“kami mau melapor ke polisi, polisi punya dapur sppg, kami mau melapor ke TNI, TNI punya dapur sppg, kami mau melapor ke DPR, DPR pun punya dapur sppg. jadi ini jalan terakhir kami untuk mengadu, kepada konstitusilah kami berharap”
—ucap seorang guru, pendidik anak bangsa. ironi.
Dari demo kemarin aku tuh baru nyadar kalo polisi di Indonesia tuh SEBANYAK ITU
Soalnya aku ga pernah liat mereka keliatan kerja kek yang kerja di jalan gitu, paling polantas yang pagi-pagi foto di jalan abis itu melipir entah kemana, atau muncul pas ada acara/kejadian gitu
momen gibran di wawancara rosi:
🤵🏻 Eh Mbak Penasaran gk?
👧🏻 Apa?
🤵🏻 konsultan saya siapa?
👧🏻 Siapa?
🤵🏻 Oh gk tau ya? Semua orang menanyakan itu
👧🏻 Punya konsultan politik atau gk?!
🤵🏻 Bukan punya atau gk siapa gk tau ya? Gk ada yg tau ya?
👧🏻 Gk, kenapa?
🤵🏻 Banyak yg menanyakan soalnya
👧🏻 Ya iya kenapa sekarang ya aku tanya
🤵🏻 Ya karena cara komunikasi saya gk seperti orang biasa
👧🏻 Jadi siapa?
🤵🏻 Ya rahasia!!
Ini skrip stand up komedi gk sih?!
mampuslah kita WNI prabowo gibran
gada yang bisa di harapkan
Dengar nggak? Kalau menterinya minta anggaran Rp5 triliun, dia kasih Rp10 triliun.
Bangganya luar biasa ngomong begitu, seolah-olah itu uang dari kantong pribadi. Padahal itu uang rakyat. Heran, kok bisa merasa gagah saat menghambur-hamburkan uang yang bukan miliknya.
⚠️ ALERTA ⚠️
ternyata kita bisa manfaatin HP kita (iPhone/android) buat tau lagi ada pelacak yg 'ngikut' di deket kita.
caranya gue lampirin di foto ya
jangan lupa bookmark buat jaga-jaga
stay safe ya semua 🙏
sumpah kalian harus baca ini. punya @projectm_org gimana rezim prabowo dan seskab teddy membungkam media saat meliput bencana di Sumatra. semua dibungkam
@karirfess Kalo gw yg jadi presiden kayanya juga bakalan makmur deh, gue bayar org pinter yg emang di bidangnya, gue bikin indonesia jadi negara 1000 bunga, gue bikin semua kota pada nanem pohon yg berbunga, kota panas gue tanemin bugenvil yg lebat
Cuma mau ngomong, terimakasih kepada Rosianna Silalahi, Dirut Kompas TV yang mau MENYIARKAN LIVE aksi mahasiswa di Jakarta hari ini.
Butuh keberanian besar untuk melakukan keputusan sebesar itu ditengah REPRESIFNYA rezim totalitarian hari ini.
We love you kak Rosi, we love Kompas TV.
Kalau benar negara sedang sulit, seharusnya pengorbanan dirasakan bersama. Bukan rakyat yang terus diminta memahami, sementara fasilitas untuk penguasa dan aparat tetap berjalan tanpa kompromi.