Di kantor baru-baru ini ada teman yang beli motor baru, Vario 125.
Kami semua ikut ngucapin selamat karena akhirnya dia bisa beli motor sesuai keinginannya.
Tapi di tengah obrolan, ada satu teman yang malah nyeletuk, "Lho kok beli Vario?
Padahal kamu mah mampu beli PCX terbaru. Kenapa malah pilih Vario?
Modelnya juga kurang bagus."
Suasananya langsung agak canggung. Kami pikir teman yang beli motor bakal tersinggung.
Tapi jawabannya justru bikin semua orang diem.
Dia bilang, "Kalau soal mampu, beli Fortuner juga saya mampu.
Tapi buat apa?
Vario ini sudah paling cocok sama kebutuhan saya, nyaman dipakai, dan memang sesuai selera saya. Buat apa beli PCX cuma demi gengsi kalau sebenarnya hati saya nggak pengen?"
Habis dengar jawaban itu, kami cuma saling senyum. Rasanya memang benar juga.
Kadang orang terlalu sibuk menilai pilihan orang lain, padahal yang menjalani dan membayar juga bukan mereka.
Jujur, aku juga pernah mengalami hal serupa. Waktu beli HP Samsung, ada teman yang langsung bilang, "Kenapa nggak sekalian beli iPhone aja?"
Seolah-olah semua orang harus memilih barang yang sama supaya dianggap keren.
Padahal menurutku, yang paling penting bukan harga atau gengsinya, tapi apakah barang itu memang sesuai kebutuhan, nyaman dipakai, dan kita membelinya tanpa memaksakan keadaan.
Kalau kalian sendiri pernah nggak, beli sesuatu yang sebenarnya sudah sesuai kebutuhan, tapi malah dikomentari atau dibanding-bandingkan sama orang lain?
Gue kerja kantoran 8 tahun. Gaji Rp 6,2 juta, THR lancar, BPJS aman.
Temen SMA gue jualan frozen food dari dapur rumahnya, gak punya slip gaji sama sekali.
Bulan lalu dia beli ruko.
Gue masih ngontrak.
Yang bikin gue kepikiran bukan itu. Tapi jawabannya pas gue tanya rahasianya.
Namanya Wulan. Dulu di sekolah biasa aja, gak pinter-pinter amat.
Gue yang dulu ranking, gue yang kuliah, gue yang kerja kantoran.
Gue pikir dia bakal jawab soal keberuntungan, atau modal dari suaminya.
Dia malah balik nanya, "Lo tiap bulan dapet berapa banyak pelanggan baru?"
Gue bingung. Gue kan karyawan.
"Nah itu," katanya.
"Lo cuma punya satu pembeli seumur hidup: kantor lo."
"Kalau satu pembeli itu berhenti beli, penghasilan lo nol. Gue punya 400-an pembeli. Kalau 10 kabur, gue masih hidup."
Gue gak bisa jawab apa-apa waktu itu.
Sepanjang jalan pulang gue itung-itung sendiri, dan makin gak enak perasaannya.
Gue selalu ngira kerja kantoran itu aman.
Ternyata definisi aman gue selama ini keliru.
Aman itu bukan penghasilan yang pasti. Aman itu penghasilan yang gak bisa diputus satu orang.
Dan hidup gue, cicilan gue, sekolah anak gue, semuanya bergantung sama tanda tangan satu orang di ruangan HRD.
Selama 8 tahun gue nyebut itu "stabil".
Tapi gue gak langsung resign. Gue gak senekat itu, dan gue gak nyaranin siapa-siapa resign gara-gara baca thread.
Gue mulai dari yang paling kecil.
Gue jualan sambel kemasan buatan ibu gue, ke temen kantor doang.
Modal pertama gue Rp 380 ribu, itu dari uang belanja yang gue sisihin diem-diem.
Gak ada rencana besar. Gue cuma pengen tau rasanya dapet duit dari orang yang gak wajib bayar gue.
Bulan pertama laku 14 botol. Untung Rp 112 ribu.
Kecil banget. Gaji gue sehari aja lebih gede.
Tapi ada rasa yang gak pernah gue dapet dari 8 tahun kerja kantoran:
itu duit yang dateng bukan karena gue nunggu tanggal 25.
Itu duit yang dateng karena ada orang yang mau bayar buat sesuatu yang gue bikin.
Masalah muncul di bulan ketiga.
Ada pembeli komplain sambelnya berjamur padahal baru 5 hari.
Gue panik. Gue kirain resepnya salah, sampe gue nyalahin ibu gue dalem hati.
Wulan yang akhirnya kasih tau.
"Bukan sambelnya, Mbak. Kemasannya. Lo pake botol biasa, udaranya masih masuk."
