jika secercah cahaya yang mendiami kekosongan sel-sel dibalik tengkorakku, lantas di sebelah mana kepingan-kepingan ingatan itu aku simpan? apa di setiap tarik dan hembusnya nafasku? atau hanya di Bandung, aku menyimpannya/?
na,...
maaf aku belum bisa antar kamu ke dokter juga nemenin kamu semalam di puskesmas. banyak minum air putih ya na, kemarin kata terapis aku bahaya😣. cepat sehat na, nanti pulang dari Aceh aku ajak jalan-jalan ke Bandung🤍
baik-baik ya
ya Rabb, jika sedalam ini kau buat untuk menjadi pemicu segala penebusan, buatkan lebih dalam lagi. namun setelah semuanya selesai tapi perasaan itu masih mengakar, izinkan aku untuk
ada yang bias, kepada siapa diksi-diksi itu disuratkan. dalam keseluruhan kisah ini, siapa yang jatuh pada siapa? siapa yang berlari menuju siapa? siapa yang terpilih menjadi inti dari yang kisahkan? siapa pemeran utamanya?
memainkan peran yang beyond the sigma dalam teater bernegaranya, duduk bersama sejatinya kebenaran yang diyakini. jiwanya sangatlah merdeka meski raganya mungkin terpenjara. tidak ada penyesalan, dia menukar kehidupan raganya untuk sebuah kebenaran, hē alētheia athanatos.
Hari ini, Tom divonis 4,5 tahun penjara. Keputusan yang amat mengecewakan bagi siapa pun yang mengikuti jalannya persidangan dengan akal sehat, meski sayangnya tidak mengejutkan.
Selama proses berjalan, berbagai laporan jurnalistik independen dan analisis para ahli telah mengungkap kejanggalan demi kejanggalan dalam dakwaan. Fakta-fakta di ruang sidang justru memperkuat posisi Tom, tapi semua itu diabaikan. Seolah-olah 23 sidang yang telah digelar sebelumnya tak pernah ada. Seolah-olah bukti dan logika tak diberi ruang dalam proses peradilan.
Jika kasus sejelas ini saja bisa berujung pada hukuman penjara, jika seseorang seperti Tom yang dikenal dan terbukti integritasnya di pengadilan, terbuka dan disorot publik perkaranya, masih bisa dihukum semena-mena, maka bayangkan nasib berjuta lainnya yang tak punya akses, sorotan, atau kekuatan serupa.
Vonis hari ini adalah penanda bahwa keadilan di negeri ini masih jauh dari selesai. Demokrasi belum kokoh berdiri. Kita dihadapkan pada keraguan mendasar tentang kredibilitas sistem hukum, dan tentang keberanian negara menegakkan kebenaran. Ketika kepercayaan terhadap proses peradilan runtuh, maka fondasi negara ikut rapuh.
Senin lalu, Tom menyampaikan dalam dupliknya bahwa ia belajar tentang makna kata tawakkal, tentang berusaha sekuat tenaga lalu menyerahkan hasilnya pada Tuhan. Sayangnya hari ini, hasil itu belum berpihak padanya. Tapi ini bukan ujung. Ini satu babak dari perjuangan panjang untuk menghadirkan keadilan yang belum tuntas dan akan terus kita jalani bersama.
Tom dan tim pengacara masih mempertimbangkan respon terhadap putusan ini. Tapi satu hal yang jelas, kita akan terus mendukung penuh langkahnya untuk mencari keadilan sampai titik akhir. Apapun yang akan ia hadapi ke depan, kita terus pastikan bahwa Tom tidak akan pernah berjuang sendirian.
sikap mana yang akan dipilih jika dibuka sebuah kebenaran baru dalam kondisi meyakini sebuah kebenaran lama? apa sebuah iman bisa membedakan benar dan salah? kemudian apa?
apa berbeda secara makna dan definitif antara dunia, bumi, dan alam semesta? apa yang lebih indah dibanding senyuman yang terlintas saat seseorang bertanya "apa hal terindah yang pernah kamu lihat?" di pencarian yang ke berapa harus berhenti untuk bisa menemukannya?
meski jawaban yang didapat hanya akan di dapat saat kematian datang, di situ lah letak menariknya. misteri ini menjadi mesin dinamika interaksi sosial yang ngalor-ngidul bagi penikmatnya, dan diyakini hanya bagi yang memilihnya.