Juni tahun depan, 2027.
Di waktu yang sama seperti sekarang, kamu akan hidup dalam jawaban dari doa-doa yang hari ini masih kamu panjatkan. Kamu akan berada di tempat yang dulu hanya ada dalam mimpi. Hidupmu akan lebih indah, lebih tenang, dan lebih berkelimpahan dari yang bisa kamu bayangkan saat ini.
Ucapkan ini dua kali:
"Aku akan sampai di sana."
"Aku akan sampai di sana."
Percayai prosesnya.
Lalu kirimkan pesan ini untuk dirimu sendiri.
Jumlah sarjana di sini tuh sedikit banget. Kondisi susah cari kerja buat lulusan sarjana di sini bukan karena inflasi pendidikan, tapi kekurangan lapangan kerja formal. Kenapa kurang lapangan kerja formal? Nah itu yg harus digali. Gausah impor diskursus yg ga sesuai sama realita.
Cara ngatasin ga bisa tidur karena overthinking secara ilmiah ada sepuluh!
1. Jgn maksa diri utk tidur → klo udh 20–30 menit belum ngantuk, bangun dulu & lakukan aktivitas santai sampai ngantuk dateng lg
2. Tulis isi pikiran sebelum tidur → coba journaling deh dg nulis kekhawatiran & tugas2 besok biar otak gak terus muter2
3. Bangun di jam yg sama tiap hari → bantu ngestabilin jam biologis tubuh & kualitas tidur
4. Kurangi layar HP sebelum tidur → ngurangin stimulasi mental yg bikin otak tetep aktif.
5. Stop kafein minimal 6–8 jam sebelum tidur
Padahal jumlah lulusan pendidikan tinggi di Indonesia cuma 11% (data terbaru), jauh di bawah rata-rata OECD (hampir 50%), tapi udah bikin ‘inflasi’ gelar. Ini tandanya lowongan pekerjaan emang se-sedikit itu kah?
gausah ajarin cewek utk kuat dan sabar
lo gaakan pernah tau rasanya lagi rajin rajinnya solat, lagi semangat semangatnya ibadah, lagi enak enaknya punya ritme beraktifitas
besoknya haidh💔💔💔💔💔💔💔💔
bukan batubara nipis stocknya yaa tapi ini terjadi karna konsekuensi langsung dari salah urus (mismanagement) kebijakan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) batu bara tahun 2026 oleh pemerintah.
Level paling tinggi dari rasa tenang dalam hidup mungkin adalah ketika hati sampai pada fase, "wa uffawidhu amrii ilallaah" (aku menyerahkan urusanku kepada Allah).
Bukan karena semua masalah telah selesai. Bukan karena hidup sudah berjalan sesuai keinginan. Justru sering kali kalimat itu lahir setelah lelah mencoba, setelah panjangnya penantian, setelah banyak hal yang berada di luar kendali kita. Lalu hati mulai memahami bahwa tidak semua hal harus dipaksakan untuk dimengerti, tidak semua jalan harus dipastikan ujungnya sebelum dilalui.
Bukankah banyak kegelisahan muncul karena kita ingin mengendalikan sesuatu yang memang bukan bagian kita untuk dikendalikan? Kita ingin tahu kapan doa akan terkabul, kapan pertolongan datang, kapan cerita ini berubah menjadi lebih baik. Padahal ada bagian yang memang hanya bisa diserahkan kepada Allah.
Dan ketika hati benar-benar belajar menyerahkan urusannya kepada-Nya, ada ketenangan yang sulit dijelaskan. Bukan ketenangan karena sudah memiliki semua jawaban, tetapi ketenangan karena percaya bahwa Allah memiliki jawaban terbaik. Sejak saat itu, kita tetap berikhtiar, tetap berdoa, tetap melangkah, namun tidak lagi dibebani oleh hal-hal yang memang berada di luar kuasa kita.
"Wa uffawidhu amrii ilallaah." Semoga hati kita sampai pada titik itu. Titik ketika kita tidak lagi sibuk mempertanyakan setiap takdir, melainkan yakin bahwa Allah sedang mengatur semuanya dengan cara yang paling baik.
Gambar 4 ini obat hati banget 🥺 "Wa uffawidhu amrii ilallaah" = titik pasrah tapi kuat. Semoga kita semua sampai di fase itu
Aku mau kasih contoh nyata senyata-nyatanya kalo skill itu sangat di hargai di luar negri di banding di indonesia, aku kerjanya microstocker, kerja dari rumah, jualan gambar clip-art doodle2 lucu gitu.
Dibawah ini aku kasi contoh gambar yang aku bilang low effort untuk bikin nya (kalian yang desainer grafis tau lah).
Gambar ini di beli orang luar dan aku dikasi komisi 1.500 dolar, itu harga komisinya doang ke aku, harga aslinya si bule beli lebih dari itu.
Kira2 gimana kalau gambar kaya gitu di indonesia? boro-boro dibayar murah, paling di bajak :)
Ini valid banget loh. Temenku di US kerja di kantor pos, tugasnya cuma sortir surat, kerjaan fisik dengan low skill. Tapi di sana dia bisa beli rumah, mobil, dapet jaminan kesehatan, & anak sekolah gratis.
Di Indonesia? Kerja fisik setengah mati sampe tua kayak gini, boro-boro aset, buat makan besok aja masih mikir. Systemic failure-nya nyata.
kehidupan kerja
otw:
“bismillahi tawakaltu”
dikantor:
“MONYET NI ORANG ORANG BIKIN EMOSI AJA, MASI MENDING GA GUA INJEK LEHERNYA”
pulangnya:
“alhamdulillah”
repeat 25x sebulan
ciwi ciwi yang masih bingung tentang haidh, sok baca ini yaah!
nih gue kumpulin hukum fiqh berkaitan haidh jadi satu thread buat kalian~
1. cara menentukan selesai haidh
Kita ngalamin yang namanya Inflasi Pendidikan.
Gelar S1 zaman now itu nilainya udah setara sama ijazah SMA zaman dulu karena hampir semua orang bisa kuliah.
Efeknya, HRD jadi kebingungan ngefilter lautan sarjana ini. Solusinya? Mereka nyiptain rintangan ala Ninja Warrior atau Hunger Games (Online Test berlapis, FGD/LGD, presentasi kasus, psikotes berjam-jam).
Proses ribet itu berevolusi bukan karena kerjaannya butuh skill yang bagus, tapi semata-mata buat nge-eliminasi ribuan kandidat dengan cepet aja. 🤓
Supply and Demand buat lapangan pekerjaan disini juga jomplang banget cik. Supply tenaga kerja di Indo kata GIBRAN membludak ruah, sedangkan lapangan kerjanya seret.
Dampaknya? Karena tahu yang butuh kerja itu ada jutaan orang, perusahaan seenaknya melempar beban biaya penyeleksian ke pelamar. 👹
Kalo dibandingin di US atau di Eropa mah proses rekrutmen rata-rata straight to the point. Kirim CV/Resume - Screening (via telepon) - Interview (1 atau 2 kali sama user/manager) - Offering.
Tes aneh-aneh berjam-jam atau MCU sampai disuruh puasa dan bugil itu jatuhnya red flag dan bisa kena tuntutan pelanggaran privasi malahan di US/Eropa. KECUALI lu daftar masuk militer, kerja di lab berbahaya, atau buruh fisik berat.
Di Indo? Daftar staf admin entry level aja MCU-nya kayak mau dikirim dinas ke daerah konflik 💀