Guys adi taher baru aja cerita
asal mula di jualan burger
adlis burger juicy luicy cempaka putih
Semua ini dimulai dari satu titik:
karier Aldi Taher lagi nggak se-ramai dulu.
Job nyanyi mulai sepi.
Exposure turun.
Dan di titik itu, dia butuh satu hal: cara bertahan hidup.
Ide Gila Muncul dari Momen Sederhana
Bukan dari bisnis plan.
Bukan dari investor.
Bukan dari riset pasar.
Cuma dari makan burger bareng anaknya.
Anaknya bilang:
Pah, enak nih.
Di situ langsung klik.
Simpel banget:
Yaudah… gue jual burger aja.
Dan dari situ lah lahir:
Aldi’s Burger
Nggak Sendiri Kerja Bareng Partner
Dia nggak sok jago sendirian.
Dia ketemu partner (Rizal), lalu bikin sistem:
- modal bareng (50:50)
- konsep syirkah (kerjasama)
Tempatnya?
Bekas usaha mie ayam yang sebelumnya gagal.
Dan ini penting:
- dia nggak anggap gagal
- dia anggap: “rezekinya cuma segitu”
Buka di Cempaka Putih
Hidden Gem Jadi Meledak
Lokasinya bukan di mall.
Bukan di tempat fancy.
Bahkan agak masuk ke dalam.
Tapi justru itu jadi:
hidden gem → viral spot
Marketing Paling Gila di Indonesia
Ini kuncinya.
Dia nggak pakai:
- influencer
- iklan mahal
- strategi ribet
Dia pakai:
SPAM KOMENTAR + NGACO MARKETING
Contohnya:
Aldi’s Burger Cempaka Putih rotinya lembut dagingnya juicy luicy mahalini rizky febian…
Random.
Absurd.
Kayak orang agak sengklek
Tapi justru:
- jadi meme
- jadi inside joke
- jadi viral nasional
Juicy Luicy” Itu Bukan Rasa
Itu STRATEGI
Banyak orang salah paham.
“Juicy Luicy” bukan sekadar deskripsi daging.
Itu:
gabungan kata + nama band + gimmick lucu
Makanya orang:
- hafal
- repeat
- auto nyebarin
Ini branding level dewa:
aneh tapi nempel
Viral → Antrean Gila-Gilaan
Begitu viral:
Antrean panjang tiap hari
Food vlogger datang
Bahkan sempat chaos (disiram warga)
Burger jumbo Rp65 ribu:
- bisa buat rame-rame
- jadi konten
- jadi FOMO
Dari Nol → Omzet Ratusan Juta (Bahkan Miliaran Potensi)
Baru buka awal 2026
Langsung viral
Penjualan ratusan burger per hari
Dan yang paling gila:
- balik modal cepat
- ekspansi mulai dibahas
- valuasi mulai dilempar ke publik
Aldi’s Burger itu bukan cuma soal burger.
Ini kombinasi:
🔹 desperation (lagi butuh uang)
🔹 keberanian (nekat jualan)
🔹 keanehan (branding absurd)
🔹 konsistensi (spam tanpa malu)
🔹 persona (orangnya emang unik)
Banyak orang pintar marketing
Tapi nggak semua berani “jadi aneh”
Dan di situlah dia menang.
Aldi’s Burger lahir dari:
momen kecil + tekanan hidup + keberanian gila
Dan meledak karena:
marketing nyeleneh + konsistensi brutal + persona kuat
Speaking up means A LOT guys, ayo semuanya jadi perempuan yang gak ‘seru’ itu yang gk bisa di ajak jokes misogynistic. Let’s all be mad when we hear any of that stuff.
Org ganteng yg gw temuin rata2 gak bs diajak ngomong banyak hal aka kurang cerdas. Mungkin krn uda ngerasa ganteng kali ya dan buat mereka itu cukup.
Padahal kalo isi kepalanya juga GANTENG, bisa tambah WAH!
Atau bisa jadi selera gw yg pinter, jadi nyadar dia ganteng tuh belakangan 🤣
Ada nasehat darin senior di kampus dulu,
"Orang yang gak pernah berani nyoba, akan ngerasain penyesalan yang lebih pahit dan akan kebawa2 sampe tua nanti."
Etlis kalo gagal, dapet 2 hal:
- rasa penasaran bisa ilang/minimal
- bs evaluasi apa yg bikin gagal
Sementara kl nyesel, yauda cm bs ngungkit "seandainya 100x"
You are not a machine. You're a soul who needs music, connection, sunsets, laughter and small pockets of joy. Prioritize them like your life depends on it because it does. Life isn't meant to be a cycle of stress and survival. Pause. Look up. Let the sunset remind you: you're here to live, not just to hustle. Life is not a to-do list. It's a gift. Walk slower. Hug longer. Laugh louder. Love deeper. The clock may be ticking, but your presence is timeless. We've been conditioned to believe that constant productivity equals worth, but humans weren't designed for endless output. We need moments of wonder, connection, and rest... not as rewards for hard work, but as essential ingredients for a meaningful life.
menurutku orang-orang yang ngga punya circle pertemanan khusus, sering kemana mana sendiri, tapi tetep hangat dan nyambung di berbagai lingkungan. biasanya adalah orang yang hidupnya sudah secure.
mereka ngga bergantung pada satu circle buat merasa cukup. bisa makan sendiri, nonton sendiri, jalan sendiri tanpa merasa rendah diri. tapi tetap ramah, tetap terbuka, dan tetap bisa bergaul dengan siapa saja tanpa kehilangan diri sendiri.
Gue punya temen yang pertama kali merantau ke Jakarta, dia masuk kerja di salah satu kantor di pusat kota.
Hari pertama, dia langsung ngerasa salah tempat.
