reset. Seperti satu kalimat yang merangkum semuanya: “WHEN ENERGY BREAKS, MARKETS DONT ROTATE… THEY RESET.”
@coingecko
Kalau kita zoom in ke Bitcoin di awal 2026, yang kita lihat sebenarnya bukan sekadar “harga turun”… tapi fase klasik yang sering dilupakan banyak orang: bear phase.
Dari akhir 2025 ke awal 2026, BTC turun cukup dalam, sempat menyentuh sekitar $62K sebelum akhirnya stabil di area $65–75K—ini bukan crash acak, tapi bagian dari siklus yang sudah berulang sejak awal eksistensinya.
Yang menarik, di tengah penurunan ini, justru masih ada inflow ETF sekitar $1.9 miliar.. ini sinyal penting bahwa pemain besar tidak benar-benar keluar, mereka hanya mengubah tempo.
Di sinilah kita melihat transformasi besar: market crypto mulai “dewasa”.
Dulu, saat harga turun, semuanya ikut panik dan kabur. Sekarang? Institusi tetap masuk, tapi dengan pendekatan yang lebih sabar dan strategis.
Namun, kedewasaan ini bukan berarti Bitcoin kebal. Bitcoin tetap tunduk pada satu hukum yang sama seperti aset lainnya: liquidity cycle.
Ketika likuiditas mengetat, bahkan aset terbaik pun akan turun.
Jadi ini tentang Bitcoin yang mulai diperlakukan seperti bagian dari sistem finansial global. Seirama dengan kondisi likuiditas, ikut naik saat likuiditas longgar, dan ikut turun saat likuiditas ketat.
@coingecko
SATU HAL YANG KITA BUTUHKAN: KEBIJAKSANAAN
AI mampu memproses informasi tanpa batas.
Namun AI tidak mampu memberi kebijaksanaan.
Kebijaksanaan membutuhkan refleksi, kesadaran, dan penilaian etis.
Sesuatu yang hanya bisa dibangun melalui kerja batin.
Ini yang dibutuhkan pemimpin di era AI.
Artikel: @McKinsey
https://t.co/Q58tAT1AiE
Jenius Matematika dalam satu wadah: Jane Street
Jane Street adalah quantitative trading firm murni. Mereka gak terlalu peduli background finance atau ekonomi. Yang mereka cari adalah orang dgn deep mathematical fluency (kemahiran matematika mendalam), problem solving super tajam, dan kemampuan berpikir probabilistik (probability theory, statistics).
Trading mereka pakai model kompleks mulai dr machine learning, applied math, statistics, programmable hardware, dll. Untuk menghandle ketakpastian di market, mrk butuh orang yang bisa model probabilitas super akurat dan cepat. Itu kenapa mereka prioritasin mathematical excellence di atas segala-gala nya.
Kenapa BTC yg di dump? bukan emas misalnya?
Selain karena market crypto masih relatip muda dan rapuh, satu firma seperti Jane Street (AUM sekitar $650 miliar) gak punya firepower yg cukup buat gerakkin emas secara signifikan. Kalau mereka coba dump besar di emas, pasarnya bakal absorb dgn mudah tanpa cascade liquidation gede.
Disiplin fiskal ituu... maksudnya negara tahu batas.
Belanja harus sejalan dg kemampuan, defisit dijaga, utang dipakai untuk hal produktif, bukan tambal sulam kebijakan populis.
Negara boleh berutang, tp tidak boleh hidup dari utang.
APBN besar tak berarti sehat kalau dampaknya kecil.
Tanpa disiplin fiskal, bunga utang membengkak, ruang bantu rakyat menyempit, dan krisis tinggal menunggu waktu.
Disiplin fiskal adalah rem ekonomi sebuah negara, memang rem tidak terasa dibutuhkn saat jalan lurus, tapi krusial saat turunan tajam.
Gambar: @Bisniscom
Secara etika, AI yang meniru orang yg telah wafat menimbulkan masalah serius.
1. soal consent: apakah almarhum benar-bener menyetujui identitas dan datanya “dihidupkan” kembali?
2. eksploitasi duka: teknnologi ini bisa memperpanjang kesedihan keluarga dan mengaburkan proses menerima kehilangan.
