@yappingfess Gender dibalik, dan kamu akan melihat:
1. Freak
2. Creepy
3. Stalker
4. Pelecehan
5. Obsessed
6. Kriminal
7. Merindinggg
8. Takut
9. No safe place for women!
cowok ngedeketin cewek tuh emang pengen dijadiin pasangan, jadi kalau cowok udah nembak dan ditolak plis banget buat para cewek jangan mengharapkan jadi temen biasa aja. cowok kalau mau nyari temen ga susah, ngobrol sama tukang ketoprak pas lagi beli juga bisa langsung jadi bestie.
Tolong sebagai temen, kalau mau curhat soal pacarmu, curhat jangan cuma pas berantem atau pas kamu lagi sedih.
You might forgive your partner because you know all the sweet things they did for you, tapi kalau kita sebagai temen cuma denger bagian penderitaannya aja.. ya susah.
I want to be rich. But not Lamborghini
or Rolex rich, I want to be rich enough to go to the gym at 3pm and nobody can tell me no. To tap the family in front of me at the supermarket and say, "It's on me," Rich enough that my future wife never has to worry about getting a job. Rich enough to show my children the world, not pictures of it. Rich enough to take my friends to dinner and say, "| got this", Rich enough that God uses me to help the people who are in need. That's my version of rich.
Ketika laki-laki melecehkan perempuan secara verbal, akan dilihat sebagai bentuk kekerasan berbasis gender (power imbalance), ancaman, atau objektifikasi tubuh. Ini akan langsung mendapat perhatian besar dari aktivis, media, dan lembaga seperti Komnas Perempuan.
Sebaliknya, ketika perempuan melakukan hal serupa ke laki-laki (misalnya komentar vulgar tentang tubuh, rayuan paksa, atau lelucon seksual), masyarakat cenderung menganggapnya ringan, "basa-basi", atau bahkan "laki-laki harus kuat". Ini adalah contoh double standard yang masih kuat di banyak budaya, termasuk Indonesia.
Laporan dari laki-laki akan lebih jarang diproses serius oleh polisi/masyarakat, meski hukum memungkinkan. Korban laki-laki malah akan diremehkan atau ditertawakan.
Laki-laki diajarkan sejak kecil untuk "kuat", "tidak cengeng", dan "menanggung sendiri" (konsep masculine gender role stress atau discrepancy stress).
Ketika mengalami pelecehan verbal dari perempuan, banyak laki-laki merasa malu atau "tidak maskulin" jika melapor. Mengakui diri sebagai korban dianggap sebagai kelemahan yang mengancam identitas diri.
Stereotip di masyarakat memiliki kecenderungan bahwa perempuan dianggap lebih pasif, emosional, atau "lemah" sehingga pelecehan verbal dari mereka dianggap "hanya kata-kata" atau "reaksi defensif", bukan kekerasan serius.
Sementara laki-laki dianggap lebih kuat secara fisik dan emosional, pelecehan terhadap mereka dianggap "tidak mungkin menyakiti" atau bahkan "layak" jika ada alasan (misalnya, dianggap "salah sendiri").
Di dunia secara umum, norma patriarki masih kuat, tapi justru memperkuat paradoks ini. Laki-laki diharapkan dominan, sehingga menjadi korban pelecehan verbal dianggap "memalukan" dan jarang diangkat sebagai isu serius.
Persepsi masyarakat terhadap kekerasan terhadap laki-laki masih dipengaruhi stereotip maskulinitas, sehingga korban enggan bicara karena takut kehilangan citra diri atau dianggap "bukan laki-laki sejati".
Ini juga menunjukan bahwa konsep laki-laki dan perempuan setara mesti dilihat dari berbagai bidang. Di mata hukum, ekonomi, dan HAM sudah. Tapi di bidang sosial dan norma masih harus dilihat kembali.
@tanyarlfes Tolong lah siapapun itu klo emg blm siap pacaran ga usa macarin anak orang napa si anj. Kasian tau pacaran sm org yg gasiap pacaran tuh. Sibuk okelah, semua org punya kesibukan. Tapi apa si susahnya ngabarin dan komunikasi scr jelas gmn kondisi dan keadaan lu hari ini?