"oh, nanti sekalian beli es krim deh. panas begini enaknya makan es krim." dengan begitu dirinya beranjak dari tempatnya membuka pintu kamar kemudian bersiap untuk memasang sepatu di depan. sudah saatnya berangkat.
malam ini ku sendiri, tak ada yang menemani. yang ia habiskan malam ini—entahlah barangkali mungkin karena teman-temannya sibuk berpacaran, jadi ia yang jomblo ini jadi tidak tahu harus melakukan apa untuk menghabiskan waktu selain bermain dengan adik-adiknya di rumah.
“nice, sudah ganteng.” ia menyisir rambutnya rapi di hadapan cermin tidak lupa bergaya setelah memastikan bahwa dirinya telah rapi. jemarinya meraih parfume yang berada tak jauh darinya, menyemprotkan beberapa kali ke pakaiannya. srepet srepet srott srott.
Satu jam sudah ia duduk termenung di depan pintu. Bukan karena tak memegang kunci ataupun hal lainnya; ia hanya sedang tidak ingin untuk masuk ketika pikiran tengah kacau seperti ini. Banyak sekali yang beberapa kali ini hantui pikirannya tak beraturan. Terutama perihal ayahnya.
orang tuanya telah tiada. Namun, bila fakta mengatakan yang sebaliknya seperti ini—haruskah ia coba dekati sang ayah secara perlahan untuk memperbaiki hidupnya? Ia tak masalah apabila sang ayah tak menerimanya. Namun setidaknya ia harus lakukan kewajiban yang sudah ia tinggal
ㅤ
ㅤㅤ❱❱ㅤ𝗛𝗔𝗣𝗣𝗬 𝗕𝗜𝗥𝗧𝗛𝗗𝗔𝗬!
ㅤㅤㅤㅤ@sgu_yeonjun
ㅤㅤㅤㅤSpring 14th.
Wishing you a day filled with happiness and a year filled with joy. We give you 15⭐ as a gift for you.
ㅤ
Mau berkata mana ada anak muda yang habiskan waktu senggangnya tuk urus banyak adik yang di rawat oleh Sang Ibu—tapi disinilah Junhui berada, tengah duduk menemani adik-adiknya bermain, bersanda gurau, tawa yang mengisi menambah cerah hari minggunya; bohong, tidak terasa cerah
"Jangan main terlalu jauh." Ujarnya pada mereka yang tengah sibuk bermain. Walau atensi tak ia berikan sedikitpun, ia cukup percaya dengan mereka yang akan selalu dengarkan perkataannya. Mau bagaimanapun, Junhui terkadang memberi mereka jajan, jadi ada sedikit hubungan simbiosis