ㅤㅤ
... baru menyadari bahwa jumlah mereka jauh lebih banyak daripada yang diperkirakan. Lima Petugas Juvenil sudah mengepung ruangan. Belum sempat ia mencari celah, salah seorang dari mereka berhasil menangkap pergelangan tangannya.
ㅤㅤ
@antemotrem ㅤㅤ
Mona mendengus. Ia segera bangkit dan merapikan jaketnya, lalu menarik ritsleting hingga menutup bagian depannya sampai ke atas. “Sampai ketemu di luar Makam.”
ㅤㅤ
@antemotrem ㅤㅤ
Setidaknya tiga Petugas Juvenil terdengar berbicara di luar ruang masak. Mona perlahan mengangkat kepalanya. Otot-otot wajahnya menegang sebelum ia menoleh kepada Tarka, yang tanpa sadar menggigit bibir bawahnya.
ㅤㅤ
@antemotrem ㅤㅤ
Mona menekuk kedua lututnya hingga menempel ke dada, lalu menyandarkan dahi di atasnya sambil memeluk tubuh sendiri. Ia hanya menjawab dengan gumaman kecil.
ㅤㅤ
@antemotrem ㅤㅤ
Mona mendengus pelan. Ia menginginkan jawaban yang lebih jelas—sebuah rencana, atau setidaknya kebohongan kecil yang bisa membuatnya percaya bahwa mereka akan baik-baik saja. Namun mereka berdua tahu kenyataannya. Kali ini, mereka benar-benar terpojok.
ㅤㅤ
ㅤㅤ
Setelah berkeliling memastikan tak ada yang tertinggal, ia akhirnya duduk di lantai di samping Tarka.
“Habis ini apa?” tanyanya, nada suaranya terdengar putus asa.
ㅤㅤ
@antemotrem ㅤㅤ
Asap hitam mengepul dari salah satu kompor. Masakan di atasnya sudah gosong hingga nyaris menjadi arang. Mona segera mematikan satu per satu api yang masih menyala sebelum nyalanya membesar dan mengubah tempat persembunyian mereka menjadi tungku api.
ㅤㅤ
@antemotrem ㅤㅤ
Di ujung area dapur, Mona sudah lebih dahulu sampai di depan ruang masak. Ia membuka pintunya sedikit untuk mengintip ke luar sambil menunggu Tarka. Begitu sosok Tarka muncul di ujung jalan, Mona segera membuka pintu lebih lebar.
ㅤㅤ
ㅤㅤ
... dengan kedatangan Petugas Juvenil. Bagaimanapun, dibawa ke Kamp Tuai mungkin terdengar lebih baik bagi seorang Penabur daripada terus bersembunyi di Makam bersama anak-anak yang tak pernah benar-benar menerimanya.
Akhirnya ia memaksa diri untuk terus mengekor Tarka.
ㅤ
@antemotrem ㅤㅤ
Dada Mona ngilu mendengar jawaban itu, meskipun ia tahu Tarka benar. Di tengah kekacauan seperti ini, mereka belum tentu bisa menemukan Lais sebelum salah satu dari mereka sendiri tertangkap.
Mona mencoba meyakinkan dirinya bahwa Lais mungkin justru akan senang ...
ㅤㅤ
ㅤㅤ
Anak itu tak menghiraukannya. Ia malah berbelok, mencoba menyelip di antara bangunan, sebelum sebuah pistol kejut diarahkan kepadanya. Sengatan listrik menyambar tubuhnya, dan ia langsung ambruk.
ㅤㅤ
@antemotrem ㅤㅤ
Begitu Mona mengangguk, mereka segera keluar dari perpustakaan. Baru beberapa langkah, seorang LIAR berlari melewati mereka dengan wajah pucat, nyaris menabrak Mona. Di belakangnya, dua Petugas Juvenil mengejar sambil meneriakkan perintah agar ia berhenti.
ㅤㅤ
ㅤㅤ
Ia terlalu penakut untuk berbaur dengan LIAR lainnya, apalagi setelah tahu bahwa sebagai Penabur, keberadaannya tidak benar-benar diterima di Makam.
Mona akhirnya sungguh-sungguh menatap Tarka. Tubuhnya bahkan tanpa sadar ikut mencondong ke depan. “Kita cari?”
ㅤㅤ
@antemotrem ㅤㅤ
Oke. Itu aneh.
Kalau batang hidung Lais tak terlihat sejak pagi sampai sore, mungkin masih bisa dimaklumi. Tapi kalau malam tiba dan anak itu belum juga muncul, ada sesuatu yang terasa tidak beres. Lais selalu menghampiri Tarka saat makan malam.
ㅤㅤ
ㅤㅤ
... belum sampai ke telinga Tarka. Lagipula, sampai sekarang tidak ada keributan apa pun.
“Entahlah. Mungkin memang bukan urusan kita. Toh mereka semua sudah berusia di atas delapan belas tahun. Mereka aman di luar sana.”
���ㅤ
@antemotrem ㅤㅤ
Sejenak Mona tampak berpikir. Meski begitu, ia belum terlalu tertarik dengan pembicaraan tersebut. Menurutnya, keterlambatan mereka masih bisa dimaklumi. Mungkin ada kendala di luar sana yang sudah mereka laporkan kepada Kapten Makam, hanya saja informasi itu ...
ㅤㅤ