Tak selalu diam itu bisu, barangkali dia sedang mengobrol dengan pikirannya. Sebab, bicara pun kadang tiada didengar, apalagi dimengerti.
Pada akhirnya, diam adalah cara mengekspresikan diri saat hati ingin berkata dan tiada seorang pun yang mampu memahaminya.
Tidak ingin kehilangan kesekian kali. Sebab, semua baru akan terasa setelah pergi. Termasuk sebuah pertemuan dan perkenalan ini. Maka, mulai sekarang harus belajar menghargai yang datang dan memahami yang mencintai. Alhasil, semoga hal-hal baik selalu menyertai.
Hai, kamu. Kenapa belum tidur?
Sudah malam, ayo pergi tidur.
Besok lagi, jangan terburu-buru.
Yang tenang, namun pasti.
Allah tahu usaha dan perjuanganmu.
Jadi, iringi semua dengan doa.
Agar yang susah, dimudahkan.
Dan yang berat, diringankan.
Tetap semangat, jaga kesehatan :)
Kalau ada, biasa saja.
Tapi, selepas pergi terasa ada yang hilang.
Jadi, jaga baik-baik ya selagi ada; jangan sampai pergi.
Karena bisa saja bilangnya pamit; tapi, tidak untuk kembali lagi.
Lekas sembuh untuk sakit yang menimpa.
Lekas membaik untuk hati yang tergores.
Lekas tumbuh untuk asa yang pernah mati.
Dan selamat berbahagia untukmu. Semangat terus ya, jangan tumbang.
Masih banyak mimpi yang harus digapai.
Ingat, ada orang tua yang mengharapkan kesuksesanmu.
Kalau lelah, istirahatlah sejenak.
Jangan terlalu memaksakan kehendak.
Pejamkan matamu dan lantunkan dalam sajak.
Aku yakin, lelahmu akan berteriak.
Selepas itu, pergilah beranjak.
Kembalilah menapak.
Buatlah ukiran jejak.
Ingatlah, masih banyak langkah yang harus kau pijak.
Suka bingung sama perasaan sendiri. Ada yang mengharapkan, tapi suka mengejar yang diharapkan; padahal yang diharapkan belum pasti mengharapkan.
Sebenarnya intinya satu; belajar memahami diri sendiri dan orang lain saat berada di posisi itu. Selebihnya, biarkan hati yang berkata.
Dari buku kita belajar memahami satu sama lain. Meski berbeda sampul dan isi, namun pada dasarnya kita tetaplah sama; lembaran-lembaran tertulis yang disatukan.