“nyanbung diajak diskusi”
Berapa banyak sih laki-laki yang nyambung diskusi soal ketimpangan gender? Soal prevalensi kekerasan di perempuan dan anak? Soal femisida?
Berapa banyak laki-laki yang mau denger soal pengalaman perempuan tanpa punya niat hati nimpal make ceramah?
Kalau harus take 2-3 jobs buat memenuhi kebutuhan sehari-hari itu artinya NEGARA GAGAL. Karena jaman dulu gaji dari 1 keran itu cukup buat BIAYA SEKELUARGA, anak kuliah + tabungan pensiun + liburan dll bisa terpenuhi 💀
Ada 1 slide yang menarik. Yang membuat si gubernur dikritik keras di forum itu.
Double agent.
Pejabat politik di Indo itu adalah pemain bisnis merangkap sebagai regulator.
Gubernur tapi juga pengusaha tambang. Gubernur tapi juga pengusaha sawit. Dan perusahaan ini tentunya bergantung pada izin pemerintah daerah (dan pusat).
Di negara-negara lain yg maju, ini jatuhnya conflict of interest. Ini aib banget dan pelanggaran etika berat disana. Bahkan di beberapa kasus, bisa dijatuhi pidana.
Keep these names in your notes, folks! IMHO, they're part of the reason this country keeps spiraling into chaos and why we ended up with such a tone-deaf, NPD and out-of-touch leader!
berharap apa? ke jurnalis istana aja cara ngomongnya si Teddy begini.
that’s why i said he’s THE WORST, kontributor utama yang bikin negara acak-acakan.
Cara paling mudah melihat militerisme di era Prabowo bukan dengan menghitung berapa jenderal yang masuk kabinet atau berapa batalyon baru yang dibentuk. Itu hanya permukaan institusional.
Yang lebih menyingkap adalah kemunculan kembali sosok seperti Hercules Rosario Marshall di ruang publik Jakarta pada malam 27 Agustus 2026.
Hercules bukan sekadar “preman Tanah Abang”. Ia adalah artefak hidup dari operasi militer Indonesia di Timor Timur tahun 1980-an.
Sebagai TBO Kopassus, ia menjadi bagian dari jaringan kekerasan informal yang dibangun militer untuk mengendalikan wilayah pendudukan.
Hubungan personalnya dengan Prabowo terbentuk di situ: hubungan hierarkis antara perwira dan anak buah lokal yang kemudian diangkat ke Jakarta.
Ketika Hercules mendirikan GRIB Jaya pada 2011 dan menempatkan Prabowo di dewan pembina, yang terjadi bukan sekadar aliansi politik elektoral. Itu adalah reproduksi jaringan kekerasan yang sudah ada sejak masa pendudukan.
Yang menarik dari insiden Agustus 2026 adalah bahasa yang dipakai sendiri oleh sekretaris jenderal GRIB Jaya: mereka bertindak sebagai “Pam Swakarsa”. Istilah Orde Baru itu tidak muncul secara tidak sengaja.
Pam Swakarsa adalah mekanisme negara untuk men-outsource kekerasan kepada kelompok sipil bersenjata agar negara tidak terlihat langsung menekan demonstran.
Ketika kelompok yang dipimpin figur dengan latar belakang TBO muncul di jalanan dengan palang kayu dan ikat kepala putih untuk membubarkan massa, yang kita saksikan adalah kelanjutan logika yang sama: negara tidak lagi memonopoli kekerasan secara formal, melainkan mengelola jaringan kekerasan informal yang loyal secara personal kepada figur penguasa.
Ini bukan militerisme dalam arti dwifungsi klasik.
Militerisme di sini lebih berupa paradigma: setiap persoalan politik dan sosial dibaca sebagai ancaman keamanan yang memerlukan pendekatan koersif, baik oleh TNI maupun oleh “masyarakat” yang sudah dimiliterisasi.
GRIB Jaya dan Hercules berfungsi sebagai proxy yang memungkinkan kekuasaan menggunakan kekerasan tanpa harus mengeluarkan perintah resmi.
Ini yang oleh sebagian pengamat disebut informal coercive networks, sebuah jaringan paksaan informal yang menjadi ciri rezim hibrida.
Sengketa lahan di Tanah Abang memperkuat pola yang sama. Ketika Menteri Ara datang menuntut pengembalian aset negara, Hercules tidak mundur. Ia menantang negara di depan kamera.
