Lantas satu tangan diangkat tinggi-tinggi. “Karena ramalan masa depan pada akhirnya berakhir menjadi sesuatu yang mendikte seseorang. Aku kurang suka, professor.” 。◕‿◕。
“Siapa di sini yang tidak percaya pada ramalan? Bisa ceritakan pada kita apa alasannya? Tidak ada jawaban benar atau salah; saya hanya ingin mengetahui alasan kalian tidak percaya dengan ramalan.” [ Silahkan QRT mengangkat tangan jika karakter kalian tidak percaya akan ramalan.
“Tapi, bagaimana kalau sosok matahari tiba-tiba tertutup oleh benda langit lain?” Pertanyaan melontar dari mulut. “Ada yang bisa beritahu aku sedikit tentang fenomena 𝘨𝘦𝘳𝘩𝘢𝘯𝘢 𝘮𝘢𝘵𝘢𝘩𝘢𝘳𝘪?”
(Jawab dengan QRT.)
“Matahari, adalah, padatan gas yang sangat panas di angkasa. Saking panasnya, ia jadi bersinar sangat silau. Selain itu, matahari adalah pusat dari tata surya.” (◔‿◔)
Postur sang Profesor bergeming. “Sebelum kita masuk lebih jauh, aku mau dengar jawaban kalian. Pasti sudah belajar, kan? Kalau tidak, aku marahi si Rinne.”
“Menurut sepengetahuan kalian, apa itu 𝘔𝘢𝘵𝘢𝘩𝘢𝘳𝘪?”
(Jawab dengan QRT.)
Setelah makan, saatnya kembali fokus.
Langit tampak bersih tanpa awan. Udara di Menara Astronomi terasa hangat dan pendar keemasan matahari mendekap raga dalam diam.
Ia mengawali dengan tanya. “Kalian lebih suka matahari pagi, siang atau sore?”
(Jawab dengan QRT.)
@ravishold “Hah? WAAAAAHHHHH.” Merengek kian kencang saat mendengar apa yang telah disiapkan Azarias. “Aku! Akan Bicara! Pada! Kepala! Asramamu! Sekarang! Juga!”
really held back on giving out compliments. I wonder who took his freedom away from him?” Both of her hands are being reached and cradled in his own. He holds them gently, as if they might break at any time. “I hope you won't bear all of your sorrow alone too, because it'd
feels like we're in sync! Like our souls are holding hands!” He clasps his hands as a better idea abruptly blooms inside his nearly empty head. “No. It's like we're one! Isn't that awesome?!” With this, Vincent nudges back her arm. Pushing the epiphany slightly into her head.