Dari rezim ini kita belajar:
1. Judol bisa dibasmi: buktinya Mandiri bisa blok rekening pendemo Pati atas perintah aparat
2. Bangunan sekolah bisa distandardisasi, sekolah rusak bisa segera renov: buktinya bangunan Kopdes bisa berdiri sampe pelosok negeri
3. Gaji nakes, guru, dan dosen bisa lebih sejahtera: buktinya ribuan karyawan SPPG bergaji di atas mereka
4. Jumlah kriminal di Indonesia bisa berkurang signifikan, kasus kriminal lebih cepet kelar: buktinya jumlah aparat saat demo sebanyak itu
Kita jadi tau kalo kita bisa, cuma mereka aja yang nggak mau😊
Kesimpulannya: kebobrokan memang sengaja dipelihara buat meraup suara di pemilu😊
Allah will literally sit you down and break you to humble you, then will isolate you to build you.
Then will give you back everything ten fold to prove to you He's real and everything happens for a reason.
Manifesting ucapan adalah doa🌻✨
“ya Allah, jadikanlah segala sesuatu yang sulit menjadi mudah, yang tampak mustahil bagi manusia menjadi nyata, yang jauh menjadi dekat, yang belum jelas menjadi pasti. ya Allah aku menggantungkan segalanya padamu dan aku belum pernah kecewa dalam memohon kepadamu.”
yaaa Allah look at me, hambamu yang cantik ini ga pernah panik because i believe Allah maha rich. yaa Allah jadikan aku kaya raya, tajir melintir, karir darderdor gacor slebeww, saldonya unlimited, hidupnya berkah kadang di atas kadang di mekkah yaaaa Allah...
Guys, gue baru dengerin obrolan Vincent Verhaag dan Jedar di podcast dan ada beberapa hal yang bikin gue diem sebentar.
Bukan karena dramatis.
Tapi karena beda dari yang biasanya gue denger dari pasangan selebritis.
Jedar bikin "pasal" buat rumah tangganya.
Dan Vincent accept dan nurutin semua itu
Isinya antara lain kalau aku marah kamu sabar. Kalau aku diam kamu harus peka.
Kalau aku salah, kamu minta maaf lebih dulu.
Di luar konteks kedengarannya satu pihak banget. Dan Vincent sendiri ngakui "agak NPD ya istrinya."
Tapi yang menarik dia tetap accept.
Bukan karena takut.
Tapi karena dia baca pasalnya, setuju, dan nganggap itu bagian dari komitmen yang dia pilih.
Dan pasal yang paling gue suka?
Pasal 5
"Kamu boleh sukses setinggi langit.
Tapi pulangnya tetap ke aku.
Karena aku itu rumah, bukan alamat."
Tapi yang paling bikin gue mikir bukan pasalnya.
Tapi empat hal yang Jedar tetapkan sebagai garis merah sejak sebelum nikah dan ini nggak ada kompromi, nggak ada diskusi kalau udah kejadian.
Narkoba cerai.
Selingkuh cerai, harta jatuh ke istri.
Judi cerai.
KDRT cerai, harta dan hak asuh ke istri.
Dan Vincent setuju bukan cuma di mulut.
Tapi masuk ke perjanjian pranikah.
Tertulis.
Legal.
Bahkan untuk El Barak anak Jedar dari pernikahan sebelumnya yang secara hukum bukan tanggung jawabnya Vincent masukin ke perjanjian bahwa dia akan tanggung jawab sama seperti anak kandungnya sendiri.
Dan dalam keseharian ini bukan cuma omong kosong.
Empat tahun menikah.
Vincent bilang dia nggak pernah keluar malem tanpa istri.
Nggak minum alkohol.
Bukan karena dilarang tapi karena dia sendiri yang ngerasa "what am I doing here" setiap kali nyoba.
"My target of having fun is at home."
Dan waktu mereka sempat di titik paling berat baru nikah, COVID, uang hilang hampir Rp10 miliar kena penipuan, bayi baru lahir, susu nggak keluar karena istri stres mereka nggak sampai ke titik "mendingan pisah."
Mereka cuma jadi jauh sebentar.
Lalu balik lagi.
Yang gue pelajarin dari cerita ini:
Bukan soal pasalnya yang menguntungkan satu pihak.
Bukan soal siapa yang lebih dominan dalam rumah tangga.
Tapi soal satu hal yang jarang banget ada di pasangan manapun
Aturan main yang jelas, disepakati dari awal, dan dipegang berdua.
Banyak rumah tangga yang hancur bukan karena ketiadaan cinta tapi karena ketiadaan kesepakatan soal hal-hal yang nggak bisa dikompromikan.
Jedar dan Vincent dengan semua keabsurdan pasal-pasalnya setidaknya tahu persis garis merahnya di mana.
Dan Vincent tahu persis konsekuensinya kalau dia langkahi.
Menua itu wajib.
Bosen itu haram.
Gampang diucapkan.
Susah dijalankan.
Tapi kalau lo udah nentuin dari awal bahwa bosan bukan pilihan bukan karena romantis, tapi karena sadar bahwa lo yang tua bareng orang itu, bukan anak-anak mungkin persepsinya beda.