Kata tmnku, org yg nyebut dirinya VB itu artinya botik yg gamau disangka ngondek, sedangkan klo VT tu top yg rada2 ngondek, trus klo Side itu bukannya gamau HS, tp cuman pilih2 aja, klo nemu yg cakep juga diembat, emg iya?
50 shades of gay men in Ibukota yang pernah gw temui.
1. The Executive Signal
Habitat: SCBD, Sudirman, airport lounge.
Mode: silent dominance.
Chat pattern: “Available tonight?”
No emoji. No basa-basi.
Energy: high income, low vulnerability.
Bertemu itu menggembirakan. Tapi karena bertemu, kita mengalami perpisahan.
Memiliki itu menggembirakan. Tapi karena memiliki, maka kita akan mengalami kehilangan.
Setiap kegembiraan adalah pintu yang entah kapan, mau nggak mau bikin kita bertemu kesedihan.
HEII! KALIAN JANGAN PATAH SEMANGAT!
ada yang umur 25 bisa gaji 20 juta, ada yang umur 25 bisa bikin rumah atau usaha, ada yang umur 25 di ewe 5 orang, ada yang umur 25 baru lulus kuliah s1.
ITU PENCAPAIAN KALIAN, JANGAN BANDINGKAN DENGAN YANG LAINNN!
2026 kesuksesan buat kalian
Baru tau ternyata kalo ditetapkan jadi “bencana nasional” akan terpaksa ada audit besar-besaran penyebab kerusakan, struktur tata ruang & izin lingkungan sampe siapa yang menyebabkan kerusakan harus dicari😌 Lalu smua proyek milyaran dolar jg harus dihentikan😌 PANTESAAAANN😌😌😌
Seks itu bukan cuma soal tubuh, tapi pertukaran energi paling sakral. Saat berhubungan sex, otak masuk ke gelombang theta, batas diri melebur, dan kita menyerap vibrasi dari pasangan kita: energi mereka, keberuntungan mereka, trauma mereka, insecurity mereka.
Makanya setelah tidur sama seseorang, kadang tiba-tiba muncul perasan anxious, capek, clingy padahal biasanya chill, atau bisa jadi lebih glow up, kalau dia energinya match sama kamu, itu namanya resonansi energi.
Seks yang sakral, punya ikatan spiritual, bisa lifts you up, terjadi pertukaran energi yang powerful. Makanya seks dengan pasangan yang aligned dan penuh trust, bisa bikin kamu glow up, produktif, dan grounded.
Seks yang purely fisik, rasanya fun, tapi energinya dangkal. Ciri-cirinya after-sex muncul rasa kosong, gak ada bonding, energi menurun, hati jadi hambar. Ini kayak makan junk food, enak, tapi gak sehat buat kamu, mentally, physically, and spiritually. Dan bisa merusak vibrasi kalau berlangsung lama. Jangan heran kalau hidupmu makin kacau dan manifestasi makin lama terwujudnya.
Banyak yang fun sana sini buat nutupin luka emosionalnya kaya rasa kesepian, hampa, atau butuh pelarian. Padahal klo dilakuin terus-terusan, otak lama2 percaya klo kita cuma pantas buat hal2 kayak gitu aja. Dan di titik itu, sense of self lu mulai hancur
Kemanakah hubungan sesama lelaki ini berakhir?
I promise, ini akan menjadi Tweet terakhir gw…pada hari ini…hehehe…
Kadang gw mikir gitu. Pas lagi sendirian di kamar kayak malem ini. Pas liat foto lama. Atau pas denger lagu yang dulu pernah dia nyanyiin sambil nyetir.
Gw pernah cinta habis-habisan. Yang pertama kali itu… nyaris lima tahun. Gw pikir, “Ini dia orangnya.” Udah mikir for ever. Udah kenalin ke temen, udah mulai bayangin rumah kecil dengan dapur terbuka dan dua cangkir kopi tiap pagi.
Eh, ditinggal. Perepewi.
Masih keep in contact, cuma “udah gak kayak dulu” dan perlahan jadi asing.
Kayak semua memori itu bukan milik gw lagi, tapi milik orang yang udah gak balik.
Lalu datang yang ketiga (yang kedua, skip dulu deh). Laki-laki Jerman. 11 tahun. Serius. Dewasa. Stabil.
Kami lewati banyak hal. Dari LDR, pindah-pindah kota, sampai bikin plan untuk civil partnership. Waktu itu mikir, “Oke. Mungkin cinta gak instan. Tapi kalau dijaga, bisa sampai.”
Tapi hidup gak sesimpel timeline. Gw pulang ke Indonesia. Dan perlahan, kita berdua sadar, ada hal-hal yang gak bisa dipaksain meski masih ada cinta. Ada jarak yang terlalu diam. Terlalu kaku untuk diteriakin.
Jadi kalau lo tanya, “Kemanakah hubungan sesama lelaki ini berakhir?”
Gw gak punya jawaban pasti. Tapi yang gw tahu, kadang hubungan itu gak berakhir. Kadang dia berubah bentuk. Dari pelukan jadi kenangan. Dari rencana jadi pelajaran.
Hubungan sesama lelaki seringkali gak dapet peta. Gak ada “parent talk”, gak ada ucapan “selamat” dari keluarga besar, gak ada template tentang bagaimana menjalani dan mengakhirinya.
Yang ada cuma kita.
Berdua.
Ngira-ngira.
Saling nebak.
Kadang saling nyakitin.
Tapi juga…
Saling menyembuhkan.
Sekarang?
Gw masih percaya cinta.
Tapi gw juga gak ngejar “akhir yang pasti” lagi.
Gw ngejar koneksi yang jujur.
Yang hadir tanpa pura-pura.
Yang mau belajar bareng.
Yang tahu kalau hubungan ini gak harus “berakhir di pelaminan” untuk tetap valid.
Karena buat gw, cinta itu bukan soal kemana dia berakhir.
Tapi tentang siapa yang tetap bertahan di tengah semua kemungkinan gagal… dan tetap bilang, “I choose you.”
Hari ini gw cukupkan.
Besok kita omongin lagi.
lgbt kerja➡️lgbt pulang➡️lgbt tidur➡️lgbt berusaha survive menghidupi dia dan keluarganya➡️lgbt just having fun with their loved ones
Orang kita: merugikan tau🤬🤬