3. martabat manusia: mereduksi identitas sesesorang menjadi model data berisiko menghilangkan nilai kemanusiaannya.
4. risiko penyalahgunaan: akun yg “hidup kembali” bisa dipakai untuk manipulasi opini, penipuan, atau kepentingan komersial/politik tanpa kendali etis yang jelas.
AI semakin mengerikan
AS bisa jadi “polisi + bankir dunia” pasca 1945 bukan karena mereka paling bermoral, tapi karena pegang 3 kunci kekuasaan sekaligus:
1. Uang (emas & dolar)
2. Mesin produksi (porsi besar GDP dunia) 3. Senjata (militer terkuat + nuklir).
Dunia yang hancur butuh jangkar, dan AS kebetulan jadi jangkar itu.
Tapi fondasi tersebut sekarang mulai retak pelan-pelan: utang AS buwanyak, saingan ekonomi bangkit, dolar makin sering dipertanyakan.
Kita lagi masuk ke fase transisi kekuatan global, dan dunia lagi bergerak ke arah yang lebih multipolar...
Negara dengan ekonomi terbesar dunia, mata uangnya jd cadangan global, punya cadangan emas terbesar di dunia, dan bukan maen, punya utang puluhan triliun dolar… tiba-tiba buka fitur ‘donasi’ dari rakyatnya. 😭
Bukan bangkrut sih, lebih ke menguji nasionalisme rakyatnya mungkin. 😜😜😜
Negara kapitalis kalau defisit, rakyatnya disuruh sawer. 🤝😂 Bukan maen dah ahh...
"Make America Great Again"
Teriak bapak bapak blonde ituuhhh... 🤣🤣🤣
Jadi begini
Secara sains:
Emas memang bisa dibuat lewat reaksi nuklir (transmutasi atom). Itu memungkinkan di level teori & eksperimen.
Secara ekonomi:
Biayanya jauh lebih mahal dari nilai emas itu sendirii. Energi, infrastruktur, dan kompleksiitas teknologinya bikin “produksi emas” dengan cara ini bikin rugi besar.
Secara ekologi & operasional:
Prosesnyaaa menghasilkan limbah radioaktif, risiko keselamatan tinggi, dan dampak lingkungan besar. Tidak realistis dijadikan industri massal.
Di gambar ini keliatan kota-kota di AS dengan proporsi pekerja remote tinggi.
Tapi maknanya jauh lebih besar dari sekadar “orang kerja dari rumah”, ini tentang perubahan struktur karir. Saat ini ppekerjaan makin berbasis output, bukan kehadiran fisik, hierarki lama mulai kehilangan relevansinya.
Nilai seseoorang tidak lagi ditentukan oleh jabatan, tapi oleh dampak dan skill yang ia bawa.
Di sinilah fenomena conscious unbossing jadi masuk akal. Bukan krn generasi muda anti tanggung jawab, tapi karena model “menjadi bos = hidup naik level” makin sering terlihat tidak sebanding dengan realitasnya: beban naik, stres naik, waktu pribadi turun.
Saat seseorag bisa tetap berdampak besar tanpa harus masuk struktur manajerial tradisional, menjadiwajar jika mereka memikirkan ulang jalur karier traditional.
Remote work juga membuka pasar tenaga kerja global. Perusahaan tidak lagi dibatasi lokasi. Talenta dari berbagai negara bisa mengisi peran yang sama. Sektor yang paling banyak menyerap pekerja remote secara global hari ini relatif konsisten di sektor sektor sepetri: teknologi & software, data & AI, digital marketing & kreatif, e-commerce, consulting & professional services, serta pendidikan digital. Semua sektor ini mengandalkan output digital, bukan kehadiran fisik.
Skill yang dicari pun ikut bergeser: kemampuan teknis (coding, data, design, digital marketing), kemampuan bekerja mandiri, komunikasi tertulis yang jelas, manajemen waktu, dan kolaborasi asinkron. Dan tentu saja skill bahasa inggris kita harus juga ditingkatkan.
Di dunia remote, skill dan hasil kerja kita yang menarique.
Yukk upgrade skill klean.
