Calmdown!
soal hanta virus, emang di Indonesia sudah ada kok, makanya dinkes sudah edukasi sejak 2025
Virus hanta yg di Indonesia ini berbeda vdengan yg virus hanta varian andes.
Varian andes ini smpt jebluk di argentina di 2025, tapi mreka bisa atasi dengan baik.
What if, kita ada di posisi:
Tunanetra
Jalan sendiri di trotoar.. tapi jalurnya putus, ketutup, rusak, bahkan nggak tersedia 😿
Mikir ini kasihan? Stop itu salah.
Jelas banget padahal kalau sistem nya belum inklusif, fasilitas yang layak aja baru ada di kota-kota besar.
Tidak semua kalangan, termasuk feminis, mendukung solusi pemisahan gerbong kereta.
Salah satu kritikus paling vokal adalah Laura Bates, aktivis Inggris pendiri Everyday Sexism Project. Bates berpendapat bahwa gerbong khusus hanya solusi “tambal sulam” yang justru berbahaya karena:
- Memberi kesan bahwa pelecehan adalah “masalah perempuan” sehingga perempuan harus melindungi diri sendiri.
- Mengalihkan fokus dari akar masalah: budaya patriarki, normalisasi pelecehan, & lemahnya penegakan hukum terhadap pelaku.
- Tidak mengubah perilaku laki2 yang menjadi pelaku kekerasan seksual.
Menurut Bates, solusi sejati harus berupa perubahan budaya sistemik: pendidikan sejak dini, penegakan hukum yang tegas, & membangun lingkungan transportasi yang aman untuk semua orang tanpa perlu pemisahan.
Kritik & kendala:
perjuangan panjang selama 22 tahun.. hari ini, PRT sah mendapatkan payung hukumnya. kemenangan untuk para perempuan pekerja rumah tangga dan masyarakat sipil! ✊🏻🩷
mari kawal terus agar UU PPRT dapat diimplementasikan dgn baik sehingga tidak ada lagi praktik-praktik eksploitasi!
Sobat Girl Up, kalian sadar nggak sih… kadang untuk bisa dipercaya, seorang korban itu seperti harus “memenuhi standar” tertentu dulu?
Sejak kapan validitas penderitaan seseorang ditentukan dari seberapa “sempurna” mereka di mata kita?
Aku melihat ada beberapa orang yang mempertanyakan
"Kenapa sih giliran kasus KS dilakukan laki-laki kok gercep banget dihakiminya, sedangkan kalo pelaku perempuan kok cenderung didiamkan?"
Jadi begini, guys.
Sebenernya ini bukan soal kita boleh permisif ke satu gender.
...Gw ikuti secara hati²+teliti kasus kekerasan seksual yg terjadi di FH UI.
Ternyata "cuma" chat² pelecehan secara verbal digital di grup WA tanpa terjadi secara fisik di dunia nyata.
Agak aneh kalo itu disebut sbg kekerasan seksual padahal yg tepat:
kenakalan seksual minor
Hanya saja kenakalan minor secara verbal tsb bukan dilakukan oleh para remaja melainkan oleh para mahasiswa yg telah berusia 20 tahun.
Maka secara usia, kenakalan minor tsb bisa dibawa ke ranah litigasi (hukum formal).
Tapi apakah fair kenakalan minor seperti itu sampai harus dipermalukan terbuka seperti itu oleh UI?
Sementara kenakalan mayor seperti skandal disertasi Bahlil tidak dilakukan investigasi secara terbuka?
Dalam hal ini UI melakukan standar ganda.
Karena jika profesor² yg meloloskan disertasi Bahlil tidak dipermalukan secara terbuka maka 16 mahasiswa tsb pun tidak berhak dipermalukan seperti itu.
Karena yang dilakukan Bahlil dalam konteks akademik merupakan pemerkosaan intelektual.
Pemerkosa tidak dipermalukan, yang nakal² minor malah dipermalukan.
Pret... (``,)
Gini loh, Bang Ali. Udah gede, gak perlu belain himpunan segininya.
Kalau dituduh enabler KS, refleksi. “Kenapa ya tuduhan itu bisa datang?”
Ya kenapa pada diam aja pas ada kultur himpunan yang kaya gitu. Itu loh maksudnya “enabler”.
Oke sekarang mindset udh berubah. Tapi kenapa malah bashing input publik bahwa kultur ini harus diubah?
Emg udah jadi lived experience massa kampus jg banyak pengalaman buruk sama himpunan ente, di catcalling lah kalau lewat, harus dengerin lagu cabul lah di ruang publik. Wajar kalau banyak yang triggered pas lagu jelek kaya Erika ini naik ke publik.
Justru kalau lo punya ownership segininya, lo alumni himpunan itu, ngomong lah ke adik-adik lo. Kasih input dengan mindset lo yang katanya udah berubah. Sono evaluasi bareng-bareng. Jgn malah lempar bolanya ke orang.
Ngapain berantem sama netizen dan belain kultur jelek 😂
Kawan-kawan, ini ada revisi. Silakan mendaftar/merekomendasikan ya.
Awalnya mau bikin diskusi kelompok, tapi jadi kelas tematik dengan isu terbatas. Semoga usaha kecil ini bisa jadi ruang aman, belajar dan tumbuh bersama.
📢 BEASISWA KELAS FEMINISME PEMULA #1 (Online) — GRATIS!
Ada. Banyak.
- kultur pernikahan anak;
- kultur menikahkan pemerkosa dengan korbannya;
- kultur mempertanyakan pakaian, alasan keluar malam, & keberadaan korban di TPK ke korban KS;
- kultur menuntut korban punya kapasitas memaafkan pelaku;
- kultur objektifikasi;
dst.
Contoh real case yang sering kejadian, ini agak menggelikan sih ya:
“Oppa (X-ssi) buka baju dong!” / “Take your shirt off!” di konser --> ini banyak banget kejadian dan orang normalisasi.
Ini sering dianggap bercanda/fanservice,tapi secara konsep:
Yes, ini termasuk sexualizing. 😭😭😭
Kenawhy?
Ada ekspektasi atau tekanan ke idol untuk menunjukkan tubuhnya. Fokusnya ke fisik/sexual appeal, bukan performance (dia ini penyanyi ya/performer). Kalau dibalik (misalnya ke perempuan), orang biasanya lebih cepat sadar itu gak nyaman dan trmasuk melecehkan.
Kenapa ini penting dibahas?
Banyak fans mikir:
Ah ini kan cuma bercanda / fandom culture.
Padahal kalau terus dinormalisasi:
>Bisa bikin batasan jadi kabur
>Mendorong perilaku yang makin ekstrem (sasaeng misalnya)
>Dan tetap masuk ke konsep objectification theory (melihat seseorang sebagai objek, bukan manusia utuh).
😭😭😭😭😭
mulai skrg, jgn dibiasain dan dinormalisasi konsumsi bacaan/tontonan porno, catcalling catcalling atau jokes berbau seksual even di tongkrongan sendiri.
baik cewek atau cowok.
jijik. ga beradab. ga menjaga kehormatan manusia. tegur aja klo temen kelen ada yg begitu. tuman.