Ini nasihat bagus bgt:
Berhenti nyalahin diri sendiri atas keputusan yg kamu buat waktu dulu, pas masih kurang pengalaman.
Soalnya ada beberapa hal yg baru bisa dipahami setelah bener2 ngalamin.
Banggalah dgn apa yang udah kamu pelajari, bukan merasa malu kapan kamu belajar itu.
Melihat sesuatu dari sudut pandang yg berbeda sekarang sebenarnya hal yang bagus.
===
Apa pengalamanmu yg kadang bikin malu kalau dibahas?
DKI Jakarta butuh ±Rp253 M buat gratiskan sekolah swasta.
Kalau ditarik ke 38 provinsi di seluruh Indonesia angkanya sekitar Rp9,6 T.
Sementara satu program nasional bisa habis ±Rp1 T per hari, you know what i mean.
Artinya?
Secara hitungan kasar: cukup pause dulu 8–12 hari itu program, maka sudah bisa bantu pendidikan di seluruh Indonesia.
Dan gue yakin sih kalau program itu di stop dulu ga sampai 2 minggu, tapi bisa kasih pendidikan gratis ke seluruh provinsi, pasti rakyat setuju semua.
Tapi balik lagi, semua hanya tentang skala prioritas.
selalu amazed sih sm skills tim SAR/911 di seluruh dunia, it's not an easy thing buat nusuk infus di tempat yg sempit, kejepit, ga tenang but they did???? thanks for existing the world guys
Memilih pasangan yang rajin belajar bakalan mempengaruhi cara berpikir dan kemampuan otak kita loh.
Makanya kalo kerjaannya males belajar, lebih suka rebahan dan scroll tiktok, baru belajar dikit udah ngeluh, ya terima aja kamu ada resiko penurunan fungsi kognitif 😆
Jadi inget temen saya yang punya bisnis ngasih pendapat tentang kelemahan orang Indonesia dibanding orang Tiongkok dalam berbisnis. < kalau ada orang Tiongkok boleh konfirmasi/bantah ya. 🙏
Orang Indonesia itu FOMO dan bisa "saling bunuh". Musim Es Kepal Milo, semua bikin. Musim Mixue, semua invest. Bulan puasa, semua dagang gorengan dan es buah. Bahkan mereka gak peduli kalau di dekat tempat mereka ada bisnis serupa yang akhirnya menimbulkan persaingan ketat.
Nah, masalahnya bukan ikut tren, tapi eksekusinya yang tanpa diferensiasi dan tanpa perhitungan. Karena, katanya, banyak pelaku bisnis Tiongkok, dan ini jadi alasan bisnis di negara Cina maju pesat, justru bermain lebih strategis dan kolektif. Mereka paham bahwa sustain itu lebih penting daripada menang cepat. Contohnya: kalau si A punya toko ATK dan ada barang yang tidak tersedia, dia tidak ragu mengarahkan pembeli ke toko teman atau relasinya yang juga jual ATK. Meski sama-sama ATK, ada diferensiasi misal yang satu fokus di barang A, toko ATK lain di barang B. Secara jangka pendek mungkin dia kehilangan satu transaksi, tapi secara jangka panjang dia membangun trust dan ekosistem.
Contoh lain, di beberapa komunitas bisnis mereka, ada semacam pembagian peran. Misalnya satu fokus di supply, satu di distribusi, satu di retail. Mereka tidak semua lompat ke posisi yang sama hanya karena sedang “cuan”. Hasilnya, mereka tumbuh bersama, bukan saling menjatuhkan.
Btw, ini bukan berarti semua orang Indonesia seperti itu ya, atau semua orang Tiongkok pasti lebih baik. Tapi pola ini cukup sering terlihat: satu cenderung reaktif dan individual, satu lagi lebih terstruktur dan kolaboratif.
Tapi, bisa jadi pernyataan ini salah juga ya ges. Ini hanya mengaitkan dengan postingan di bawah terkait banyak Mixue yang tutup.
Dan juga karena saya lagi coba mulai wirausaha, jadi butuh pendapat dari yang lebih expert juga. 🙏
daripada nutup prodi prodi di kampus, mending nutup akpol. polisi udah kebanyakan, lagian lulusan polisi maaf banget kita udah banyak tau secara akademik gimana, saking banyaknya mereka juga punya kerjaan sambilan lain (ngelola dapur MBG misalnya).
Hey @Harvard,
One of your graduates (Stella Christie) is out here arguing against salary floors for lecturers, claiming “competition” and “quality-based pay” are essential for university progress and national scientific advancement.
Yet under the very same regime she serves, she fails to explain why MBG staff can earn far more than the lecturers who actually teach, research, and carry the university’s core academic mission.
For Harvard, having an alumna publicly defend this kind of selective and hypocritical logic is honestly embarrassing.
Thank you for your attention to this matter!
Kurang tau kalo di Indo karena ga pernah main dating app di Indo. Tapi pas single 2 bulan & aku lg tinggal di luar negeri, aku coba main. Jujur, wak. Orangnya oke-oke, kok.
Banyak yang karirnya udah bagus, ngobrolnya enak & v respectful. Buat nyari temen & koneksi juga oke 👍
Pinter-pinter nyaringnya aja lah -_- yg bionya gajelas, fotonya ga jelas, gayanya sengak ya ngapain -_-
Mau jaga rupiah? Mudah ada, langsung stop MBG. Ini jadi konservatisme fiskal yg memperkuat liquidity position negara, meminimalkan kebutuhan pembiayaan utang baru, dan jaga credit rating nasional untuk tetap prima di mata pasar global, jadiii nilai rupiah bisa lebih stabil.
Makin kesini makin ngerasa, semua kenaikan harga ini wajar, yang ga wajar itu pendapatan kita yang ga layak buat hidup.
Meromantisasi apa apa murah, sama aja melanggengkan gaji yang segitu segitu aja. Kok bisa bisanya harga barang ga beda jauh kaya diluar negeri, tapi gajinya cuma 1/10 dari disana 😭 man, we deserve better income!
Alasan gua pilih 03 kemaren:
1. Tau bakalan kalah, tapi gua tau moral compass gua bekerja dengan sangat baik.
2. Gua sempat ngomong ke temen-temen gua kayanya ga bakalan pilih 01 karena ada Amien Rais di situ.
3. Gua ga mungkin pilih penjahat HAM. Apalagi gua korbannya.