@kikysaputrii Sementara nyatanya hak hak disabilitas banyak yang belum terpenuhi dan tindakan ableisme masih sering terjadi, bahkan belum lama pelakunya adalah pejabat di Hari Disabilitas Sedunia
Tapi mungkin dalam konteks Indonesia secara general kita mengenal kata ‘Kak’ sebagai panggilan untuk orang yang lebih tua apapun itu gendernya. Jadi panggilan Kak untuk perempuan versi daerah bisa berlaku versi bahasa Indonesia juga berlaku
@Internvest 5/5 — dan pekerjaan lainnya yang serupa pekerjaan domestik karena dianggap pekerjaan tersebut tidak sesuai kodrat perempuan. Itu sebabnya alasan perempuan justru lebih banyak ditempatkan di bidang pekerjaan “nursing”
@Internvest 4/ — salah satunya di industri engineering.
Seperti juga yang disebutkan di reply di atas, perempuan yang tertarik dengan bidang teknik justru ditempatkan dalam posisi yang tidak strategis seperti administrasi, kerja-kerja pengayoman—
@Internvest 3/ 3) Karena keterwakilan perempuan minim di bidang tersebut menyebabkan perempuan kekurangan mentor, 4) perempuan dianggap terlalu banyak mengambil cuti karena kondisi biologisnya, 5) perempuan rentan mengalami pelecehan seksual—
@Internvest 2/ Antara lain adalah: 1) perempuan masih terjebak dalam ekspektasi gender yang membuat diharapkan lebih empati dan lebih mengayomi, 2) perempuan distereotipe lemah atau tidak mampu mengikuti alur kerja bidang sejenis engineering yang semuanya serba cepat
@Internvest 1/ Ada penyebab perempuan-perempuan di AS misalnya (apabila merujuk ke negara “Barat”), memilih pekerjaan di bidang atau yang berkaitan dengan “nursing”
@Internvest 5/5 — dan pekerjaan lainnya yang serupa pekerjaan domestik karena dianggap pekerjaan tersebut tidak sesuai kodrat perempuan. Itu sebabnya alasan perempuan justru lebih banyak ditempatkan di bidang pekerjaan “nursing”
@Internvest 4/ — salah satunya di industri engineering.
Seperti juga yang disebutkan di reply di atas, perempuan yang tertarik dengan bidang teknik justru ditempatkan dalam posisi yang tidak strategis seperti administrasi, kerja-kerja pengayoman—
Contoh cowok patriarkis yang ‘baik’ dan nggak KDRT:
- nggak setuju prosedur aborsi aman
- nggak bisa terima kalau anaknya terlahir queer
- melarang istrinya melakukan sesuatu yang dirasa bukan ‘perempuan’ seperti merokok, sementara si suami lanjut merokok
Settle for the less = settle cowo kdrt?
Atau semua cowo “patriarki” itu pasti kdrt? 🤭
Susah sih debat sama kaum yg suka playing victim, gaslighting dan kesulitan dalam mendefenisikan arti kata “wanita” 🤭
Poinnya: laki-laki tidak melakukan kekerasan dalam bentuk fisik, tapi jelas ada hal-hal yang mereka kontrol dari perempuan dan mereka tidak bisa terima kalau sampai ada sesuatu hal—