Begitulah, pelanduk tetap mati di tengah2. Ini bukan infotainment, di mana kita bisa nonton dan tepuk tangan. Bukan. Ini politik culas dan kita cuma dikasih hiburan sesaat padahal kita makin jauh terpuruk karena yang hancur adalah bangunan negara hukum.
Fasisme bisa dibangun melalui prosedur demokrasi seperti yang dilakukan oleh Hitler di Jerman. Demikian tulisan Sukidi di TEMPO hari ini. Tulisan yang mengingatkan dan mencerahkan untuk merawat demokrasi di Indonesia.
Terima kasih kepada @hariankompas yang telah menganugerahkan kepada saya Cendekiawan Berdedikasi 2026.
Menerima penghargaan ini, saya teringat pada sebuah paradoks. Penghargaan, bagi banyak orang, adalah tanda bahwa kita telah sampai pada jawaban. Namun, ironisnya, jawaban justru lahir dari ketidaktahuan. Dari ruang kosong yang membuat kita gelisah, dari pertanyaan-pertanyaan yang tak pernah benar-benar selesai.
Kita memasuki sebuah era ketika jawaban kian kehilangan keistimewaannya. Jawaban, seiring waktu, akan usang, dimakan zaman. AI akan menyediakannya lebih cepat dan lebih akurat daripada kita. Tapi pertanyaan, itu lain cerita. Pertanyaan lahir dari intuisi, dari kegelisahan, dari kemampuan menghubungkan titik-titik yang terpencar. Ia menuntut imajinasi dan keberanian untuk berkata: saya tidak tahu.
Mungkin di situlah letak manusia: bukan pada jawaban yang bisa digantikan mesin, melainkan pada pertanyaan yang tak bisa dirumuskan algoritma. Karena pengetahuan tumbuh bukan dari jawaban, tapi dari keberanian untuk bertanya. Maka, bagi saya, penghargaan ini adalah penghormatan kepada keberanian untuk ketidaktahuan.
Akhirnya, penghargaan ini bukanlah akhir sebuah perjalanan. Ia hanyalah tanda kecil di jalan panjang, yang mengingatkan saya: jawaban sejati bukan ditemukan di tujuan, melainkan lahir dari dari rasa keingintahuan yang tak pernah padam. Dan penghargaan ini menjaga agar api itu tak padam. Terima kasih Harian Kompas.
Terima kasih @danaiswara yang sudah mewakili.
Happy Father’s Day ❤️
Kuma and Bonney's Nika Dance is a reminder that a love between a father and his child can carry through anything.
(via ONE PIECE)