... bawahnya masih agak hangat. Walau atasnya sudah resmi dingin. Siapa pun orang yang melihat masakan dan juga merasakan masakan milik Ingrid pun akan terpesona, bahkan jatuh cinta.. karena rasanya magis—enak yang tiada tanding. Tapi malam ini, Berkah tidak langsung makan.
Tak lama kemudian pandangannya pun beralih pada kotak bekal di atas meja. Tiga kotak makanan yang telah tersusun simetris. Dori paprika, nasi merah, dan sup rumput laut. Semua itu adalah makanan yang ia sukai. Berkah mendekat perlahan, memegang salah satu kotak bekal yang ...
Berkah menghembuskan napas. Tenggorokannya terasa kering, hingga sebotol air pun dibukanya, dan diteguk isinya beberapa kali.. entah ini gugup atau apa tapi yang pasti ruangannya hangat, yang dingin hanya mereka berdua.
“Lapar. Makan yuk?” (@debursenja).
... ia tidak langsung masuk, tetapi sedikit bergeser. Mempersilakan Ingrid untuk masuk duluan. Setelah wanita itu masuk, ia mengekor dari belakang, dan menempelkan kartu aksesnya di dinding membuat ruangan lega itu terlihat megah dengan lantai marmer dan juga lampu keemasannya.
Hening menjadi nyamuknya.
Seolah takut hening kembali menyantap, Berkah menghela napas, ragu-ragu ia arahkan jemarinya pada jemari milik Ingrid untuk segera menuju ke kamar. Sentuhan itu hati-hati, seakan meminta izin. “Ayo, keburu dingin makanannya.” (@debursenja).
“Hmm... belum.” Ia menggaruk tengkuknya pelan, menghindari tatapan lawan bicaranya. “Saya... nunggu kamu, supaya bisa makan bersama.” Berkah kali ini berusaha untuk tampil apa adanya, tanpa ingin membuat wanita di depannya merasa sakit karena ucapannya yang kadang kelewatan.
ㅤ 5 July 2026⠀•⠀05:40 CEST
𝗖𝗛𝗔𝗧𝗘𝗔𝗨 𝗩𝗔𝗟𝗠𝗢𝗡𝗧
𝗕𝗘𝗥𝗡, 𝗦𝗪𝗜𝗧𝗭𝗘𝗥𝗟𝗔𝗡𝗗
One final morning at the chateau with family before the calendar resumes. A last stroll through the grounds with Josephine before a brief business detour to France.
ㅤ
Namun, begitu bisikan kedua diberikan, kedua tangan Ingrid langsung melonggar. Kedua mata yang terpejam segera terbuka. Air mata mulai menggenang, buru-buru ia tahan agar tidak terjatuh. Hatinya terasa begitu sakit— ia tak mampu mengutarakan perasaannya sama sekali dengan kata.
... Habis dari mana? Kok dingin banget pipinya? Angin di luar sana kencang emang?” bisik Berkah dengan nada lembut, sementara sang ibu jari ia usapkan pada pipi Ingrid, di depan mata para stafnya yang saat ini pada tersenyum, 𝘣𝘢𝘱𝘢𝘬 𝘥𝘢𝘯 𝘪𝘣𝘶 𝘪𝘯𝘪 𝘭𝘶𝘤𝘶 𝘣𝘢𝘯𝘨𝘦𝘵.