Yuuk Biar Kalian Tahu
Temen gue ikutan lelang rumah bank pertama kalinya.
Rumah 1 lantai di komplek lumayan strategis.
Harga pasaran 600 - 650 juta. Menang lelang 410 juta.
Iklan lelang kelihatan rapi, foto rumah tampak sepi.
Dia seneng banget. Ngerasa untung 200 juta lebih.
Langsung transfer pelunasan. Langsung balik nama Sertifikat (SHM).
Senyumnya hilang di depan pagar rumah.
Dateng ke lokasi buat ambil alih fisik rumah.
Gerbang digembok dari dalam.
Ada jemuran basah, ada motor parkir di teras.
Terus muncul 1 kalimat dari dalam rumah.
"Ini masih rumah kami Pak, kami belum ke mana-mana."
Temen gue kaget setengah mati.
Kira dia salah alamat.
Penghuni lama (debitur macet) jelasin satu-satu:
"Kami masih gugat bank soal utang ini."
"Kami belum terima penetapan eksekusi resmi."
"Lelang ini kami anggap belum final."
"Kalau mau usir, urus eksekusi pengadilan!"
Temen gue pusing: "Bank gak ngurus pengosongan sebelum lelang?"
Petugas bank: "Lelang bank itu jual kondisi as is (apa adanya) Pak. Pengosongan fisik itu tanggung jawab pemenang."
Pelunasan sudah dibayar penuh: 410 juta.
Rumah ada tapi gak bisa dimasuki sama sekali.
Sertifikat (SHM) sudah balik nama atas nama dia, tapi fisik dikuasai orang lain.
Bank cuma kasih Risalah Lelang dan dokumen kepemilikan.
Proses pengosongan paksa via pengadilan butuh waktu dan biaya lagi.
Dia telepon gue panik.
"Rumah lelang gue masih diduduki pemilik lama. Gue gak bisa masuk!"
Gue tanya: "Lo cek kondisi fisik & nanya tetangga sebelum ikut lelang?"
Hening.
Lelang bank bukan jaminan rumah kosong siap huni.
Lelang cuma menjamin kepemilikan legal berpindah ke pemenang.
Pengosongan fisik itu proses terpisah, bukan otomatis pas kunci diserahkan.
Bank & KPKNL selalu pakai klausul "As Is" — jual apa adanya, termasuk beban pengosongannya.
Sertifikat pindah nama bukan berarti kunci otomatis pindah tangan — itu dua hal berbeda.
Sosialisasi aturan ini ke awam? Hampir nol.
Ini yang gak pernah dihitung pemenang lelang pemula:
Rumah "murah" 410 juta, pelunasan sudah keluar penuh.
Biaya permohonan eksekusi pengosongan ke PN + sita eksekusi + jaminan keamanan: 30–80 juta.
Proses tertunda berbulan-bulan karena antrean eksekusi PN, sewa tempat tinggal tetap jalan.
Total kerugian nyata & biaya tak terduga jauh membengkak.
Bedanya: Di awal lo mikir udah untung 200 juta di atas kertas.
Bank angkat tangan.
"Kami jual aset sesuai kondisi apa adanya (as is)."
KPKNL angkat tangan.
"Kami cuma perantara penjualan lelang resmi, eksekusi fisik bukan ranah kami."
Pengadilan Negeri?
"Silakan ajukan Permohonan Eksekusi Pengosongan berdasarkan Kutipan Risalah Lelang, prosesnya ikuti antrean."
Ujung-ujungnya?
Lo yang nanggung sendirian.
Lo yang riset sendirian.
Lo yang bayar biaya legalitas sendirian.
Atau lo yang nyesel sendirian.
RUMUS CEK RUMAH LELANG — 30 MENIT:
1.Survei Fisik: Datangi lokasi SEBELUM bayar jaminan lelang. Jangan modal percaya foto.
2.Tanya Lingkungan: Ketuk pintu / obrol sama tetangga. Masih ada penghuninya gak?
