Berikut video analisa saya berjudul "Rakyat gaduh : Presiden Prabowo 1 dari 6 hari berada di luar negeri ? 5 saran saya". Semoga didengar Pemerintah. Silahkan dikomentari, dibahas, disebarkan, dikutip & boleh juga diliput media. Salam, Dr. Dino Patti Djalal
Berapa harga mobil yang kalian MAMPU beli berdasarkan gaji?
Ini patokannya (DP 20%, tenor 5 tahun, bunga ~9%):
- Gaji Rp 3,7 jt → mobil max Rp 200 jt
- Gaji Rp 5,6 jt → mobil max Rp 300 jt
- Gaji Rp 7,4 jt → mobil max Rp 400 jt
- Gaji Rp 9,3 jt → mobil max Rp 500 jt
- Gaji Rp 13 jt → mobil max Rp 700 jt
- Gaji Rp 18,6 jt → mobil max Rp 1 M
Rumusnya simpel, yaitu cicilan max 30% dari gaji nett.
Simpan tweet ini sebelum ke dealer.
Saya adl seorg dosen di AS. Kemarin pas ngurus cuti melahirkan sy bilang kpd dekan & presiden kampus ttg kekhawatiran sy soal slowing down performa akademik sy krn hamil & melahirkan. Mrk meresponnya dg:
THANKS PAK PRABOWO
semenjak indonesia dipimpin bapak banyak sekali rekor sejarah terpecahkan.
1. kurs usd/idr hampir rp 17.200. paling terpuruk dlm sejarah.
2. utang jatuh tempo di 2026 sebesar rp 833 t. tertinggi dalam sejarah.
3. defisit apbn paling lebar dalam sejarah. dan semua rekor ini terpecahkan
hanya dalam waktu 1.5th saja. keren, pak
Wacana penutupan program studi yang dianggap tidak relevan dengan industri ini memunculkan pertanyaan dan kekhawatiran.
Ada kebijakan yang tampak efisien dalam jangka pendek, tapi bila tidak hati-hati, justru membelokkan arah perjalanan bangsa dalam jangka panjang. Sambil menunggu informasi lengkapnya, izinkan berbagi tentang paradigma ilmu murni dan ilmu terapan ini.
Ilmu murni kerap dipandang jauh dari praktik. Seolah berdiri di menara gading, tidak menyentuh denyut kebutuhan industri. Padahal, di sanalah akar dari hampir seluruh inovasi yang kita gunakan hari ini berasal. Rumus-rumus yang tampak abstrak, teori-teori yang dulu dianggap “tidak berguna”, justru melahirkan teknologi yang kini kita anggap keniscayaan.
Kita menikmati internet, kecerdasan buatan, hingga kemajuan di bidang kesehatan, tapi tak selalu ingat bahwa fondasinya dibangun oleh para ilmuwan yang bekerja tanpa kepastian aplikasi. Mereka meneliti bukan berbasis permintaan pasar, tetapi karena keingintahuan memahami bagaimana dunia bekerja.
Kita perlu ingat bahwa relevansi tidak selalu bisa diukur dalam horizon waktu yang pendek. Apa yang hari ini tampak tidak terkait industri, bisa jadi esok hari menjadi tulang punggungnya.
Negara yang hanya menyiapkan tenaga siap pakai, tanpa melahirkan pemikir-pemikir dasar, berisiko terjebak sebagai pengguna belaka. Kita menjadi pasar, bukan pencipta. Kita mengimpor solusi, alih-alih menghasilkan jawaban dari dalam negeri dan membaginya kepada dunia.
Lebih jauh lagi, kebijakan publik yang kuat juga lahir dari pemahaman dasar yang kokoh. Mulai dari ilmu epidemiologi (berbasis matematika dan biologi dasar) yang berjasa besar saat pandemi, lalu ilmu lingkungan (ekologi dan geofisika) dalam menghadapi bencana perubahan iklim, hingga ekonomi teoretis dalam merancang kebijakan fiskal. Semua itu berakar pada ilmu-ilmu yang sering dianggap “tidak praktis”.
Menutup atau melemahkan ilmu murni berarti mengurangi kemampuan kita untuk memahami dunia secara mendalam. Tanpa pemahaman itu, keputusan kita mudah terjebak jadi dangkal.
Tentu, keterhubungan dengan industri itu penting. Bila suka apel bukan berarti benci jeruk. ;)
Perguruan tinggi jelas tidak boleh terlepas dari kebutuhan zaman. Namun, menjawab tantangan itu tidak harus dengan menutup ilmu murni. Yang diperlukan adalah menjembatani, bukan menggantikan. Menguatkan ekosistem, bukan menyederhanakan secara berlebihan.
Pada akhirnya, pendidikan tinggi bukanlah soal mencetak pekerja bagi industri, tetapi tentang menyiapkan masa depan dan membangun peradaban bangsa.
Masa depan itu tidak pernah dibangun hanya dari apa yang terlihat berguna hari ini, pun membangun peradaban tak boleh direduksi jadi sekadar membangun industri.
Maka, barangkali yang perlu kita jaga adalah keseimbangan. Antara yang langsung terpakai dan yang menjadi fondasi. Antara keterampilan dan pemikiran. Antara kebutuhan hari ini dan visi hari esok.
Dengan menjaga keseimbangan itulah, kita dapat berdiri tegak sebagai bangsa yang tak hanya mengikuti kemajuan dunia, tetapi juga menciptakannya.
Rundown 1 Syawal 1447 Hijriah. Day 1.
01.00 Ga bisa tidur
04.30 Bangun, Subuhan
05.00 Dimarahin karena tidur lagi
05.10 Mandi,
05.30 Masih mandi, diteriakin jangan kelamaan mandi.
05.45 Selesai Mandi. Dimarahin ibu/sodara kelamaan mandi. Mulai Pilek.
06.00 Selesai dandan, disuruh buru buru berangkat atau disuruh ngunci rumah. Pilek
06.10 mau berangkat kebelet berak
06.20 Selesai Berak, Jalan ke Lapangan
06.30 Tiba di Lapangan. Takbiran. Mepet Jam solat
06.35 Screening lokasi solat.
07.00 Selesai Solat, Beberes
08.00 Salaman, makan Opor
08.30 Mulai nerima tamu
11.00 Bosen. Tamu udh jarang dateng. Mulai ganti kostum
12.00 Ketiduran di tiker. Pipi dan sebagian tangan ngejiplak pola tiker plastik.
13.30 Dibangunin sodara ngajak nyari bakso
🇪🇸 Spainish PM on Gaza —
“Ladies and gentlemen, repeat after me, what is happening in Gaza is a genocide”
🇪🇸 Spain to Trump when asked to use their bases to attack Iran —
“Go Fück Yourself” 🔥
Spain teaching the world how to stand for Humanity. Viva España 🫡