Ini menunjukkan bahwa jaringan informal tersebut tidak sepenuhnya subordinat; mereka memiliki otonomi relatif di tingkat lokal dan bernegosiasi dengan negara berdasarkan loyalitas personal, bukan semata-mata hukum.
Negara Prabowo, dengan segala retorika “rumah rakyat” dan program 3 juta rumah, tetap harus berhadapan dengan aktor yang menguasai ruang fisik melalui sejarah kekerasan, bukan melalui sertifikat.
Jadi, apakah militerisme ada di era Prabowo? Ya, tetapi bentuknya lebih canggih daripada sekadar tentara kembali ke politik.
Ia muncul sebagai perpaduan antara perluasan peran TNI ke ranah sipil (batalyon teritorial, program makan bergizi, produksi obat) dan pengaktifan kembali jaringan preman-milisi yang sudah terbentuk sejak masa pendudukan.
Hercules adalah indikator yang paling kasatmata karena ia membawa sejarah kekerasan kolonial internal Indonesia ke jantung ibu kota pada 2026.
Yang perlu dikhawatirkan bukan hanya “preman turun ke jalan”, melainkan normalisasi gagasan bahwa ketertiban publik adalah urusan kelompok-kelompok yang punya hubungan personal dengan penguasa, bukan semata-mata institusi negara yang terikat hukum.
Itu militerisme dalam bentuk yang paling berbahaya: yang sudah meresap ke dalam masyarakat sipil sendiri.
Wallahi, we're finished.
Never took this guy seriously sejak tau dia langganan Meltwater buat social listening + trend monitoring 😂
Si anying punya dashboard yang mantau semua orang yang mention nama dia, sekaligus ngasih tau trend terbaru yang bisa ditunggangi wkwkwk
Nih contohnya gue baru mention nama dia: KDM. Ini nanti langsung nongol di dashboard dia wkwk
Dashboard-nya bukannya dipake buat dengerin keluhan rakyat, malah dipake buat pansos jir
UJI COBA SUDAH SUKSES DI 2 SPECIMEN:😂🤣
1) Anak sekolah dan ibu hamil (MANUSIA)
2) Ikan di kolam ini (HEWAN)
UJI COBA LEBIH LANJUT KE YANG PUNYA PROGRAM😎😍
Jauh dilubuk hati ibu ini pasti sangat terpukul, demi konten kehormatan orang lain diremukan dimuka umum.
Bu, bermunajatlah disepertiga malam, adukan semua ini pada Alloh, biar Alloh saja yg membalasnya, karena ibu tak akan mampu menghadapi para pendukung fanatiknya 🙏
#intinyadeh ratusan siswa SMKN 6 Semarang keracunan menu MBG.
Ambulans dtg anter2in korban. Dari speaker sekolah diumumin “mohon tidak didokumentasikan”
Jumlah korban awalnya 690, bertambah jd 707 siswa.
Sejumlah siswa mendapati ayam masih mentah, ada ulat di olahan sayur.
Udah lihat beberapa posting dokter mengeluh beban kerja tambah berat karena iship diliburkan. Bukti nyata sistem yang berjalan ga sehat dan menjadikan dokter iship sebagai “pegawai” murah.
Demo mahasiswa dan buruh menghasilkan:
1) Jam kerja 8 jam sehari, lebih dari itu wajib dihitung lembur.
2) Ada upah minimum, UMR, buat buruh atau karyawan perusahaan.
3) UMR juga tiap tahun disesuaikan dengan inflasi dan kebutuhan hidup.
Mau kaya gaji pokok PNS yang gak berubah dari tiga puluh tahun lalu? Kaya tunjangan fungsional dosen yang nominalnya gak berubah dari 2007? Tuh kalau gak pernah demo, suka-suka mereka.
4) THR juga hasil demo tahun 1960an. Kita masih nikmatin sampai hari ini.
5) BPJS ketenagakerjaan.
6) Cuti tahunan minimum 12 hari.
7) Reformasi. Suharto turun.
Kalau nggak mungkin hari ini semua sosmed diblokir sama "Departemen Penerangan".
Mungkin semua berita di TV cuma datang dari "Berita Malam" sama "Dunia Dalam Berita" punya TVRI dan direlay semua TV swasta.
Pidato Presiden selalu live. Mau kalian dengerin "nyenyenye" live?
***
Semua itu kita nikmati hari ini.
Gitu banyak yang nyinyirin rakyat demo.
Macet paling berapa jam sih?