3.Cek Pengadilan: Pastikan rumah gak lagi dalam sengketa/gugatan debitur.
4.Hitung Risiko: Kalau masih dihuni, siapin budget & waktu ekstra buat eksekusi pengosongan PN.
#PropertiLelang #InvestasiProperti #RumahMewah #RumahDijual #PeluangInvestasi #LelangKPKNL #LelangIndonesia #AsetLelang #InfoLelang #PropertiIndonesia #RumahImpian #InvestasiCerdas #PropertyInvestor #RealEstateIndonesia #RumahMurah #CariRumah #PeluangBisnis #InvestasiAman
dalam khutbahnya, Media Wahyudi Askar, Ph.D., berkata:
"mohon sampaikan pesan ini kepada pejabat yang lain yang rakus dan tamak. Silakan angkuh, silakan sombong, silakan berbuat sesuka hati, silakan melakukan apapun yang kalian mau. Silakan cintai harta dengan sangat berlebihan.
tapi kita hanya perlu mengingat hal sederhana bahwa angka harapan hidup Indonesia itu 42 tahun. Ada masanya pejabat siapapun itu akan menjadi mayat. Ada masanya mereka akan menjadi jenazah."
***
setuju dengan pesan itu. Tapi ada yang perlu ditambahkan buat elit-elit yang rakus dan tamak itu:
1. kritik itu bukan musuh kekuasaan, tetapi alarm.
2. kalau alarm terus dimatikan, dilawan, dibungkam, bukan berarti bahayanya hilang, cuma mereka yang ngga dengar sampai semuanya sudah terlambat.
3. karena itu, kalau kritik terus dilawan, yang tersisa untuk mengingatkan penguasa cuma satu: maut.
itu!
Gue baru tau HP gue disadap setelah chat gue sama temen kantor bocor ke orang lain, padahal gue gak pernah share password ke siapa-siapa. Awalnya gue kira kebetulan. Sampe 3 kali kejadian serupa, gue mulai parno. Gue cerita ke Pak Hendra, tetangga gue yang kerjaannya IT security di perusahaan fintech. Dia minjem HP gue 5 menit, terus muka dia berubah.
Ini HP lo udah ke-remote akses dari device lain, dari 2 bulan lalu. Gue speechless. Selama 2 bulan, semua yang gue ketik, gue foto, gue chat kemungkinan kebaca orang lain. Ini 10 hal yang Pak Hendra ajarin buat cek & lindungin HP lo :
1. Cek Aplikasi dengan Akses Accessibility Ini pintu masuk paling umum buat spyware. Aplikasi jahat suka nyamar jadi app biasa tapi minta izin Accessibility, yang artinya dia bisa liat semua yang lo ketik dan sentuh di layar. Cara cek: Settings → Accessibility → lihat app apa aja yang punya akses. Kalau ada nama app yang lo gak inget install, itu red flag.
2. Waspada Kabel Charger di Tempat Umum Ini yang bikin Pak Hendra paling geregetan. Colokan USB di kafe atau bandara bisa dipake buat juice jacking transfer data diam-diam pas lo ngecas. Solusinya gampang: pake USB data blocker, alat kecil yang cuma ngalirin listrik tapi blokir jalur data. Harganya gak nyampe 30 ribu tapi ngelindungin semua isi HP lo. Ini yang dipake Pak Hendra pas dia dinas ke luar kota.
3. Cek Log Aktivitas Akun Google Google nyimpen history device apa aja yang pernah login ke akun lo, lengkap sama lokasi & waktu. Cara cek: https://t.co/prrv2BNwfz → Security → Your devices. Kalau ada device asing yang lo gak kenal, langsung logout paksa dari situ juga. Buat proteksi ekstra, Pak Hendra saranin pake security key fisik buat login akun penting.