Masalahnya bukan di produk. Di bungkusnya.
cc : anitarisoraya
Menurut psikologi, kalau setiap kali lagi capek atau banyak masalah kamu lebih memilih menghilang, mengurung diri, dan nggak cerita ke siapa pun, bisa jadi itu karena sejak kecil kamu terbiasa menghadapi semua perasaanmu sendirian. Jadi sekarang, saat hati lagi berat, otakmu otomatis memilih diam daripada meminta bantuan. Kalau ini terasa seperti ceritamu, semoga kamu ingat bahwa kamu nggak harus selalu kuat sendirian. 🫂
Lagi relate dari kata kata ini:
"Kekhawatiran berlebih, membuat kau tertinggal jauh. Ketakutan yang tidak pada tempatnya. Membuat tangismu sia sia."
- Melangkah
Tau nggak kapan kita benar-benar perlu banyak bersyukur?
Saat kita sadar kalau apa yang kita anggap biasa, ternyata adalah impian bagi orang lain.
Masih punya pekerjaan, masih ada penghasilan setiap bulan, masih bisa memenuhi kebutuhan hidup. Mungkin terasa melelahkan, tapi di luar sana banyak orang yang sedang berjuang keras untuk mendapatkan kesempatan yang sama.
Makanya, setiap kali mulai mengeluh karena capek, aku selalu mengingatkan diri sendiri untuk tidak menganggap semua ini sebagai hal yang pasti.
Sekecil apa pun rezeki yang Allah titipkan hari ini, tetap pantas disyukuri.
Kalau kamu bertanya kepadaku, "Gimana caranya hidup lebih tenang?"
Aku akan menjawab:
"Mulailah menerima, dan berhentilah terlalu banyak berharap."
Tapi kalau kamu bertanya lebih dalam lagi,
jawabanku akan berbeda.
Karena sebenarnya, ketenangan bukan sesuatu yang datang ketika hidupmu akhirnya sempurna. Ketenangan muncul saat kamu berhenti melawan kenyataan yang memang tidak bisa diubah.
jangan jahat-jahat sama temen kantor. you never really know what they're going through after they clock out.
bisa aja orang yang keliatan ketawa tiap hari ternyata pulang ke rumah sambil nangis, bisa aja yang selalu bantuin kerjaan orang lain ternyata lagi capek sama hidupnya sendiri.
being kind literally costs nothing. kadang satu sikap baik kecil dari kita bisa jadi alasan seseorang buat bertahan satu hari lagi.
it's a different kind of heartbreak when the place you're supposed to work and grow in starts feeling like a place where you have to constantly defend your existence.
dan kalau memang gak bisa saling menguatkan di tempat kerja, setidaknya gak usah saling menghancurkan. karena kita gak pernah benar-benar tau, seberapa berat perjuangan seseorang saat dia tetep dateng ke kantor sambil pura-pura ok wkwk padahal aslinye mah abis nangis di jalan cuy.
orang yang real life nya sepi banget, ga punya banyak orang yang bisa dihubungin kapan aja buat ngobrol, no close friends, ga open sama keluarga, basically solo mode full time, tapi mereka itu strong af, kadang life nya messy, lost arah, sering nangis sendirian di malam hari, tapi tiap hari tetap bisa di push through, somehow, always find a way.
huge respect buat kalian yang survive dalam silence, you’re tougher than you think .
Yang gue pelajari dari laci meja itu :
Generasi Bapak kita tidak diajari untuk meminta tolong.
Mereka diajari untuk menyelesaikan. Diam. Lanjut. Jangan bikin orang lain khawatir
Kekuatan itu nyata. Tapi harganya mahal dibayar dengan kesendirian yang tidak pernah mereka ceritakan ke siapapun
udah ada di fase, kalo ga disukain orang gapapa, diomongin yaudah gapapa, dinilai buruk udalah biarin aja. karena emang kita tuh cuma orang biasa, kita ga harus menuhin ekspektasi mereka. jadi terserah mau gimana, atur aja. sekarang cuma pengen tenang, ga mau buang-buang energi. hidup udah capek jangan ditambah capek. fokus ke diri sendiri, banyakin aktivitas yang bermanfaat, banyak lakuin hal-hal positif, dan jadi manusia baik.
Enteng bener seorang Presiden ngomong 'Ndasmu' dilanjut 'Emang gue pikirin' di sebuah forum resmi dan mendapat tepuk tangan dari yg mendengar.
Pemimpin tanpa etika yg dipilih oleh orang orang yg tak punya etika dan nalar.
Di sebuah negeri dongeng yang punya raja zalim dan serakah, guru itu ga akan dibiarkan sejahtera, karena nanti jadi banyak anak yang bisa pintar. Kalau banyak yang pintar, nanti banyak yang bisa paham. Kalau sudah banyak yang paham, nanti bisa banyak yang bisa melawan.
Jadi daripada membuat rakyatnya bisa pintar, lebih aman kalau membuat mereka cukup sampai bisa makan. Yang penting tidak mati.
Sebagaimana makhluk yang hanya diberi makan setiap hari, maka hidupnya hanya tentang menunggu kapan akan makan lagi.