Kekuatan omongan itu real banget.
STOP bilang kamu capek terus, kamu bokek, atau kamu depresi.
START bilang kamu bersyukur. Mulai manifesting hal-hal baik. Mulai ngomongin hal positif ke diri sendiri.
Biasain ngobrolin berkah lebih banyak daripada beban.
Kalau kamu nyebarin energi positif, semesta juga bakal ngasih balik berkah yang lebih banyak.
Tutup “jendela” yang bikin kamu ke-trigger, se-menarik apa pun itu. Disiplin sama apa yang kamu konsumsi. Ke mana fokus kamu pergi, energi kamu juga ngikut.
Enak banget yaa resign dengan pendapatan yang unlimited bisa kemana aja, tinggal ongkang angking kaki, keliling dunia dll
Tapi perjuangannya ga main main 😭😭😭
Mark bimillah nular ke aku 😭😭😭
@munvess N1 ga sesulit itu nder hehe.
Jokes aside. Sedikit tips.
Jangan buat belajar itu menjadi hal yang melelahkan. Baca buku bahasa Jepang yang disuka. Dengerin berita atau podcast bahasa jepang yang menarik.
Aku dulu sampai tiap hari dengerin video orang jepang bersihin tawon
ga ada perempuan yang gila kerja, kecuali perempuan-perempuan yang sadar bahwa ga ada satupun orang yang bisa mewujudkan keinginannya kecuali dirinya sendiri.
itulah kenapa independent women tahan banting.
Lagi rame kasus grup wa mahasiswa UI mau berpendapat dari sisi medis khususnya psikologi, karena saya bukan polisi moral 😆
Kenapa banyak cowok bisa nyaman ngomongin perempuan secara objektifikasi di grup privat?
Karena ada yang namanya “disinhibisi online”.
Saat merasa aman, anonim, dan “cuma di grup”, otak kita jadi lebih berani ngeluarin sisi yang biasanya ditahan.
Ditambah lagi efek peer pressure.
Di otak, ini berkaitan dengan sistem reward:
• Dapet respon “haha”, “anjir”, “setuju”
• Dianggap lucu, dianggap bagian dari circle
• Dopamin naik.
Lama-lama, perilaku itu “dipelajari” sebagai sesuatu yang menyenangkan dan normal.
Masalahnya?
Kalau terus diulang, ini bisa mengarah ke desensitisasi.
Empati ke perempuan turun.
Perempuan gak lagi dilihat sebagai manusia utuh… tapi jadi objek.
Ini bukan hal sepele.
Dalam banyak studi psikologi, objektifikasi yang terus-menerus bisa jadi pintu awal ke:
• Pelecehan verbal
• Pelecehan seksual
• Bahkan kekerasan seksual
Jadi ini bukan cuma “becandaan cowok”.
Ini soal pola pikir yang dibentuk pelan-pelan… sampai batasnya jadi kabur.
Makanya penting banget buat sadar:
Kalau kalian cuma bisa bonding dengan cara merendahkan orang lain, itu bukan bonding.
Itu conditioning.
Dan kalau dibiarkan, dampaknya bukan cuma ke orang lain…
Tapi ke cara otak memandang manusia..
mungkin gue sebenernya uda hidup di doa dan mimpi yg gue harapkan itu cuma ga sadar aja. soalnya ketika kita grow, ekspektasi kita berubah lagi ke referensi lain. padahal yg sekarang mungkin harapan kita yg waktu dulu.