4. Profil MDM/Konfigurasi Misterius Buat pengguna iPhone: cek Settings → General → VPN & Device Management. Kalau ada profil konfigurasi yang gak lo pasang sendiri, itu bisa jadi cara orang mantau HP lo dari jarak jauh, termasuk baca chat & lokasi real-time.
5. Baterai Boros Tiba-tiba & HP Panas Padahal Nganggur Spyware itu jalan terus di background, nyedot baterai & bikin HP panas walau lo gak lagi make. Kalau tiba-tiba baterai lo boros drastis tanpa sebab jelas, itu bukan cuma "baterai udah tua".
6. Cek Izin Mikrofon & Kamera yang Aktif Terus Di HP terbaru biasanya ada indikator titik hijau/oranye pas mic atau kamera lagi dipake. Kalau titik itu muncul padahal lo gak la
7. Jangan Asal Install APK dari Luar Play Store APK bajakan aplikasi berbayar atau mod itu sarang spyware paling gampang. Orang nitipin malware di dalamnya, dan begitu lo install, dia dapet akses penuh ke HP lo.
8. Aktifin Two-Factor Authentication di Semua Akun Penting Meskipun password lo bocor, kalau 2FA aktif, orang tetep butuh kode OTP buat masuk. Ini lapisan pertahanan kedua yang paling murah tapi sering diremehin.
9. Restart HP Secara Rutin Kedengeran sepele, tapi banyak spyware level rendah yang reset begitu HP di-restart karena mereka nempel di memori sementara, bukan terinstall permanen. Restart mingguan itu bantu bersih-bersih otomatis.
10. Factory Reset Kalau Udah Yakin Kena Kalau udah cek semua di atas dan masih curiga, jalan paling aman ya factory reset total, terus ganti semua password dari device lain yang bersih. Jangan pulihkan dari backup lama itu bisa balikin spyware-nya lagi.
Jujur, dari 10 hal di atas, yang paling gampang & paling sering kelewat itu poin 2: charger di tempat umum. Soalnya kita gak selalu bisa ngecek app satu-satu tiap hari, tapi kita hampir tiap hari numpang ngecas di luar kantor, mall, bandara. Makanya Pak Hendra selalu bawa USB data blocker di dompetnya. Bentuknya kecil banget, harganya juga murah, tapi fungsinya penting: mastiin HP lo cuma nyerap listrik, bukan data.
cc : ngulikhp
"Kenapa kita butuh sholat 5 waktu dalam sehari?"
Karena, gaada yang mau ketemu kita lima kali dalam sehari, dalam keadaan senang, sedih, patah, putus asa, patah hati atau kuat kecuali Allah SWT.
kenapa rezeki dia lancar? karena dalam setiap doanya selalu menbaca:
“Ya Allah, Ya Rahman Ya Rahim, jadikanlah setiap langkahku adalah ibadah. Setiap usahaku adalah rezeki.”
Setiap ujianku adalah sebagai penghapus dosa. Karuniakanlah kepadaku rezeki yang berlimpah ruah seperti air zamzam yang senantiasa mengalir. Aamiin
Sekali lagi aku merayumu Ya Allah, tolong ubahlah takdirku menjadi takdir yang baik serta rubahlah takdirku menjadi seorang yang beruntung dalam segala hal..
amalkan baca
"inna fatahna laka fathan mubina" sebanyak 9 kali every morning kalau mau murah rezeki, alhamdulillah rezeki job ngga pernah stop after baca ayat ini 🫶🏻🤍
tiap pagi sholat shubuh, sholat dhuha 2 rakaat, doa nabi yusuf (40x), Hasbunallah wanikmal wakil nikmal maula wanikman nasir (33x), Ya Fattah ,Ya Razzaq (100x)
Insyaallah hari nya tenang, Allah mudahin walaupun ada kendala, tetep kerasa banget kalo Allah tolong🥹🤍
Kalau anak saya, jelas tidak mau daftar ulang karena bayar UKT 21 juta. Kuliah beda kota pula. Mending bayar 25 juta dikampus swasta sebelah rumah yang akreditasinya A juga.
