This morning, after Nadiem was sentenced to 10 years in jail, it’s clear that Google needs to take a strong official stand.
The Indonesian judges sullied Google’s name, claiming without evidence the U.S. giant engaged in bribery to win a Chromebook laptop contract.
In this fiction, Google invested in Nadiem’s company, GoJek. In return, Nadiem, who left GoJek to become Education Minister, ordered the purchase of Chromebooks.
Prosecutors failed to put any evidence forward to back this defamatory allegation. Yet Nadiem got 10 years. Why? Because he tried to reform a corrupt ministry and made a lot of enemies.
How can Google remain silent in the face of these baseless allegations. Just because a judge said it, doesn’t make it any less defamatory.
I would expect Sapna Chadha and other senior Google leaders in the region to show the backbone to speak up now. Nadiem was Google’s trusted partner for years. They invested in his company. Will they remain quiet just to protect their business in Indonesia. Where are they in his time of need?
You guys should be careful about FAKE vitamins on Shopee❌
Sebenernya udah banyak yang bahas dari tahun2 lalu, sayangnya masih dijual+review palsu padahal isinya cuma gummy gelatin & minyak ikan😢
Mending cari brand2 yang udah familiar atau lokal aja misal IPI
Yup Kami selalu “diminta”menghormati perbedaan demi kenyamanan bersama.
Pesan mereka selalu terngiang:
“Ingat merayakan kegiatan keagamaan harus di tempat ibadah ya, bukan di gedung, rumah apalagi di jalan raya.”
Emang cuma lu doang.
Indy Barends udah menter jd penyiar radio ibu kota since 90’an.
Penyiar TV sejak 2000, bawain acara talkshow siang fenomenal CERIWIS Trans TV, pemenang 5 atau 6 Panasonic Gobel Awards jauh sebelum ada era sosmed.
Kalo bodoh dan kudet jangan ngajak-ngajak.
Tidak minta maaf atas:
1. Arogansinya mengatakan "Semua urusan di republik ini, saya tinggal pegang palu, selesai".
2. Menghardik orang yang menyampaikan aspirasi secara terbuka dan sopan dengan tuduhan arogan dan argumen "kalau tidak belajar pemerintahan tidak boleh komentar"
From last season….
‘Bernardo Silva was initially deemed to be in an offside position close to goalkeeper Jose Sa, but referee Chris Kavanagh overturned the decision after taking to the monitor.’
Same referee as today
https://t.co/foAwEtIO5Y
Dari pengalaman kerjaku saat ini di perusahaan US, compliance buat perusahaan yg pakai AI untuk proses data itu jauh lebih ribet daripada proses data tanpa AI. Harus ada consent pemilik data, opt-out option, jaminan keamanan data, dsb.
Tapi di Indonesia, kenapa gampang banget ambil foto wajah orang lain tanpa consent?
Diproses AI pula dan tanpa garansi privasi!
UU PDP ada, tapi enforcement-nya mana?
Kalo kita mau data kita dihapus dari mereka gimana caranya?
Kalo data kita bocor ke pihak lain, hukuman untuk mereka apa dan kompensasi ke pemilik data seperti apa?
Kalopun akan dikasih opsi opt-out sekalipun, kalo udah terkait data biometrik kayak wajah sih harusnya tetep butuh consent si subjek nya dulu ya.
Bukan malah kebalik, mereka main foto aja wajah orang, terus jadi orang lain itu yg harus repot minta data dihapus dari mereka.
Komdigi tuh harusnya ngurus kasus-kasus kayak gini, bukannya malah ribet ngeblok fitur live tiktok pas massa demo kemarin.
Cape bgt pagi-pagi ngerant, tapi hopeless banget dah ini negara.
Masa hal kayak gini aja harus dikasih tau rakyatnya dulu?
Sekolah swasta ambruk karena kelalaian, malah direnovasi gratis pakai uang negara.
Sementara sekolah negeri yang memang milik negara dibiarkan muridnya belajar di teras, tanpa kepastian kalau hujan datang.
Ironinya di sini yang salah ditolong, yang berhak malah ditinggalkan.
Negeri ini memang pandai berempati, tapi sering lupa kepada siapa empati itu semestinya diberikan.
Puluhan anak ponpes tertimpa bangunan - bukan karena gempa..
Ribuan anak keracunan makanan - bukan karena disaster..
Entah berapa orang kena radioaktif - bukan karena bencana PLTN..
Semua karena kesalahan kesengajaan sendiri, tidak peduli K3 dan science.
Lalu dengan gampangnya disuruh ikhlas? Ini sih sudah masuk pembunuhan..
@AhlulQohwah Menurut saya, menulisnya menggunakan bahasa Indonesia yg baik & benar itu malah lebih pintar.
Menormalisasi bahasa campur aduk asing dg Indonesia tdk menjadikannya nampak pintar namun lbh pd malas berpikir (cari diksi yg tepat) & egois (anggap yg lain bisa paham pemikirannya).