Bukan karena dia nggak kompeten, tapi karena lingkungannya beda banget.
Orang-orang di kantornya ngomong campur Inggris, santai bahas kuliah di luar negeri kayak University of New South Wales atau Monash University, seolah itu hal biasa.
Sementara dia?
Dari kampus daerah, nongkrongnya dulu kopi sachet, mainnya kartu sama temen-temen.
Kontrasnya kerasa banget.
Hari pertama aja dia udah minder.
Dia cerita ke gue, Gue ngerasa paling nggak nyambung di ruangan itu.
Bahkan hal simpel kayak nanya kuliah di mana bisa jadi awkward, karena jawabannya beda dunia.
Dia sempet mikir kalau dia kurang pintar, kurang keren, bahkan sempet kepikiran apa gue nggak pantes di sini ya?
Tapi makin lama dia mulai sadar sesuatu yang cukup nendang.
Ternyata bukan dia yang kurang tapi banyak dari mereka emang udah punya start lebih dulu.
Dari SMA udah di luar negeri, udah biasa presentasi, udah terbiasa ngomong dengan cara yang terdengar pintar.
Jadi pas masuk kerja, mereka keliatan langsung siap. Sementara temen gue?
Baru belajar semua itu dari nol di dunia kerja.
Yang bikin dia makin kaget, ada beberapa orang yang keliatannya santai banget, kerjanya nggak terlalu keliatan, tapi posisinya aman.
Setelah dia cari tahu pelan-pelan, ternyata background keluarganya bukan kaleng-kaleng.
Dari situ dia mulai ngerti, di Jakarta itu bukan cuma soal kerja keras tapi juga soal lu mulai dari mana.
Dia juga pernah cerita pengalaman lain yang bikin dia makin kebuka matanya.
Pernah dia kerja di tempat yang secara logika bisnis nggak masuk akalnggak jelas profitnya, tapi tetap jalan terus.
Dia sampe nanya ke seniornya, ini kok bisa hidup ya? Jawabannya simpel, “Udah, nggak usah dipikirin.
Beda dunia.
Di situ dia sadar, buat sebagian orang, kerja atau bisnis itu bukan buat bertahan hidup, tapi cuma aktivitas
Tapi justru dari semua itu, yang paling berubah dari dia bukan skill teknis tapi cara dia melihat diri sendiri. Awalnya dia minder, ngerasa kecil.
Tapi lama-lama dia mulai ngerti
dia mungkin nggak punya privilege yang sama, tapi dia punya daya tahan yang nggak semua orang punya. Dia terbiasa adaptasi, belajar dari nol, dan itu pelan-pelan jadi kelebihan.
Sekarang, setelah beberapa tahun, dia bilang ke gue satu hal yang cukup pedas tapi jujur
Di Jakarta, lu bakal ketemu orang yang keliatan jauh di atas lu.
Tapi bukan berarti mereka lebih hebat kadang mereka cuma mulai lebih dulu.
Tugas lu bukan ngejar mereka, tapi jangan berhenti jalan.
Dan menurut gue itu poin paling real dari merantau.
Anak kecil lebih gampang bahagia, masih kuat dimensi kesadarannya (BEING).
Orang dewasa sulit bahagia, gampang menghakimi & membenci, udah didominasi dimensi pikirannya (DOING).
Saya nonton film Na Willa, ngliatnya dari sisi… Mind itu ada kesadaran (being) & pikiran (doing).
Dulu kita lahir, waktu kecil, mind kita masih kuat di dimensi kesadaran. Mode being. Sadar penuh hadir utuh.
Masih terhubung sama hakikat diri, the deep I, our true nature. Belum keambil alih sama diri yang diciptakan pikiran, ego, “aku”.
Belum punya beban “harus jadi siapa.” Belum sibuk bandingin diri. Belum kuat identitasnya, belum ada “aku lebih baik dibanding kamu” “kelompokku lebih suci dibanding kelompokmu”.
Main ya main. Ketawa ya ketawa. Nangis ya nangis. Rebutan main, marahan, abis itu main bareng lagi, ketawa bareng lagi.
Simple… oleh karena itu anak kecil lebih gampang bahagia.
Nggak gampang sakit hati, nggak dendam.
Nah, makin kita gede…
Pelan-pelan kita diajarin orang-orang dewasa dan tua di sekitar kita:
“Kamu itu identitasnya ini. Beda dengan itu.”
Terjadi pengelompokkan, fragmentasi. Dan itulah akar dari kebencian, penghakiman, kekerasan. “Aku benar, kamu salah.” “Kelompokku benar, kelompokmu salah.”
Kita juga jadi terprogram:
“Kamu harus begini.”
“Kamu harus sukses.”
“Kamu harus lebih dari orang lain.”
Mulai mikir terus, bandingin, ngejar.
Dan tanpa sadar… kita jadi didominasi dimensi pikiran. Mode kita jadi doing.
Kalo udah gitu, kita mulai ribet. Jadi susah bahagia. Dikit-dikit kepikiran. Dikit-dikit konflik.
Karena kita makin jauh, nggak terhubung sama hakikat diri, the deep I, our true nature.
Kita makin jauh sama diri kita sendiri. Jadi kesulitan kayak anak kecil yang sekadar hadir, sadar di sini-kini.
Present moment is wonderful moment ✨
Itulah kenapa yang seringkali menghancurkan kebahagiaan anak kecil adalah orang-orang dewasa dan tua di sekitarnya.
lagi iseng beres-beres buku… terus menemukan diari mendiang ibuku…. rasanya kayak apa ya… anget bacanya….
((kadang ada wanita-wanita yang tidak sempat menembus dunia)) — kata lain dari ‘sayangnya aku ga beruntung’.
what a words… 🥹