Catatan: Pada waktu dia masuk SMA dan memutuskan belajar dengan baik agar bisa lolos SNBP itu UKT di PTN yang dia bidik adalah 2juta/semester. Tau tau waktu dia lulus jadi 21 juta. WTF???
Dari sisi ini saja sudah jelas Pemerintah tidak konsisten memelihara kepercayaan siswa.
FINANCIAL SYSTEM
1. Rekening Utama (Gaji Masuk)
Bank Central Asia (BCA) / bank utama lo
Fungsi: buat nerima uang + distribusi
2. Rekening Simpan (Nabung + Dana Darurat)
Pilih (Bank Jago atau SeaBank)
Aturan:
Auto transfer di awal gajian
Target: minimal 20-30% gaji
Jangan disentuh kecuali darurat
3. Investasi (Naikin duit lo)
Bibit → reksadana (buat yang masih basic)
Stockbit → saham (kalau udah ngerti)
Aturan:
Mulai dari kecil (100-500k/bulan)
Konsisten > besar tapi jarang
4. Rekening Operasional (Hidup Sehari-hari)
Bisa tetap di BCA / pisahin rekening kedua
Isi: 50-60% dari gaji
Dipakai untuk:
makan
transport
kebutuhan harian
Kalau habis = tetap atur pengeluaran
biar lo gak ambil uang dari tempat lain
5. Jajan (E-Wallet Maks 1-2)
ShopeePay atau GoPay
Aturan:
Isi secukupnya (misal 500k/minggu)
Jangan auto top-up dari rekening utama
10 Doa Harian Yang Sering
Kita Lupakan
1. Bangun tidur → Alhamdulillahilladzi ahyana ba'da ma amatana wa ilaihin nusyur.
2. Sebelum tidur → Bismika Allahumma amutu wa ahya
3. Doa di pagi hari → Allahumma bika ashbahna wa bika amsaina wa bika nahya wa bika namutu wa ilaikan nusyur.
4. Masuk kamar mandi → Allahumma inni a'udzubika minal khubutsi wal khaba'its.
5. Sebelum makan → Bismillah / Bismillahi awwalahu wa akhirahu.
6. Setelah makan → Alhamdulillahilladzi ath'amani hadza wa razaqanihi min ghairi haulin minni wa la quwwah.
7. Keluar rumah → Bismillahi tawakkaltu 'alallahi la hawla wala quwwata illa billah.
8. Masuk rumah → Allahumma inni as'aluka khairal mawliji wa khairal makhraj.
9. Naik kendaraan → Subhanalladzi sakhkhara lana hadza wa ma kunna lahu muqrinin.
10. Keluar kamar mandi → Ghufranaka. Alhamdulillahilladzi adzhaba 'annil adzaa wa 'aafani.
Semalam aku mendengar satu podcast yang sangat ngena.
Hidup sebaiknya berpaksikan waktu sholat.
• Bekerja setelah Subuh
• Makan siang sebelum Zuhur
• Makan malam sebelum Magrib
• Tidur setelah Isya
• Punya waktu untuk diri sendiri sebelum Subuh dengan qiyamul lail
• Menikmati ketenangan pagi saat matahari terbit
Ketika hidup berpaksikan sholat, bukan hanya waktu yang menjadi lebih teratur, tetapi hati juga terasa lebih tenang.
"Jangan selipkan sholat di sela-sela kesibukanmu. Selipkan kesibukanmu di antara waktu-waktu sholat."
Aku pengemudi taksi online. Biasa ambil shift malam. Minggu lalu, sekitar pukul 11 malam, aku menjemput seorang pria tua. Ia masuk ke mobil dan berkata, “Jangan lihat tujuan di aplikasi. Tolong antar saya ke lima tempat malam ini. Saya bayar 1 juta rupiah. Tunai. Tapi kamu jangan tanya2 kenapa, sampai semuanya selesai.”
Ia menyerahkan lima alamat.
