@shuhinasgor Sedikit memalukan baginya untuk mengakui hal tersebut setelah mengatakan bahwa ia lelah diatur untuk menetap ataupun berhenti.
"Jika jujur, mungkin aku masih ingin menetap," gumamnya, mengakui apa yang Sunao rasakan setelah pertengkaran itu.
(@shuhinasgor)
γ π£ππ’π§ πͺππ§π @shuhinasgor γ
Bel pulang berbunyi, menandakan bahwa pelajaran telah selesai hari ini. Dengan cepat, Sunao mengangkat tas miliknya sebelum berjalan menuju pintu keluar sekolah.
Setiap langkah ia ambil dengan begitu lemas, seolah energinya terkuras habisβ
@shuhinasgor Mengikuti perkataan orang lain telah membuatnya ragu akan suara dan pendapat yang ia miliki, dan terpendam di dalam dirinya.
"Aku tidak membencinya ... " lanjut Sunao, jelas kalimat itu tertuju pada keberadaannya di dalam Vadlip. " ... Ide untuk bernyanyi bersama kalian lagi."
@shuhinasgor "Sebenarnya, Omi-san mengatakan jika sebaiknya aku menetap di Vadlipβya, aku yakin kalian berpikir sama dengannya ... "
Sunao terdiam, rasanya sulit untuk mengungkapkan perasaannya. "Entah, rasanya lelah menuruti permintaan orang lain. Mau berhenti atau menetap."
(@shuhinasgor)
@shuhinasgor Lagipula, mereka yang memberikan ide ini bagi para pelanggan seperti mereka. Sialnya kedua anak sekolah ini yang harus memakai sesuatu yang sedikit memalukan.
Sunao sendiri meyakinkan dirinya bahwa ini akan segera berakhir sebelum merangkai kata-kata untuk menjelaskan situasiβ
@shuhinasgor Tanpa memerlukan waktu lama untuk menentukan jawabannya, Sunao memilih warna yang lebih gelap seperti biasanya. Namun, ini benar-benar wajib?
"Aku akan memilih yang warna hitam ... Tapi, apa-apaan ini-?" tanya Sunao, sedikit terkejut dengan pemberian mereka.
(@shuhinasgor)
@shuhinasgor "Omi-san? Diaβ" baru saja Sunao ingin menjelaskan keadaannya, seorang pelayan memberikan sesuatu kepada mereka, lebih tepatnya sepasang aksesoris telinga kucing.
Jadi, yang kucing disini mereka di bawah atau pelanggan yang memesan makanan, ya? Sunao bertanya dalam diamβ
@shuhinasgor Seharusnya, yang menemaninya kesini adalah Hisaomi. Namun, Sunao tidak memiliki pilihan lain karena masalah yang menghambat hubungan mereka berdua.
Ia pun membuka ponselnya, melihat puluhan panggilan 'tak terjawab. " ... Omi-san yang harusnya menemaniku kesini."
(@shuhinasgor)
@shuhinasgor " ... Mungkin, keduanya?" jawab Sunao dengan sedikit ragu. Lagipula, ia kemari karena memiliki seorang teman yang mengajaknya pada waktu luangnya.
"Aku datang karena ajakan, tapi aku tidak membenci itu sepenuhnya ... Aku memang ingin datang kesini jika ada seorang teman."β
@shuhinasgor "Tidak bisa ... " gumam Sunao dengan suara yang pelan, seolah berbisik pada dirinya sendiri.
" ... Aku tidak bisa membuat pilihan untuk diriku sendiri," ucapnya setelah merangkai kata-kata dengan tepat.
(@shuhinasgor)
@shuhinasgor Mungkin, bercerita sedikit akan memberikan konteks pada pertengkaran mereka kali ini. "Omi-san selalu mengaturku ... Sampai kapan aku harus menurutinya?"
Pertanyaan itu ditanyakan dengan sedikit kesal, tapi Sunao tetap menjaga ketenangannya. Lagipula, mereka ada di tempat ramaiβ
@shuhinasgor Raut wajahnya menunjukkan kebenaran tanpa harus dijelaskan dalam kata-kata. Memang benar jika terdapat sesuatu yang terjadi di antara dirinya dengan Hisaomi.
" ... " Sunao kembali terdiam, menunggu pertanyaan yang akan ditanyakan padanya lagi setelah ini.
(@shuhinasgor)
@shuhinasgor Sunao terdiam kembali, mengalihkan perhatiannya ke luar jendela setelah kucing itu pergi. Lebih baik, dia menjawabnya dengan jujur, bukan?
"Kalau aku memang tidak ingin mengobrol dengannya, terus kenapa?" tanya Sunao sembari menopang kepalanya dengan tangannyaβ
@shuhinasgor "Lagipula, memutuskan sesuatu untuk diriku sendiri ... " Sunao terdiam, meninggalkan kalimat itu tergantung tanpa lanjutan.
Ia hanya menatap kucing-kucing yang mulai berdatangan sebelum melanjutkan isi kalimatnya. " ... Itu tidak apa, 'kan?"
(@shuhinasgor)
@shuhinasgor " ... " Sunao terdiam, topik mengenai Hisaomi gagal untuk dihindari. Padahal semuanya sudah berjalan dengan baik hingga mereka sampai disini.
Lelaki itu menghela napasnya pelan. "Tidak, aku tidak bilang apapun," jawabnya tanpa mengalihkan perhatiannya dari kucing yang dielusnyaβ
@shuhinasgor Melihat sesuatu yang menarik, Sunao pun memesannya tanpa bepikir untuk kedua kalinya. "Kue pisang, satu."
Seusai memberi pesanannya, Sunao menunggu Shu untuk menentukan miliknya sembari mengelus kepala kucing yang menunggunya di dekat meja.
(@shuhinasgor)
@shuhinasgor Sunao membuka pintu kafe sebelum berjalan masuk dengan Shu. Setelah menentukan tempat duduk, pelayan kafe memberikan mereka dua buku menu untuk menentukan pesanan.
Sunao melihat menu untuk menentukan pesanannya, walau pandangannya seringkali tertuju pada kucing di sampingnyaβ