Gambar: Voronoi
https://t.co/Ch9gvYfnPr
The Big Mac Index itu cara paling gampang utk ngebandingin “mahal/murahnya” mata uang dan biaya hidup antar negara, pakai satu barang yang sama yang ada di mana-mana: Big Mac.
Karena burger ini dijual hampir di seluruh dunia dengan resep serupa, perbedaan harganya biisa jadi cermin daya beli masyarakat, inflasi lokal, biaya tenaga kerja, sewa tempat, pajak, sampai kurs mata uang.
Di grafik 2000–2025 ini, tren harganya naik di hampir semua negara. Artinya, biaya hidup global makin mahal. Negara maju cenderung lebih mahal karena upah & biaya ops tinggi, semntara negara berkembang relatif lebih murah, meskit tetap ikut naik.
The Big Mac Index bukan alat resmi ekonomi, tapi “alat baca realitas” seberapa berat hidup sehari-hari di tiap negara, jika diukur dari satu burger yang sama.
Gambar: Voronoi
https://t.co/9L2sJs2bq7
#sakukita
GDP itu cara paling umum buat ngukur seberapa besar ekonomi sebuah negara berputar dalam setahun. Makin besar GDP, makin besar “mesin uangnya” bekerja.
Tapi… GDP bukan ukuran keadilan atau kesejahteraan.
Angkanya bisa tinggi, tapi kalo kekayaaan tidak terdistribusi secara merata, dan “gap” antara sikaya dan si miskin terlalu lebar, maka tetap saja mayoritas belum sejahtera
Di gambar ini, kita lihat peringkat GDP negara-negara terbesar dunia, tp ini cuma nunjukin ukuran ekonomi. Dan peringkat 1 GDP trbesar di dunia (proyeksi 2026) adalah AS dengan angka $31.8 T, disusul Tiongkok $20.7 T.
Tapi ironis nya, utang AS terus to the moon, bahkan sudah mencapai $38.51T, sudah melampaui GDP nya sendiri (>120%).
Jadi ekonomi bisa terlihat buwesaarrr, tapi di dalamnya menopang beban utang yang makin berat [baca: keropos].
Apa istilah yang tepat ya? “Besar pasak daripada tiang” kali ya?
Gambar: Voronoi
https://t.co/rLH4XkpRJt
#sakukita
Benar om, tanpa mengesampingkan alasan lain, alasan ini yg paling tepat menurut saya.
Misal brand A, seladanya kita supplai.
Di wilayah yg sama lalu kita buka brand B, yg selada nya dr kebun kita sendiri yang berasal dari kebun yg sama dengan yang kita supplai ke brand A.
Sementara jumlah kosumen kebab tidak bertambah. Ini lebih mirip zero sum ke bisnis kebun selada nya kan ya? Tidak ada tambahan order selada sebenarnya.
Misal, konsumen kebab lebih memilih brand B punya kita, artinya brand A sudah tidak dipilih. Berarti order selada dari brand A akan menurun.
Hal ini tidak berlaku jika konsumen kebab nya juga ikut bertambah sehingga ada peluang brand A tidak kehilangan pasar.
Menurut saya begitu sih.
Yaa meskipun secara bisnis sah sah saja meski kita berkompetisi dengan klien kita.
SANG LEGENDA: MICROSOFT EXCEL
Teknologi sekarang sudah super canggih.
Katakanlah di sebuah perusaahaan, mereka sudah pake tools seperti ERP, AI, dashboard otomatis, yang biasanya untuk perusahaan besar, mereka men-develop sendiri system itu.
Tapi ironinya hampir semua karyawan (even perusahaan besar sekalipunn) tetap pake Microsft Excel nyaris tiap hari.
Kenapa Microsoft Excel tidak tergantikan?
Karena Excel itu alat paling “manusiawi”: cepat, fleksibel, bisa dipakai siapa saja.
Sistem yg dimiliki perusahaan, bagus untuk proses entri, proses rutin, tapi lemah untuk kebutuhan dadakan, seperti analisis cepat, dll.
Saat sistem kaku atau error, Microsoft Excel pasti jadi plan B semua karyawan.
Di balik semua teknologi modern, Excel tetap jadi tulang punggung kerjaan kita sehari-hari.
Jadi sebaiknya, kalian perkuat skill Excel juga ya...
#sakukita