Tempat pertama: sebuah rumah di pinggiran kota. Ia tidak turun. Hanya duduk di mobil, menatap rumah itu sekitar sepuluh menit. Air matanya mengalir diam-diam. “Baik. Ke tempat berikutnya.” Aku pun mengemudi.
Tempat kedua: sebuah sekolah SD. Gelap. Sepi. Ia turun, berjalan ke taman bermain, duduk di ayunan. Dua puluh menit di sana. Kembali ke mobil dan berkata pelan, “Saya mengajar di sini. 43 tahun. Kenangan terindah dalam hidup saya.”
Tempat ketiga: sebuah kafe tua. Ia masuk, memesan kopi, duduk sendirian di pojok. Kopi tidak diminum. Hanya duduk dan memandangi ruangan. Lima belas menit. Saat kembali ia berkata, “Saya dan istri saya kencan pertama di sini. Tahun 1967.”
Tempat keempat: pemakaman. Ia berjalan ke sebuah nisan. Berdiri di sana. Berbicara pelan—saya tak bisa mendengar. Tiga puluh menit. Saat kembali, matanya merah. “Istri saya. Hari ini tepat tiga tahun.”
Tempat kelima: rumah sakit. Ia minta aku parkir dan menunggu. “Ini yang terakhir.” Ia menatap aku. Tetap duduk di mobil.
“Sekarang saya akan beri tahu alasannya. Saya kanker stadium empat. Mungkin tinggal hitungan minggu atau hari. Malam ini saya ingin melihat seluruh hidup saya sekali lagi. Sebelum saya tak bisa lagi.” Aku langsung menangis diam2 di kursi pengemudi.
“Rumah tadi—itu tempat saya membesarkan anak-anak.
Sekolah—tempat saya menemukan tujuan hidup.
Kafe tadi—itu tempat saya jatuh cinta.
Pemakaman—tempat saya mengucap selamat tinggal.
Dan di sini… rumah sakit. Malam ini saya akan masuk. Lantai perawatan pasien terminal yang tunggu akhir. Saya tidak akan pulang lagi.”
Ia menyerahkan uang 1 juta rupiah. “Terima kasih sudah mengantar saya melewati hidup saya. Kamu orang tak dikenal yang berbuat baik pada saya. Saya ingin malam ini terasa hangat. Kamu membuatnya hangat.”
Aku menolak. “Saya tidak bisa menerima ini.” Ia bersikeras. “Tolong. Tidak ada yang bisa saya warisi. Anak saya sudah lama tidak bicara dengan saya. Teman sudah tak ada. Kamu memberi saya tiga jam kebaikan. Itu lebih berharga dari 1 juta rupiah.”
Ia turun. Mengambil koper kecilnya. Lalu berbalik. “Siapa namamu?” “Mariono.” “Terima kasih, ya. Kamu memberi pengalaman baik terakhir dalam hidup saya.” Ia berjalan masuk ke rumah sakit. Aku duduk terhenyak di mobil. Terisak. Hampir satu jam.
Keesokan harinya aku kembali. Menanyakan namanya. “Pak Sudarsono. Kamar 412.” Aku membawa kue sedikit. Mengetuk pintu. Ia tersenyum ketika melihat aku.
“Mariono. Kamu kembali.”
“Saya tidak bisa membiarkannya begitu saja. Apa Bapak baik-baik saja?”
“Sekarat. Tapi tadi malam saya sempat melihat hidup saya sekali lagi. Jadi ya… saya baik-baik saja.”
Kami berbicara dua jam. Tentang istrinya. Murid-muridnya. Tentang hidup yang telah ia jalani. Anak yang tidak mau menemuinya lagi; "Saya terlalu keras, katanya." Aku datang setiap hari selama dua minggu. Membawakan kopi. Membacakan berita. Kadang hanya duduk diam. Ia menceritakan segalanya—penyesalan, sukacita, momen yang ingin ia ulang.
-cont-